Stres dan Kesehatan Mental Ternyata Bisa Berkaitan dengan Gangguan Kandung Kemih yang Kita Alami

Stories | Minggu, 13 September 2026 10:00

Reporter : Abidah

Stres, kecemasan, dan depresi diketahui berkaitan dengan berbagai gejala seperti sering buang air kecil, rasa ingin buang air kecil secara mendesak, hingga inkontinensia urine.

DREAM.CO.ID - Pernahkah Anda merasa ingin buang air kecil lebih sering ketika sedang cemas atau berada di bawah tekanan? Keluhan semacam ini mungkin terasa sepele, tetapi penelitian menunjukkan adanya hubungan yang cukup kompleks antara kondisi psikologis dan fungsi saluran kemih bagian bawah. Stres, kecemasan, dan depresi diketahui berkaitan dengan berbagai gejala seperti sering buang air kecil, rasa ingin buang air kecil secara mendesak, hingga inkontinensia urine.

Gejala saluran kemih bagian bawah atau lower urinary tract symptoms (LUTS) mencakup berbagai keluhan yang berhubungan dengan kandung kemih, uretra, dan prostat. Kondisi ini ternyata cukup umum. Lebih dari separuh orang dewasa dapat mengalami LUTS, dengan sebuah studi berbasis populasi yang dikutip dalam tinjauan sistematis memperkirakan prevalensinya mencapai 62,5 persen pada laki-laki dan 66,6 persen pada perempuan.

Kecemasan dan Depresi Berkaitan dengan Gejala Urine

Hubungan antara kesehatan mental dan gangguan saluran kemih terlihat dalam sejumlah penelitian. Tinjauan sistematis terhadap 77 studi menemukan adanya hubungan positif antara LUTS dan depresi maupun kecemasan. Meta-analisis dalam tinjauan tersebut memperkirakan orang dengan depresi memiliki kemungkinan 1,58 kali lebih tinggi mengalami LUTS, meskipun hasil penelitian cukup beragam.

Hubungan tersebut juga dapat berjalan ke arah sebaliknya. Orang yang mengalami gangguan buang air kecil dapat menghadapi rasa malu, ketakutan mengalami kebocoran urine, gangguan aktivitas sosial, hingga masalah dalam hubungan dan keintiman. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan beban psikologis.

Pada pasien dengan overactive bladder (OAB), misalnya, tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan gejala saluran kemih yang lebih berat. Dalam salah satu kelompok pasien OAB yang diteliti, 48 persen mengalami gejala kecemasan dan 24 persen mengalami kecemasan tingkat sedang hingga berat. Mereka juga melaporkan gangguan gejala yang lebih berat dan kualitas hidup yang lebih rendah.

2 dari 3 halaman

Bagaimana Stres Memengaruhi Kandung Kemih?

Para peneliti melihat beberapa kemungkinan mekanisme biologis yang menghubungkan stres dengan fungsi kandung kemih. Salah satunya adalah sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal atau HPA, bagian penting dari sistem respons tubuh terhadap stres.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa stres psikologis kronis dapat mengubah aktivitas sumbu HPA dan berkaitan dengan peningkatan sensitivitas kandung kemih serta perubahan pola buang air kecil. Aktivitas sistem saraf otonom juga dapat berubah ketika tubuh menghadapi stres. Namun, mekanisme pasti yang menjelaskan hubungan stres kronis dengan LUTS pada manusia masih belum sepenuhnya dipahami.

Sensitivitas terhadap sinyal dari kandung kemih juga menjadi perhatian. Pada kondisi tertentu, rangsangan yang sebenarnya ringan dapat dirasakan jauh lebih kuat. Mekanisme yang dikenal sebagai central sensitization diduga berperan terutama pada kondisi seperti interstitial cystitis/bladder pain syndrome (IC/BPS), meskipun mekanisme ini tidak dapat dianggap sebagai penjelasan untuk semua jenis LUTS.

 

3 dari 3 halaman

Penanganan Perlu Melihat Kondisi Fisik dan Psikologis

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya melihat gejala saluran kemih secara lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya berfokus pada kandung kemih, tetapi juga mempertimbangkan kondisi psikologis pasien ketika memang relevan.

Terapi perilaku seperti latihan kandung kemih dan latihan otot dasar panggul menjadi salah satu pendekatan awal untuk OAB. Terapi kognitif perilaku atau CBT juga mulai banyak diteliti karena dapat membantu mengubah pola pikir, persepsi, dan perilaku yang berpotensi memperkuat siklus gejala. Sejumlah penelitian menunjukkan CBT, dengan atau tanpa latihan otot dasar panggul, dapat membantu memperbaiki gejala inkontinensia urgensi, kualitas hidup, kepuasan pasien, serta beberapa gejala psikologis.

Meski demikian, hubungan antara kesehatan mental dan LUTS belum dapat disederhanakan sebagai hubungan sebab-akibat. Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan hubungan dua arah, tetapi banyak penelitian masih bersifat potong lintang sehingga belum mampu memastikan mekanisme kausal.

Karena itu, ketika seseorang mengalami gangguan buang air kecil yang menetap sekaligus tekanan psikologis yang berat, keduanya sebaiknya tidak dipandang sebagai masalah yang sepenuhnya terpisah. Pendekatan yang mempertimbangkan kesehatan fisik dan psikologis secara bersamaan berpotensi membantu memberikan penanganan yang lebih menyeluruh.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id