Orang yang Menguasai Banyak Bahasa Diduga Memiliki Otak hingga 13 Tahun Lebih Muda

Stories | Sabtu, 5 September 2026 10:00

Reporter : Abidah

Penelitian yang dipresentasikan dalam FENS Forum 2026 menemukan bahwa orang yang menguasai beberapa bahasa memiliki “usia otak” yang tampak lebih muda dibandingkan usia sebenarnya.

DREAM.CO.ID - Belajar bahasa asing sering dianggap sebagai cara untuk memperluas pergaulan, memahami budaya lain, atau meningkatkan peluang pendidikan dan pekerjaan. Namun, kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa mungkin juga berkaitan dengan proses penuaan otak. Penelitian yang dipresentasikan dalam FENS Forum 2026 menemukan bahwa orang yang menguasai beberapa bahasa memiliki “usia otak” yang tampak lebih muda dibandingkan usia sebenarnya.

Perbedaan tersebut bahkan terlihat cukup besar. Orang yang berbicara dua bahasa memiliki otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan penutur satu bahasa. Pada orang yang menguasai tiga bahasa, selisihnya sekitar tujuh tahun, sedangkan mereka yang mampu menggunakan empat bahasa menunjukkan perbedaan hingga sekitar 13 tahun.

Penelitian ini dipresentasikan oleh Dr. Lucia Amoruso dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián, Spanyol. Tim peneliti melibatkan ilmuwan dari sejumlah institusi di Spanyol, Chile, Argentina, dan Irlandia.

2 dari 5 halaman

Bagaimana Bahasa Berkaitan dengan Penuaan Otak?

Seiring bertambahnya usia, jaringan komunikasi di dalam otak dapat mengalami perubahan. Koneksi antarsel saraf tidak selalu bekerja seefisien ketika seseorang masih muda. Perubahan tersebut dapat berkontribusi terhadap perlambatan proses berpikir dan penurunan kemampuan mengingat.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan ingin mengetahui apakah pengalaman menggunakan beberapa bahasa berkaitan dengan pola penuaan otak yang berbeda. Mereka meneliti masyarakat di wilayah Basque, Spanyol, tempat penggunaan beberapa bahasa cukup umum. Para peserta menggunakan kombinasi bahasa Spanyol, Basque, Prancis, dan Inggris.

Sebanyak 728 orang pertama kali digunakan untuk membangun apa yang disebut sebagai “jam penuaan otak”. Peneliti menggunakan magnetoensefalografi atau MEG untuk mengukur aktivitas listrik otak melalui medan magnet yang sangat kecil yang dihasilkan ketika sel-sel saraf aktif.

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan kecerdasan buatan untuk memetakan pola konektivitas otak pada berbagai kelompok usia. Hasilnya digunakan untuk memperkirakan usia otak peserta lain.

 

3 dari 5 halaman

Empat Bahasa Menunjukkan Perbedaan hingga 13 Tahun

Setelah jam penuaan otak tersebut diterapkan pada kelompok terpisah yang terdiri atas 144 orang, peneliti menemukan pola yang menarik. Semakin banyak bahasa yang dikuasai peserta, semakin muda perkiraan usia otaknya dibandingkan usia kronologis.

Penutur dua bahasa memiliki otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda. Pada penutur tiga bahasa, selisihnya meningkat menjadi sekitar tujuh tahun. Sementara itu, peserta yang menguasai empat bahasa memiliki otak yang tampak sekitar 13 tahun lebih muda.

Namun, jumlah bahasa bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan hasil tersebut. Peneliti juga menemukan hubungan antara kemampuan berbahasa yang lebih tinggi dan penuaan otak yang lebih lambat.

Usia ketika seseorang mulai mempelajari bahasa kedua juga tampaknya berperan. Mereka yang mulai belajar bahasa lain lebih awal menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan keterlambatan penuaan otak.

 

4 dari 5 halaman

Bukan Sekadar Bisa Berbahasa

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman multilingual mungkin bekerja secara bertahap. Artinya, manfaatnya tidak sekadar terbagi menjadi “bilingual” dan “monolingual”.

Durasi penggunaan bahasa, tingkat kemahiran, dan usia ketika mulai mempelajarinya mungkin sama-sama menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap otak. Menggunakan beberapa bahasa juga membuat seseorang harus terus mengelola sistem bahasa yang berbeda, memilih kata yang tepat, serta menghambat bahasa lain agar tidak ikut digunakan dalam percakapan.

Aktivitas tersebut membutuhkan kerja kognitif secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, pengalaman belajar dan menggunakan bahasa secara aktif diduga dapat membantu mempertahankan kemampuan otak beradaptasi.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Analisis memang telah mempertimbangkan faktor seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan, tetapi faktor lain seperti gaya hidup, aktivitas sosial, dan keterlibatan intelektual juga dapat memengaruhi kesehatan otak.

 

5 dari 5 halaman

Belajar Bahasa Sejak Dini Mungkin Memberi Keuntungan

Penelitian berikutnya akan melihat apakah pola serupa juga ditemukan pada orang dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Para peneliti juga ingin mengetahui apakah menguasai dua bahasa yang memiliki kemiripan tinggi dapat memberikan pengaruh yang berbeda karena otak harus lebih aktif mengendalikan sistem bahasa yang saling bersaing.

Christina Dalla dari National and Kapodistrian University of Athens, yang tidak terlibat dalam penelitian, menekankan bahwa kesehatan otak dipengaruhi banyak faktor. Tidak merokok, mengonsumsi makanan bergizi, aktif secara fisik, terlibat dalam kegiatan sosial dan seni, serta terus melakukan aktivitas yang menantang otak merupakan beberapa faktor yang juga penting.

Karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya tidak dimaknai bahwa belajar bahasa otomatis membuat otak seseorang 13 tahun lebih muda. Angka tersebut merupakan perbedaan estimasi “usia otak” berdasarkan pola konektivitas yang ditemukan dalam penelitian, bukan berarti seseorang yang menguasai empat bahasa benar-benar memiliki kondisi otak seperti orang yang 13 tahun lebih muda.

Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan, temuan tersebut menambah alasan untuk terus belajar bahasa sepanjang hidup. Selain manfaat sosial dan budaya, mempelajari bahasa baru dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas mental yang menantang dan menjaga otak tetap aktif seiring bertambahnya usia.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id