Paradoks Produktivitas: Mengapa Teknologi Membuat Kita Makin Produktif, tetapi Gaji Tidak Selalu Ikut Naik?
© Pexels.com/Cottonbro Studio
Reporter : Abidah
Kita hidup di era modern yang serba efisien. Produktivitas terus berkembang, tetapi peningkatan tersebut tidak selalu mengalir dengan kecepatan yang sama ke dalam gaji.
DREAM.CO.ID - Bayangkan seorang pekerja kantor pada 1980-an yang harus mengetik surat, membuat perhitungan secara manual, mencari dokumen di lemari arsip, lalu mengirimkan hasil pekerjaannya melalui pos atau faksimile. Bandingkan dengan pekerja hari ini yang bisa menyelesaikan pekerjaan serupa menggunakan laptop, internet, cloud, kecerdasan buatan, dan berbagai perangkat lunak hanya dalam hitungan menit.
Teknologi jelas membuat banyak pekerjaan menjadi jauh lebih cepat. Satu orang kini dapat mengerjakan sesuatu yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang atau waktu berjam-jam. Namun, ada pertanyaan yang menarik: jika pekerja menjadi jauh lebih produktif, mengapa kenaikan gaji tidak selalu mengikuti peningkatan produktivitas tersebut?
Fenomena inilah yang sering dibahas sebagai paradoks produktivitas atau kesenjangan antara produktivitas dan upah.
Produktivitas Bukan Berarti Gaji Langsung Naik
Secara sederhana, produktivitas menggambarkan seberapa banyak barang atau jasa yang dapat dihasilkan dengan sejumlah tenaga dan waktu tertentu. Jika seorang pekerja dapat menghasilkan dua kali lebih banyak dalam waktu yang sama berkat teknologi, produktivitasnya meningkat.
Secara logika, peningkatan produktivitas seharusnya memberikan ruang bagi kenaikan upah. Perusahaan menghasilkan lebih banyak nilai dari setiap jam kerja, sehingga sebagian keuntungan tersebut secara ideal dapat dibagikan kepada pekerja.
Namun, hubungan tersebut tidak selalu terjadi. OECD menemukan bahwa di banyak negara anggotanya, pertumbuhan produktivitas tenaga kerja telah terpisah dari pertumbuhan kompensasi riil pekerja dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah menurunnya porsi pendapatan yang diterima tenaga kerja. Dengan kata lain, ekonomi bisa menjadi lebih produktif tanpa seluruh pekerja otomatis mendapatkan bagian yang sama besar dari hasil peningkatan tersebut.
Ke Mana Perginya Hasil Produktivitas?
Salah satu jawabannya berkaitan dengan bagaimana hasil tambahan dari produktivitas dibagi. Ketika sebuah perusahaan menggunakan teknologi baru dan mampu menghasilkan lebih banyak dengan jumlah pekerja yang sama, tambahan pendapatan dapat digunakan untuk berbagai hal. Perusahaan bisa menurunkan harga, meningkatkan keuntungan, membayar investor, membeli mesin baru, memperluas usaha, atau menaikkan gaji pekerja.
Tidak ada hukum ekonomi yang memastikan seluruh tambahan nilai tersebut masuk ke kantong pekerja. Di Amerika Serikat, misalnya, data Economic Policy Institute menunjukkan perbedaan yang cukup besar sejak akhir 1970-an. Pada periode 1979–2019, produktivitas bersih meningkat sekitar 59,7 persen, sedangkan kompensasi pekerja tipikal hanya meningkat sekitar 15,8 persen.
Data yang lebih baru dari lembaga yang sama menunjukkan kesenjangan tersebut masih menjadi persoalan. Dalam periode 1978–2023, produktivitas ekonomi bersih Amerika Serikat meningkat sekitar 74,8 persen, sementara kompensasi pekerja tipikal meningkat sekitar 24 persen.
Angka tersebut tidak berarti semua pekerja mengalami stagnasi upah. Ada pekerjaan dan kelompok pekerja yang memperoleh kenaikan pendapatan besar. Namun, secara keseluruhan, peningkatan produktivitas tidak diterjemahkan menjadi kenaikan upah yang sebanding bagi pekerja tipikal.
Teknologi Bukan Satu-Satunya Penyebab
Karena itu, terlalu sederhana jika kesenjangan tersebut hanya disalahkan kepada komputer, robot, atau AI. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari perubahan struktur industri, persaingan di pasar kerja, kekuatan tawar pekerja, kebijakan pemerintah, hingga meningkatnya ketimpangan pendapatan. OECD, misalnya, menemukan bahwa selain menurunnya porsi pendapatan untuk tenaga kerja, perbedaan antara upah rata-rata dan upah median juga ikut menjelaskan mengapa pertumbuhan produktivitas tidak selalu terasa oleh pekerja pada umumnya.
Ini menjelaskan mengapa sebuah perusahaan dapat mencatat keuntungan besar dan produktivitas tinggi, sementara sebagian pekerjanya tetap merasa gaji mereka tidak banyak berubah.
Mengapa Ini Penting bagi Pekerja Muda?
Bagi pekerja berusia 20-an, persoalan ini semakin relevan karena teknologi akan terus mengubah cara bekerja. Kemampuan menggunakan AI, perangkat lunak, dan otomatisasi mungkin membuat seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Tetapi menjadi lebih produktif tidak otomatis berarti mendapatkan kenaikan gaji yang sebanding.
Karena itu, persoalan masa depan dunia kerja bukan hanya bagaimana membuat manusia semakin produktif. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah siapa yang mendapatkan manfaat dari produktivitas tersebut.
Teknologi seharusnya dapat membuat manusia menghasilkan lebih banyak dengan waktu dan tenaga yang lebih sedikit. Namun, manfaat akhirnya bergantung pada bagaimana hasil tambahan itu dibagikan.
Di sinilah letak paradoksnya. Kita hidup di era ketika satu pekerja dengan laptop dan koneksi internet dapat melakukan pekerjaan yang dahulu membutuhkan banyak alat, waktu, dan tenaga. Produktivitas terus berkembang, tetapi peningkatan tersebut tidak selalu mengalir dengan kecepatan yang sama ke dalam gaji.
Teknologi dapat memperbesar kue ekonomi, tetapi teknologi itu sendiri tidak menentukan siapa yang mendapatkan potongan paling besar. Pembagian hasilnya tetap bergantung pada bagaimana perusahaan, pasar tenaga kerja, dan kebijakan ekonomi bekerja.