Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?
© Pexels.com/Robert Lens
Reporter : Rizky Wahyu Permana
Ada dua acuan utama. Yang pertama LBMA Gold Price di London. Yang kedua COMEX di New York, bursa futures emas terbesar di dunia.
DREAM.CO.ID - Buka aplikasi berita dan kamu melihat emas dalam dolar per troy ons. Buka toko emas dan angkanya rupiah per gram. Keduanya bergerak berbeda dan jumlahnya tidak bisa dibandingkan langsung. Pertanyaannya wajar: siapa sebenarnya yang menentukan harga emas, dan kenapa angkanya berbeda di tiap tempat?
Konteks tahun ini membuat pertanyaan itu makin relevan. Emas sempat menembus US$5.500 per ons pada Januari 2026, lalu turun lagi. Pada pekan ini harganya bergerak di kisaran US$4.050, sekitar seperempat di bawah puncak Januari.
Secara Rupiah, emas sempat melonjak hingga kisaran Rp.3 juta per gram sebelum menjadi kisaran Rp.2,4 juta beberapa waktu ini. Lalu mengapa harganya bisa sangat fluktuatif?
Tidak Ada yang “Menetapkan” Harga Emas
Tidak ada pemerintah atau perusahaan tunggal yang menentukan harga emas. Harga spot adalah konsensus yang terus bergerak dari transaksi antarbank besar, lelang acuan, dan pasar futures. Untuk kutipan waktu nyata, pasar futures COMEX paling berpengaruh. Harga spot sendiri adalah harga penyerahan segera untuk satu troy ons (31,1035 gram) emas murni 99,9 persen. Angka itu harga grosir. Ia mencerminkan apa yang dibayar institusi besar untuk batangan berukuran sekitar 400 ons, bukan harga yang dibayar pembeli ritel.
Ada dua acuan utama. Yang pertama LBMA Gold Price di London. Harga ini ditetapkan dua kali sehari, pukul 10.30 dan 15.00 waktu London, lewat lelang elektronik yang dikelola ICE Benchmark Administration. LBMA Gold Price menggantikan London Gold Fix pada 2015. Harga ini dipakai untuk penyelesaian kontrak, penilaian ETF, dan transaksi bank sentral.
Yang kedua COMEX di New York, bursa futures emas terbesar di dunia. Sebagian besar penyedia data menurunkan harga spot dari kontrak futures terdekat COMEX, setelah disesuaikan dengan nilai waktu. Shanghai Gold Exchange juga ikut membentuk harga lewat perdagangan Asia.
Jadi harga emas lahir dari tawar-menawar tanpa henti di banyak pasar, mirip kurs valuta asing.
Apa yang Membuatnya Naik dan Turun
Faktor yang sering disebut: kekuatan dolar, suku bunga, inflasi, pembelian bank sentral, penawaran dan permintaan, peristiwa geopolitik, serta arus dana ETF. Emas dihargai dalam dolar dan tidak membayar bunga. Saat dolar menguat atau imbal hasil obligasi naik, memegang emas jadi relatif kurang menarik. Pada Oktober ini, imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat menekan harga logam mulia meski bank sentral terus membeli.
Bank sentral jadi pemain besar. World Gold Council mencatat pembelian bersih bank sentral 289 ton pada kuartal II 2026, rekor untuk kuartal kedua. Dalam survei WGC terhadap 76 bank sentral, 89 persen memperkirakan cadangan emas global naik, dan rekor 45 persen berencana menambah cadangan sendiri. Motifnya mengurangi ketergantungan pada dolar. Angka pembelian berbeda antarsumber karena ada transaksi yang tidak dilaporkan. Goldman Sachs memperkirakan 79 ton pada Agustus, sedangkan WGC mencatat 39 ton dari pembelian yang diungkapkan.
Lalu kenapa harga turun saat bank sentral membeli? Ada dua kelompok pelaku berbeda. Trader suku bunga menjual ketika minyak mengangkat inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, sedangkan bank sentral tetap membeli dengan motif yang tidak peduli pada suku bunga. Harga akhir adalah hasil tarik-menarik keduanya.
Substack
Harga Dasarnya Sama, tapi Harga di Tanganmu Berbeda
Soal apakah harganya sama di seluruh dunia, jawabannya setengah ya. Logamnya sama di mana pun. Yang berbeda adalah pajak, margin dealer, dan ongkos pembuatan di sekitarnya. Harga eceran lokal kira-kira harga global dalam dolar dikali kurs, ditambah bea masuk, PPN atau GST, ongkos pembuatan, dan margin dealer.
Contohnya terlihat di data. Menurut Expert Market Research, rata-rata harga emas kuartal II 2026 sekitar US$5.070 per ons di India, US$4.830 di China, US$4.660 di Swiss, dan US$4.650 di Amerika Serikat. India paling mahal karena struktur bea masuknya. Sebaliknya, Dubai tidak memungut bea masuk dan pajak untuk emas investasi, dan itu sebabnya banyak orang India membeli emas di sana.
Untuk emas batangan fisik, ada lapisan lain yang disebut premi. Membeli emas fisik tepat di harga spot jarang terjadi, karena setiap pengiriman membawa premi atau diskon sesuai kondisi lokal. Pada Oktober ini, premi China berkisar US$4 sampai US$13 per ons, India sampai US$7 per ons setelah beberapa bulan berdiskon, dan Jepang nyaris nol. Premi positif di China mencerminkan kesediaan pembeli membayar di atas harga global untuk emas fisik, tanda permintaan kuat dibanding pasokan lokal.
Rumus yang sama berlaku di Indonesia. Kurs rupiah ikut menentukan: kalau rupiah melemah, harga per gram dalam rupiah naik meski harga dolar per ons tidak bergerak. Cara menghitung kasarnya, bagi harga per ons dengan 31,1035 untuk mendapat harga per gram, lalu kalikan dengan kurs. Harga US$4.100 per ons, misalnya, setara sekitar US$132 per gram sebelum dikali kurs. Di tingkat ritel masih ada selisih antara harga jual toko dan harga beli kembali, serta pajak atas transaksi. Itu sebabnya emas yang baru dibeli biasanya perlu naik dulu sebelum impas.
Ada tiga pertanyaan sederhana saat melihat angka emas. Pertama, satuannya apa: ons atau gram, dolar atau rupiah. Kedua, itu harga spot grosir atau harga ritel yang sudah memuat premi, pajak, dan margin. Ketiga, apakah kenaikan datang dari harga global atau dari melemahnya rupiah. Dengan itu, dua angka yang tampak bertabrakan di layar biasanya cuma dua lapisan dari harga yang sama.