Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
© Pexels.com/Pok Rie
Reporter : Abidah
Permukaan laut dunia saat ini naik lebih cepat dibandingkan kapan pun dalam setidaknya 3.000 tahun terakhir.
DREAM.CO.ID - Bayangkan garis pantai yang perlahan bergerak semakin jauh ke daratan. Rumah yang dulu aman dari pasang mulai tergenang, lahan pertanian kemasukan air asin, sementara jalan, sistem air bersih, hingga bangunan bersejarah semakin sering menghadapi banjir. Kondisi semacam ini bukan lagi sekadar gambaran masa depan. Bagi jutaan orang di berbagai negara, kenaikan permukaan laut sudah menjadi kenyataan yang mengubah kehidupan sehari-hari.
Laporan Carbon Brief yang mengulas persoalan ini menyebut permukaan laut dunia saat ini naik lebih cepat dibandingkan kapan pun dalam setidaknya 3.000 tahun terakhir. Pengaruh manusia menjadi penyebab dominan kenaikan tersebut sejak setidaknya 1970. Secara rata-rata, permukaan laut global telah naik sekitar 20 sentimeter antara 1901 dan 2018. Sejak 1993 saja, kenaikannya mencapai sekitar 10,6 sentimeter.
Yang lebih mengkhawatirkan, kenaikan itu belum berhenti. Dengan skenario emisi sedang, para ilmuwan memperkirakan permukaan laut global masih akan naik sekitar 56 sentimeter pada 2100 dibandingkan rata-rata periode 1995–2014. Penyebab utamanya adalah mencairnya gletser dan lapisan es serta pemuaian air laut akibat meningkatnya suhu.
770 Juta Orang Berada di Wilayah Berisiko
Besarnya ancaman terlihat dari jumlah manusia yang hidup di kawasan rendah. Sekitar 770 juta orang atau 10 persen populasi dunia berada di wilayah yang dikategorikan PBB sebagai lokasi dengan risiko akut akibat kenaikan permukaan laut. Wilayah ini berada kurang dari lima meter di atas garis pasang tertinggi.
Risiko tersebut mencakup penduduk sejumlah kota besar seperti Mumbai dan Kolkata di India, serta Shenzhen dan Guangzhou di China. Banyak negara kepulauan bahkan menghadapi ancaman terhadap sebagian besar wilayah tempat penduduk mereka tinggal.
Masalahnya bukan hanya air laut yang perlahan naik. Permukaan laut yang lebih tinggi membuat banjir pesisir semakin sering, memperkuat dampak gelombang badai, serta mempercepat erosi pantai dan tebing. Air asin juga dapat merembes masuk ke daratan sehingga mengancam sumber air dan pertanian.
Infrastruktur penting seperti sistem air bersih, pengolahan limbah, rumah sakit, jalan, dan akses menuju pasar juga menjadi lebih rentan. Dampaknya dapat terasa lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok yang sudah rentan.
Jakarta Menghadapi Masalah yang Lebih Rumit
Di sejumlah wilayah, kenaikan laut diperparah oleh kondisi daratan yang justru turun. Fenomena ini disebut subsidence atau penurunan permukaan tanah.
Jakarta menjadi salah satu contoh yang disoroti. Sumber tersebut menyebut sebagian wilayah Jakarta mengalami penurunan tanah hingga 15 sentimeter per tahun dalam satu dekade terakhir, terutama akibat pengambilan air tanah secara berlebihan.
Artinya, ancaman di suatu kota tidak selalu hanya berasal dari kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim. Jika tanah pada saat yang sama terus turun, kenaikan permukaan laut relatif terhadap daratan dapat menjadi jauh lebih besar.
Alam Juga Kehilangan Ruang untuk Bertahan
Kenaikan laut tidak hanya mengancam manusia. Ekosistem pesisir juga semakin terdesak.
Hampir 28 juta hektare lahan basah pesisir, termasuk mangrove, padang lamun, dataran pasang surut, dan estuari, telah hilang sejak 1970. Salah satu persoalannya adalah coastal squeeze. Sederhananya, ekosistem pesisir sebenarnya dapat bergeser ke arah daratan ketika laut naik, tetapi pergerakan itu terhalang jalan, bangunan, tanggul, dan berbagai bentuk pembangunan manusia.
Pulau-pulau kecil menghadapi risiko yang lebih besar. Banyak negara kepulauan Pasifik memiliki atol dengan ketinggian rata-rata hanya 1–2 meter di atas permukaan laut. Beberapa pulau kecil di Kiribati dan Kepulauan Solomon bahkan telah hilang atau mengalami erosi parah.
Terumbu karang pun tidak terbebas. Ketika permukaan laut naik, air menjadi semakin dalam di atas terumbu sehingga cahaya yang dibutuhkan karang berkurang. Sedimen akibat erosi juga dapat mengganggu proses makan, reproduksi, dan fotosintesis karang.
Bukan Hanya Rumah, Sejarah Manusia Juga Terancam
Ancaman lainnya mungkin tidak langsung terlihat: warisan budaya.
Sejak ribuan tahun lalu, manusia banyak membangun permukiman di dekat pantai dan sungai karena kawasan tersebut menyediakan makanan sekaligus jalur transportasi. Kini, lokasi yang sama menghadapi risiko banjir dan erosi akibat kenaikan permukaan laut.
Sebanyak 49 situs Warisan Dunia UNESCO di kawasan pesisir rendah Laut Mediterania hampir seluruhnya sudah menghadapi ancaman erosi atau banjir ekstrem. Secara global, terdapat 386 situs warisan UNESCO yang berada di kawasan pesisir dengan ketinggian maksimal 20 meter dan berpotensi terdampak erosi serta banjir.
Karena itu, kenaikan permukaan laut bukan sekadar cerita tentang pantai yang semakin sempit. Di balik angka beberapa sentimeter terdapat persoalan yang jauh lebih besar: tempat tinggal yang terancam, pertanian yang terganggu, ekosistem yang kehilangan ruang, pulau yang terkikis, dan situs sejarah yang berisiko rusak.
Sejumlah kota dan negara telah mencoba beradaptasi, mulai dari membangun tanggul dan sistem perlindungan banjir hingga memulihkan mangrove, membatasi pembangunan di kawasan berisiko, dan memindahkan masyarakat maupun infrastruktur ke tempat yang lebih aman. Namun, sumber tersebut juga memperingatkan bahwa perlindungan yang ada belum tentu cukup menghadapi kenaikan laut di masa depan.