Apakah Dulu Wilayah Indonesia Purba Juga Dihuni oleh Dinosaurus?
© Gemini Generated Image
Reporter : Abidah
Apakah dinosaurus benar-benar pernah menjejakkan kaki di tanah yang kini kita kenal sebagai Nusantara?
DREAM.CO.ID - Sejak kecil kita selalu menonton dan mengagumi dinosaurus, namun sama seperti sebagian besar orang Indonesia pada umumnya, kita tidak pernah melihat tulang atau kerangka hewas raksasa itu. Salah satu tempat di Indonesia di mana kita bisa melihatnya adalah di Museum Geologi Bandung.
Ketika melihat kerangka ini, pertanyaan yang sering muncul di benak siapa pun adalah apakah di wilayah Indonesia dahulu memang dinosaurus pernah tinggal? Kalau Thailand dan Laos punya fosil dinosaurus, kenapa Indonesia yang letaknya begitu dekat justru nyaris tidak pernah disebut dalam pembicaraan soal dinosaurus? Apakah dinosaurus benar-benar pernah menjejakkan kaki di tanah yang kini kita kenal sebagai Nusantara?
Bentuk Indonesia Saat Dinosaurus Masih Berkuasa Sangat Berbeda dari Sekarang
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mundur jauh ke era Mesozoikum, zaman yang berlangsung sekitar 252 hingga 66 juta tahun lalu dan dijuluki "Zaman Reptil" karena dominasi dinosaurus di daratan. Era ini mencakup tiga periode besar: Trias, Jura, dan Kapur, ditandai dominasi dinosaurus di daratan dan reptil laut raksasa di samudra, serta munculnya reptil terbang seperti pterosaurus di langit.
Masalahnya, wilayah yang kini kita kenal sebagai Indonesia belum benar-benar terbentuk seperti sekarang pada masa itu. Pada masa Paleozoikum, keadaan geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk sama sekali; wilayah ini masih merupakan bagian dari samudra yang sangat luas, meliputi hampir seluruh Bumi.
Baru pada akhir masa Mesozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu, kegiatan tektonis menjadi sangat aktif, menggerakkan lempeng-lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, sehingga benua Eurasia terpecah menjadi pulau-pulau yang terpisah satu sama lain. Sebagian di antaranya bergerak ke selatan membentuk pulau-pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Dua Fragmen Benua yang Baru "Bertemu" Belakangan
Fakta menarik lainnya, wilayah timur dan barat Indonesia sebenarnya berasal dari dua benua purba yang berbeda. Benua Asia pada periode Paleozoikum hingga Mesozoikum adalah bagian dari benua besar Eurasia. Sementara itu, pulau-pulau besar di timur Indonesia seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, sebagian Maluku Tenggara, dan wilayah Timor Leste justru punya batuan era Mesozoikum yang umurnya sama dengan batuan dan kandungan fosil di Australia, artinya wilayah timur Indonesia dulunya menyatu dengan benua Australia, bukan dengan Asia.
Kedua fragmen benua ini baru mulai saling mendekat jutaan tahun kemudian. Pergerakan benua Australia ke arah utara terus berlangsung dengan laju sekitar 80 kilometer setiap satu juta tahun sejak mulai bergerak dari Tanah Gondwana pada awal zaman Tersier. Akibatnya, sekitar 20 juta tahun lalu benua Australia mulai berbenturan dengan busur Banda dan bagian selatan Sulawesi, jauh setelah dinosaurus punah.
Kenapa Fosil Dinosaurus Sulit Ditemukan di Indonesia
Meski secara geologis wilayah Indonesia barat memang merupakan pecahan dari daratan Asia tempat dinosaurus pernah berkeliaran, bukti fosil langsung dinosaurus di Indonesia sangat minim, dan ini punya penjelasan ilmiah tersendiri. Dilansir dari Seasia, Indonesia, sebagai bagian dari busur kepulauan yang terbentuk lewat aktivitas vulkanik, menghadirkan tantangan geologis yang lebih besar untuk pelestarian fosil dibanding kawasan lain di Asia Tenggara.
Meski begitu, penemuan fosil reptil purba dan fosil laut kuno di kawasan seperti Jawa dan Kalimantan mengindikasikan bahwa dinosaurus atau kerabat dekatnya mungkin memang pernah hidup di sana. Hutan tropis yang tebal dan medan yang kompleks membuat proses ekskavasi jadi sangat sulit, namun para paleontolog tetap berharap ekspedisi di masa depan bisa mengungkap catatan fosil tersembunyi di kawasan ini.
Kondisi geologis Indonesia yang aktif secara vulkanik, dengan lapisan batuan yang terus-menerus terlipat, terangkat, dan tertutup material vulkanik selama jutaan tahun, membuat proses pelestarian fosil jauh lebih rumit dibanding wilayah yang lebih stabil secara geologis seperti Thailand atau Mongolia, yang justru jadi rumah bagi banyak temuan fosil dinosaurus penting di Asia.
Tetangga Dekat Indonesia Justru Kaya Fosil Dinosaurus
Yang menarik, kawasan Asia Tenggara di sekitar Indonesia justru menyimpan catatan fosil dinosaurus yang cukup kaya. Dinosaurus jenis ornithischia telah ditemukan di Thailand, Laos, dan Malaysia. P
ada era Jura Akhir, stegosaurus dan neornithischia purba dari Thailand menunjukkan kemiripan dengan spesies dari Tiongkok pada periode yang sama. Bahkan pada 2016, ditemukan spesies sauropoda titanosauriform baru dari Formasi Sao Khua di Thailand, salah satu sauropoda titanosauriform tertua yang diketahui di Asia Tenggara, menegaskan bahwa kawasan ini memang pernah menjadi rumah bagi keragaman dinosaurus yang cukup luas selama era Mesozoikum.
Jika Thailand, Laos, dan Malaysia yang secara geografis relatif berdekatan dengan Indonesia bagian barat pernah dihuni beragam dinosaurus, sangat mungkin secara ekologis wilayah yang kini menjadi Sumatra dan Kalimantan juga pernah menjadi bagian dari habitat serupa, mengingat ketiganya dulu menyatu sebagai satu daratan besar yang terhubung dengan daratan utama Asia.
Berdasarkan bukti geologis yang ada, kemungkinan ini ada, terutama untuk wilayah Indonesia bagian barat yang dulunya menyatu dengan daratan Asia tempat dinosaurus memang diketahui hidup. Namun bukti fosil langsung yang bisa membuktikan hal ini secara pasti masih sangat terbatas, akibat kombinasi kondisi geologis Indonesia yang aktif secara vulkanik dan medan hutan tropis yang menyulitkan proses penggalian dan pelestarian fosil purba.
Masih ada pertanyaan besar bagi penelitian ilmiah di masa depan. Sampai ditemukan bukti fosil dinosaurus yang benar-benar meyakinkan dari tanah Indonesia sendiri, jawaban terbaik yang bisa diberikan sains saat ini adalah: sangat mungkin pernah ada, tapi buktinya masih tersembunyi jauh di bawah lapisan tanah vulkanik dan hutan lebat Nusantara, menunggu ekspedisi paleontologi berikutnya untuk mengungkapnya.