5 Pekerjaan yang Paling Banyak Dicari di Bidang Sustainability

Dinar | Rabu, 30 September 2026 14:34

Reporter : Mutia Nugraheni

Untuk kamu yang sedang ingin mencoba bidang baru atau baru lulus dan mencari bidang pekerjaan yang menjanjikan, green jobs bisa jadi pilihan.

DREAM.CO.ID - Masalah lingkungan, keberlanjutan atau sustainability serta gerakan pelestarian sudah jadi isu global dan langsung berdampak pada kebijakan. Sejumlah perusahaan lokal dan dan juga global juga sudah menganggap isu tersebut harus ditangani oleh para profesional. Hal ini kemudian memunculkan banyak sekali permintaan sumber daya manusia (SDM) untuk menangani masalah sustainability. Banyak yang mengistilahkannya sebagai green jobs.

Green jobs sendiri, dikutip dari Kemnaker.go.id, adalah jenis pekerjaan layak yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi dalam melestarikan, memulihkan, dan melindungi lingkungan serta mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Sejumlah perusahaan pun membuat posisi khusus untuk green jobs ini. Permintaannya di bursa kerja nasional maupun global sangat tinggi. Untuk kamu yang sedang ingin mencoba bidang baru atau baru lulus dan mencari bidang pekerjaan yang menjanjikan, green jobs bisa jadi pilihan. Untuk latar belakang pendidikan, sebenarnya bisa dari berbagai jurusan seperti Teknik Lingkungan, Pertanian yang fokus pada energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan analisis kualitas lingkungan. Juga bisa dari lulusan Ekonomi dan Bisnis dengan fokus pengembangan ESG (Environmental, Social, and Governance).

Lulusan ilmu Sosial dan Humaniora, seperti Ilmu Komunikasi, politik, antropologi, dan sosiologi juga diperlukan untuk menyusun kebijakan publik/ perusahaan, kampanye kesadaran lingkungan, hingga membuat program corporate social responsibility (CSR).

Penasaran apa saja pekerjaan yang paling dicari di bidang sustainability? Dikutip dari Enable Green, berikut ulasannya.


1. Chief Sustainability Officer (CSO)
Di antara berbagai pekerjaan di bidang keberlanjutan atau sustainbility yang paling banyak dicari, yaitu Chief Sustainability Officer (CSO) atau bisa juga dengan istilah lain. Posisinya sudah dalam C-Level atau setingkat eksekutif, dan saat ini sangat banyak dicari oleh berbagai perusahaan.

Tanggung jawab utama CSO ini adalah mendorong strategi ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola yang baik), inisiatif keberlanjutan, serta kepatuhan terhadap regulasi, sekaligus memastikan perusahaan memenuhi komitmen lingkungan dan sosialnya. CSO memainkan peran krusial dalam menggerakkan inisiatif keberlanjutan yang melibatkan jajaran eksekutif, dewan direksi, dan operasional.

Mereka bertanggung jawab mengedukasi para pemangku kepentingan, mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi inti perusahaan, serta membentuk identitas ESG perusahaan. CSO juga mengawasi "branding" sustainability perusahaan, manajemen reputasi, dan dampak jangka panjang, sambil memastikan organisasi sejalan dengan persyaratan regulasi dan ekspektasi pasar.

Permintaan akan CSO terus meningkat di berbagai industri, khususnya sektor keuangan, energi, teknologi, dan barang konsumsi. Perusahaan di Eropa dan Inggris merekrut CSO untuk menghadapi perubahan regulasi keberlanjutan dan mendorong perubahan di dalam organisasi. Menurut survei 2023, The Conference Board melaporkan bahwa 68% perusahaan telah menunjuk CSO atau posisi setara dalam lima tahun terakhir, yang menegaskan semakin pentingnya peran ini secara strategis.

 

2 dari 5 halaman

2. Manajer Corporate Social Responsibility (CSR)

Bidang CSR ini mungkin sudah cukup populer dan cukup menjanjikan. Terutama jika mengambil bidang CSR dengan lebih fokus hingga level manajer. Untuk Manajer CSR ini tugas utamanya adalah mengembangkan dan melaksanakan program keberlanjutan serta dampak sosial yang selaras dengan nilai-nilai perusahaan dan komitmen ESG. Peran ini memastikan bisnis menjalankan praktik etis, meningkatkan hubungan dengan masyarakat, dan memenuhi standar tata kelola perusahaan yang baik.

Posisi Manajer CSR umumnya ditemukan di perusahaan berskala kecil dan perusahaan yang baru memulai penerapan program sustainability mereka. Perusahaan-perusahaan ini sering kali mengandalkan tenaga profesional CSR untuk meletakkan dasar bagi strategi keberlanjutan mereka, menyusun kebijakan dan inisiatif yang selaras dengan prinsip ESG, termasuk pengurangan jejak karbon dan proyek dampak sosial. Juga memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang terus berkembang.

Manajer CSR sangat dibutuhkan di berbagai sektor, mulai dari korporasi besar hingga industri ritel dan manufaktur. Seiring dengan meningkatnya tuntutan dari pemangku kepentingan, konsumen, dan investor terkait tanggung jawab perusahaan, bisnis dari berbagai skala kini melibatkan tenaga profesional CSR dalam strategi mereka. Keterampilan utama untuk peran ini meliputi pelibatan pemangku kepentingan dan impact assesment.

 

3 dari 5 halaman

3. Analis ESG (Environmental, Social, and Governance)

Kebutuhan akan tolok ukur (benchmarking) dan penilaian skor ESG terus meningkat, menjadikan peran Analis ESG sangat diminati di bidang keuangan, manajemen aset, dan keberlanjutan perusahaan. Analis ESG memegang peran kunci dalam menilai kinerja perusahaan berdasarkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta membantu investor dan pelaku bisnis dalam mengambil keputusan yang tepat dan berkelanjutan.

Industri yang merekrut Analis ESG meliputi jasa keuangan, perusahaan investasi, konsultan, dan korporasi besar yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam model bisnis mereka. Permintaan yang tinggi pada profesi Analis ESG Ini datang dari Amerika Serikat, Inggris, Eropa, dan Asia, khususnya di pusat keuangan seperti London, New York, dan Singapura, di mana tempat keputusan investasi berbasis ESG turut membentuk dinamika pasar.

 

4 dari 5 halaman

4. Renewable Energy Engineer

Renewable Energy Engineer berada di garis depan dalam merancang dan mengembangkan sistem untuk memanfaatkan energi dari matahari, angin, hidrogen, dan sumber terbarukan lainnya. Para profesional ini memegang peran krusial dalam transisi sistem energi dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan, dengan tujuan mengurangi emisi karbon.

Permintaan akan Renewable Energy Engineer melonjak karena komitmen global terhadap keberlanjutan dan peraturan lingkungan yang semakin ketat. Secara global, IRENA melaporkan bahwa 2,3 juta lapangan kerja di sektor energi terbarukan tercipta pada tahun 2023, dengan Tiongkok menyumbang 46% di antaranya. Angka ini diperkirakan akan meningkat, didorong oleh target COP28 untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada tahun 2030.

Perluasan pembangkit listrik tenaga surya dan angin, disertai dengan inovasi dalam modernisasi jaringan listrik, sistem energi terdesentralisasi, dan jaringan cerdas berbasis kecerdasan buatan (AI), akan membutuhkan keahlian khusus. Solusi penyimpanan energi berbasis baterai akan menjadi hal krusial dalam mengelola permintaan energi dan menstabilkan jaringan listrik, sementara sel bahan bakar hidrogen akan memainkan peran kunci dalam dekarbonisasi sektor industri dan transportasi.

 

5 dari 5 halaman

5. Konsultan Ekonomi Sirkular

Konsultan Ekonomi Sirkular membantu perusahaan beralih dari model tradisional "ambil-buat-buang" (*take-make-dispose*) dengan merancang siklus hidup produk yang berkelanjutan, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan menerapkan strategi pengurangan limbah. Peran ini sangat diminati seiring langkah perusahaan menyelaraskan diri dengan tujuan ESG, regulasi keberlanjutan, dan ekspektasi konsumen terhadap produk yang lebih ramah lingkungan.

Perekrutan tenaga kerja di bidang ini terkonsentrasi pada sektor manufaktur, ritel, mode, pengemasan, konstruksi, dan teknologi, dengan permintaan tinggi di Eropa (Jerman, Belanda, Inggris), Amerika Serikat, Singapura, dan UEA. Peran ini membutuhkan kemampuan analisis aliran material, yang membantu menilai penggunaan sumber daya dan mengoptimalkan material guna meminimalkan limbah, serta keahlian dalam penilaian siklus hidup produk.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id