Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
© Pexels.com/Cottonbro Studio
Reporter : Abidah
Waktu ketika seseorang terjaga mungkin sama pentingnya dengan berapa lama ia terjaga.
DREAM.CO.ID - Pikiran seseorang pada pukul 2 pagi ternyata tidak selalu bekerja dengan cara yang sama seperti saat siang hari. Ketika malam semakin larut dan tubuh seharusnya beristirahat, pikiran negatif dapat terasa lebih kuat, keinginan terhadap makanan tidak sehat atau zat tertentu menjadi lebih sulit dikendalikan, sementara pertimbangan terhadap risiko dapat melemah.
Fenomena tersebut menjadi dasar sebuah hipotesis yang disebut “Mind After Midnight”. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 2022, para peneliti mengusulkan bahwa otak tidak sekadar menjadi mengantuk ketika malam tiba. Perubahan ritme sirkadian juga diduga dapat memengaruhi emosi, sistem penghargaan, motivasi, dan kecenderungan seseorang dalam mengambil keputusan.
Menurut hipotesis tersebut, tubuh dan pikiran manusia mengikuti siklus sekitar 24 jam. Pada siang hari, aktivitas molekuler dan otak berada dalam kondisi yang mendukung kewaspadaan. Ketika malam tiba, sistem tersebut secara alami bergeser menuju tidur.
Dari perspektif evolusi, kondisi ini masuk akal. Manusia lebih efektif melakukan aktivitas seperti berburu dan mengumpulkan makanan pada siang hari. Sebaliknya, malam hari secara historis merupakan waktu ketika manusia lebih rentan terhadap ancaman.
Para peneliti menduga bahwa sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup, perhatian manusia terhadap rangsangan negatif dapat meningkat pada malam hari. Masalahnya, mekanisme yang dahulu mungkin membantu manusia mendeteksi bahaya dapat memengaruhi sistem penghargaan dan motivasi ketika seseorang tetap terjaga hingga larut malam.
Akibatnya, hal-hal yang pada siang hari mudah ditolak dapat terasa lebih sulit dikendalikan. Keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu, merokok, menggunakan zat berbahaya, atau mengambil keputusan berisiko dapat meningkat.
Neurolog dari Harvard University, Elizabeth Klerman, yang terlibat dalam gagasan tersebut, mengatakan bahwa jutaan orang terjaga pada tengah malam dan terdapat bukti bahwa fungsi otak mereka tidak bekerja sebaik pada siang hari.
“Ada jutaan orang yang terjaga pada tengah malam, dan ada cukup banyak bukti bahwa otak mereka tidak berfungsi sebaik ketika siang hari,” kata Klerman.
Ia juga menyerukan lebih banyak penelitian karena kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan orang yang terjaga pada malam hari maupun orang lain di sekitarnya.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kesehatan mental. Para peneliti menggunakan contoh seseorang yang mengalami insomnia dan semakin lama semakin merasa putus asa, kesepian, serta tidak berdaya ketika malam-malam tanpa tidur terus berlanjut.
Beberapa penelitian yang dikutip dalam bahan tersebut bahkan menemukan hubungan antara terjaga pada malam hari dan risiko bunuh diri. Salah satu penelitian melaporkan risiko bunuh diri sekitar tiga kali lebih tinggi pada periode tengah malam hingga pukul 06.00 dibandingkan waktu lainnya. Namun, temuan tersebut merupakan hubungan statistik dan tidak membuktikan bahwa terjaga pada malam hari secara langsung menyebabkan perilaku bunuh diri.
Risiko lain juga terlihat pada penggunaan zat. Penelitian pada 2020 di sebuah pusat konsumsi narkoba yang diawasi di Brasil menemukan risiko overdosis opioid 4,7 kali lebih tinggi pada malam hari.
Kurang tidur tentu dapat menjadi salah satu penjelasan. Kegelapan dan kondisi sosial yang lebih sepi juga mungkin berpengaruh. Namun, para peneliti menduga terdapat perubahan neurologis pada malam hari yang ikut berperan.
Kondisi ini berbeda dengan seseorang yang terbangun sebentar sekitar pukul 3 pagi lalu kembali tidur. Manusia sepanjang sejarah bahkan diketahui pernah tidur dalam dua periode terpisah. Hipotesis “Mind After Midnight” lebih berfokus pada orang yang benar-benar terjaga selama berjam-jam setelah tengah malam.
Meski demikian, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Para peneliti menyebut belum ada studi yang secara khusus menguji bagaimana kurang tidur dan waktu dalam siklus sirkadian secara bersamaan memengaruhi sistem penghargaan manusia.
Karena itu, belum diketahui secara pasti bagaimana pekerja malam, dokter, pilot, dan orang lain dengan jadwal tidur tidak biasa menghadapi perubahan tersebut. “Mind After Midnight” masih menjadi hipotesis yang membutuhkan penelitian lebih lanjut. Namun, gagasan ini menunjukkan bahwa waktu ketika seseorang terjaga mungkin sama pentingnya dengan berapa lama ia terjaga.