Garis Wallace: Batas Tak Kasat Mata yang Membelah Flora dan Fauna Indonesia

Stories | Kamis, 20 Agustus 2026 06:00

Reporter : Abidah

Garis Wallace merupakan garis tak kasat mata yang membelah Indonesia menjadi dua bagian besar yang berbeda secara keragaman flora dan fauna.

DREAM.CO.ID - Bayangkan berdiri di tepi pantai Bali, memandang ke arah Lombok yang jaraknya hanya sekitar 35 kilometer, jarak yang bisa ditempuh dengan perahu nelayan dalam hitungan jam. Namun di selat sempit itu, tersembunyi salah satu garis pemisah biologis paling dramatis di dunia, sebuah batas tak kasat mata yang memisahkan dua dunia satwa liar yang sama sekali berbeda, meski iklim dan medannya nyaris serupa.

Penemuan yang Lahir dari Rasa Bingung Seorang Naturalis

Dilansir dari EarthDate, pada pertengahan 1800-an, naturalis besar Alfred Russel Wallace, yang tengah menjelajahi kawasan yang kini dikenal sebagai Indonesia, menemukan sebuah misteri. Selama empat belas ribu mil perjalanannya menyusuri Kepulauan Melayu, ia mengumpulkan lebih dari 125.000 spesimen, mencakup serangga, moluska, burung, reptil, dan mamalia.

Wallace terkejut menemukan perbedaan tajam antara bagian barat laut dan tenggara kepulauan itu, meski keduanya memiliki iklim dan medan yang serupa. Sumatra dan Jawa secara ekologis lebih mirip daratan utama Asia, sementara Papua lebih menyerupai Australia. Ia menelusuri sebuah batas yang jelas, berkelok-kelok di antara pulau-pulau, yang kelak dikenal dengan nama "Garis Wallace".

Selama masa penjelajahannya di Indonesia, Wallace mengamati sebuah pembagian aneh dalam kehidupan satwa liar. Perubahan mendadak dan jelas pada komposisi fauna di banyak pulau di Indonesia tampak terjadi melintasi sebuah batas tak kasat mata. Lewat analisis distribusi spesies, baik oleh Wallace sendiri maupun ilmuwan lain, ditariklah sebuah garis yang menggambarkan perbedaan ini, membelah Indonesia dari utara ke selatan.

2 dari 5 halaman

Dari Mana Nama "Garis Wallace" Berasal

Garis ini pertama kali digambarkan Wallace pada 1859, dan kemudian dinamai oleh ahli biologi Inggris Thomas Henry Huxley pada 1868, sebagai penghormatan atas penemunya. Garis ini membentang dari Samudra Hindia melewati Selat Lombok (antara Pulau Bali dan Lombok), lalu ke utara melewati Selat Makassar (antara Kalimantan dan Sulawesi), dan ke timur, di selatan Mindanao, hingga masuk ke Laut Filipina.

Dalam bukunya yang menjadi karya penting, The Malay Archipelago (1869), Wallace mengusulkan garis demarkasi biogeografis untuk distribusi fauna, dimulai dari selat dalam antara Bali dan Lombok dan menyusuri Selat Makassar, dengan "wilayah Indo-Melayu" di sisi barat dan "wilayah Austro-Melayu" di sisi timur.

 

3 dari 5 halaman

Perbedaan Fauna yang Begitu Kontras

Apa sebenarnya yang membedakan kedua sisi garis ini? Garis ini memisahkan wilayah biogeografis Asia dan "Wallacea", zona transisi antara Asia dan Australia. Di sisi barat garis, ditemukan organisme yang berkerabat dekat dengan spesies Asia; di sisi timur, hadir campuran spesies dari Asia maupun Australia.

Sebuah kajian menjelaskannya dengan lebih detail: Garis Wallace memisahkan fauna Asia yang mencakup primata, karnivora, gajah, dan hewan berkuku, dari fauna berkantung (marsupial) khas Australia dan Papua. Di sisi barat garis, mamalia berplasenta seperti harimau, badak, gajah, dan orangutan mendominasi. Di sisi timur, marsupial dan monotremata (mamalia bertelur) jauh lebih umum ditemukan, mirip dengan fauna khas Australia.

4 dari 5 halaman

Rahasia Geologis di Balik Garis Ini

Yang membuat batas ini begitu tajam, meski jarak fisiknya sangat sempit di beberapa titik, ternyata berakar pada sejarah geologis yang berlangsung jutaan tahun. Wallace sendiri mengusulkan bahwa perbedaan tajam distribusi spesies antara Bali dan Lombok hanya bisa dijelaskan oleh "perubahan besar pada permukaan Bumi". Kini, para ilmuwan mengakui bahwa batas biogeografis ini dibentuk oleh kombinasi pergerakan lempeng tektonik, fluktuasi permukaan laut, dan faktor iklim selama jutaan tahun.

Wallace berhipotesis bahwa pemisahan spesies ini disebabkan hambatan geografis, khususnya palung laut dalam yang mengisolasi pulau-pulau di kedua sisi Selat Lombok. Sebagai bukti pendukung keyakinan evolusionernya, ia berspekulasi spesies di masing-masing sisi berevolusi secara terpisah, menghasilkan flora dan fauna berbeda yang kita amati hari ini.

Kajian geologis yang dipublikasikan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menjelaskan lebih jauh: posisi garis ini bergantung pada kondisi geologis, hasil dari pergerakan lempeng tektonik. Wilayah barat Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, dulunya menyatu dengan daratan Asia lewat Paparan Sunda (Sunda Shelf) saat permukaan laut lebih rendah pada zaman es.

Sebaliknya, Papua dan sekitarnya menyatu dengan Australia lewat Paparan Sahul (Sahul Shelf). Di antara keduanya, terbentang laut dalam yang tidak pernah mengering meski permukaan laut turun drastis, menciptakan penghalang alami yang mencegah banyak spesies daratan menyeberang dari satu sisi ke sisi lain selama jutaan tahun.

Menariknya, Garis Wallace bukanlah batas yang statis sejak awal ditemukan. Garis Wallace asli membentang antara Bali dan Lombok, memanjang antara Kalimantan dan Sulawesi, serta antara Filipina dan Indonesia. Namun garis Wallace yang direvisi pada 1910 terletak lebih ke timur dari garis aslinya, di sebelah timur Sulawesi, mencerminkan pemahaman yang terus berkembang soal bagaimana dua kumpulan fauna dari dunia Asia dan Australia sebenarnya bertemu dan bercampur di Sulawesi.

5 dari 5 halaman

Wallacea: Zona Transisi yang Kaya Keunikan

Wilayah di antara Garis Wallace dan garis biogeografis lain di sebelah timurnya, yang dikenal sebagai Garis Weber, membentuk zona transisi bernama Wallacea, mencakup Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara. Wilayah Wallacea diperkirakan memiliki sekitar sepuluh ribu spesies tumbuhan berpembuluh, dengan sekitar seribu lima ratus di antaranya bersifat endemik alias hanya ditemukan di wilayah ini. Wallacea juga menjadi rumah bagi sekitar enam ratus lima puluh spesies burung, dengan sekitar 40 persen di antaranya endemik, termasuk burung maleo, burung rangkong, dan burung hantu khas Sulawesi.

Penemuan Wallace membuka bidang baru dalam biogeografi, mengeksplorasi bagaimana fitur geografis, baik yang modern, purba, terlihat, maupun tersembunyi, memengaruhi distribusi makhluk hidup, yang membantu memulai babak baru dalam pemahaman manusia tentang kompleksitas luar biasa yang membentuk dunia alami.

Garis Wallace pun menjadi fondasi bagi ilmu evolusi dan biogeografi modern, sekaligus bukti nyata bahwa kepulauan Indonesia sesungguhnya adalah laboratorium alam yang menyimpan salah satu misteri paling menakjubkan tentang bagaimana benua-benua purba pernah terpisah dan membentuk keragaman hayati yang kita saksikan hari ini.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id