Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

News | Kamis, 15 Oktober 2026 06:00

Reporter : Abidah

Anak-anak yang didiagnosis ADHD atau autisme saat ini ternyata lebih mirip dengan populasi umum dibandingkan satu dekade lalu.

DREAM.CO.ID - Jumlah anak dan remaja yang mendapatkan diagnosis attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) dan autism spectrum disorder (ASD) meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sebuah studi besar di Denmark menunjukkan perubahan yang menarik: anak-anak yang didiagnosis ADHD atau autisme saat ini ternyata lebih mirip dengan populasi umum dibandingkan mereka yang menerima diagnosis serupa satu dekade lalu.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang melibatkan lebih dari 2,1 juta anak dan remaja di Denmark. Studi yang dipimpin Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) dan Aarhus University itu membandingkan lebih dari 71.000 anak muda yang didiagnosis ADHD atau ASD pada periode 2012–2022 dengan lebih dari 713.000 orang yang tidak memiliki kedua diagnosis tersebut. Hasil penelitian dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry.

Para peneliti ingin melihat apakah karakteristik yang selama ini lebih sering ditemukan pada orang dengan diagnosis ADHD atau ASD masih memiliki pola yang sama ketika angka diagnosis terus meningkat.

2 dari 4 halaman

Perbedaan dengan Populasi Umum Makin Menyempit

Sejumlah penelitian sebelumnya menemukan bahwa anak yang kemudian didiagnosis ADHD atau autisme lebih sering memiliki karakteristik tertentu dibandingkan populasi umum. Di antaranya adalah lahir prematur atau dengan berat badan rendah, memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan atau pendapatan rumah tangga yang lebih rendah, mempunyai orang tua dengan riwayat gangguan kejiwaan, serta lebih sering menggunakan layanan kesehatan sebelum memperoleh diagnosis.

Dalam studi terbaru ini, pola tersebut masih ditemukan. Namun, besarnya perbedaan antara kelompok yang didiagnosis dan populasi umum terus mengecil sepanjang periode penelitian.

Berat badan lahir rendah menjadi salah satu contoh paling jelas. Pada awal periode penelitian, anak yang lahir dengan berat badan rendah memiliki kemungkinan 54 persen lebih tinggi untuk kemudian mendapat diagnosis ADHD atau ASD dibandingkan anak dengan berat lahir normal.

Menjelang akhir periode penelitian, selisih tersebut turun menjadi 17 persen. Penurunan serupa juga terlihat pada hubungan dengan kelahiran prematur dan beberapa indikator kerentanan sosial ekonomi.

“Pesan utamanya bukan bahwa faktor-faktor risiko ini tidak lagi penting,” kata Magnus Elias Tarp, mahasiswa doktoral di Aarhus University sekaligus penulis pertama penelitian. “Yang kami temukan adalah bahwa orang yang didiagnosis dalam beberapa tahun terakhir lebih mirip dengan populasi umum dibandingkan mereka yang menerima diagnosis yang sama satu dekade lalu.”

3 dari 4 halaman

Bukan Berarti ADHD dan Autisme ‘Salah Diagnosis’

Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa ADHD atau autisme saat ini terlalu banyak didiagnosis, ataupun bahwa kondisi tersebut menjadi lebih ringan.

Sebaliknya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa kelompok orang yang mendapatkan diagnosis telah berubah dari waktu ke waktu. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap ADHD dan ASD.

Sistem kesehatan dan pendidikan juga mungkin semakin mampu mengenali karakteristik neurodevelopmental yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Selain itu, akses terhadap evaluasi diagnostik dapat semakin luas, sementara batas ketika karakteristik seseorang dianggap cukup mengganggu fungsi sehari-hari untuk memperoleh diagnosis juga dapat berubah.

Namun, penelitian ini tidak dapat menentukan seberapa besar kontribusi masing-masing faktor tersebut.

“Temuan kami membantu memahami mengapa diagnosis ADHD dan autisme meningkat begitu tajam dalam beberapa tahun terakhir,” kata Oleguer Plana-Ripoll, peneliti ISGlobal dan Aarhus University sekaligus penulis senior. “Temuan ini tidak menunjukkan bahwa kondisi tersebut terlalu banyak didiagnosis atau menjadi kurang parah. Sebaliknya, temuan ini menunjukkan bahwa populasi yang menerima diagnosis telah berubah dari waktu ke waktu, dan hal tersebut perlu diperhitungkan ketika menafsirkan tren saat ini.”

Ia menambahkan, penelitian lebih lanjut di negara lain diperlukan untuk mengetahui apakah pola serupa juga ditemukan di luar Denmark.

4 dari 4 halaman

Angka Diagnosis Tidak Selalu Sama dengan Angka Kejadian

Temuan ini memberikan perspektif penting ketika peningkatan diagnosis ADHD dan autisme dibaca sebagai tanda bahwa kondisi tersebut semakin banyak terjadi.

Menurut peneliti, kenaikan angka diagnosis tidak otomatis berarti peningkatan kejadian kondisi yang sama dalam proporsi yang identik. Perubahan dalam kesadaran, akses layanan, kemampuan identifikasi, dan praktik diagnosis dapat ikut memengaruhi siapa yang akhirnya masuk dalam kelompok terdiagnosis.

Perubahan karakteristik populasi ini juga penting ketika menilai layanan kesehatan, pendidikan, dan dukungan sosial. Bahkan, laporan mengenai membaiknya hasil jangka panjang pada orang dengan ADHD atau autisme perlu ditafsirkan secara hati-hati. Sebagian perubahan yang terlihat mungkin berasal dari perbedaan karakteristik kelompok yang kini mendapatkan diagnosis, bukan semata-mata karena prognosis kondisi tersebut benar-benar membaik.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id