Tinggal di Lingkungan Kurang Baik Saat Usia 20-an Bisa Berdampak pada Kesehatan Jantung Puluhan Tahun Kemudian
© Pexels.com/Julia Malushko
Reporter : Abidah
Tempat seseorang tinggal, akses terhadap sumber daya, kesempatan beraktivitas, kondisi sosial ekonomi, dan keamanan lingkungan bisa memprediksi kesehatan jantung seseorang di masa depan.
DREAM.CO.ID - Saat memasuki usia 20-an, perhatian terhadap kesehatan jantung biasanya belum menjadi prioritas utama. Pada usia tersebut, seseorang lebih sering memikirkan pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, atau mencari tempat tinggal yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Namun, lingkungan tempat tinggal pada masa dewasa muda ternyata mungkin berkaitan dengan kondisi jantung beberapa dekade kemudian.
Dilansir dari Northwestern Medicine, penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang tinggal dalam kondisi lingkungan sosial yang kurang menguntungkan ketika masih muda memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kalsifikasi arteri koroner (coronary artery calcification/CAC) saat memasuki usia paruh baya. CAC merupakan salah satu penanda penting yang dapat menunjukkan adanya proses awal penyakit kardiovaskular.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tersebut memperluas pemahaman mengenai faktor risiko penyakit jantung. Selama ini, perhatian sering tertuju pada kebiasaan individu seperti pola makan, aktivitas fisik, merokok, berat badan, dan faktor medis lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan tempat seseorang menjalani kehidupan sehari-hari juga perlu diperhitungkan ketika membahas kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Bukan Sekadar Persoalan Gaya Hidup
Para peneliti dari Northwestern Medicine mengembangkan sebuah indeks untuk melihat berbagai faktor sosial yang membentuk kondisi suatu lingkungan secara lebih menyeluruh. Indeks tersebut tidak hanya mempertimbangkan satu aspek, tetapi menggabungkan kondisi sosial ekonomi, akses terhadap makanan, kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik, serta tingkat kriminalitas di lingkungan tempat tinggal.
Pendekatan ini penting karena lingkungan seseorang jarang hanya memiliki satu faktor risiko. Kawasan dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, misalnya, dapat menghadapi persoalan akses terhadap makanan yang lebih sehat sekaligus memiliki lebih sedikit ruang untuk beraktivitas fisik. Faktor keamanan lingkungan juga dapat memengaruhi seberapa leluasa seseorang beraktivitas di luar rumah.
Lifang Hou, MD, PhD, profesor Preventive Medicine dan Pediatrics sekaligus penulis senior penelitian, mengatakan studi tersebut membantu memperluas cara ilmuwan memahami faktor risiko kesehatan dengan tidak hanya berfokus pada gaya hidup individu, tetapi juga konteks lingkungan tempat seseorang tinggal.
Penyakit kardiovaskular sendiri masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di Amerika Serikat maupun dunia. Penelitian sebelumnya memang telah menunjukkan hubungan antara kondisi lingkungan dan kesehatan jantung. Namun, menurut para peneliti, masih relatif sedikit penelitian yang mengamati bagaimana berbagai kondisi lingkungan tersebut dapat bekerja secara bersamaan dan memengaruhi risiko kardiovaskular dalam perjalanan hidup seseorang.
Peneliti Mengikuti Perubahan Risiko Selama Bertahun-tahun
Untuk menguji hubungan tersebut, Hou dan timnya menggunakan data dari CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults), sebuah studi longitudinal yang mengikuti perkembangan kesehatan kardiovaskular sejak masa dewasa muda.
Para peneliti kemudian menghubungkan kondisi lingkungan tempat tinggal peserta dengan pengukuran CAC yang dilakukan secara berulang dari waktu ke waktu. Mereka menggunakan metode statistik dan pembelajaran mesin untuk menganalisis hubungan antara kondisi sosial lingkungan dengan risiko kardiovaskular, sembari memperhitungkan berbagai faktor yang berasal dari tingkat individu.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengalami kondisi sosial lingkungan yang lebih tidak menguntungkan ketika masih berada pada tahap awal masa dewasa memiliki risiko lebih tinggi mengalami CAC pada masa berikutnya.
Menariknya, hubungan tersebut terlihat lebih kuat pada peserta berkulit hitam dibandingkan peserta berkulit putih. Temuan ini menjadi salah satu alasan bagi peneliti untuk melihat kesehatan jantung bukan hanya melalui faktor biologis dan perilaku individu, tetapi juga melalui konteks sosial yang dialami seseorang dalam jangka panjang.
Lingkungan Bisa Meninggalkan Jejak pada Tubuh
Para peneliti menduga kondisi lingkungan pada masa awal kehidupan dewasa dapat berkaitan dengan konsekuensi biologis yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian. Meski penelitian ini menunjukkan hubungan antara kondisi lingkungan dan CAC, hasil tersebut tidak berarti bahwa tinggal di lingkungan tertentu secara otomatis menyebabkan seseorang mengalami penyakit jantung.
CAC sendiri merupakan indikator yang membantu menggambarkan proses penyakit kardiovaskular pada tahap awal. Karena itu, temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa pengalaman seseorang dengan lingkungan sosialnya mungkin memiliki hubungan dengan perubahan biologis yang dapat terukur di kemudian hari.
Menurut Hou, penggabungan berbagai faktor sosial lingkungan dalam satu indeks memungkinkan peneliti melihat bagaimana faktor-faktor tersebut dapat terakumulasi sepanjang waktu dan berkaitan dengan risiko kardiovaskular.
Temuan ini juga membuka pertanyaan yang lebih luas: apakah memperbaiki lingkungan tempat tinggal dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung? Para peneliti kini berencana mempelajari apakah faktor lingkungan yang sama juga berkaitan dengan kondisi lain, termasuk serangan jantung dan gagal jantung.
Mereka juga ingin mengidentifikasi faktor sosial lingkungan yang dapat diubah sehingga berpotensi menjadi sasaran intervensi kesehatan masyarakat. Selain itu, indeks tersebut akan diuji pada kelompok masyarakat dan wilayah geografis lain untuk mengetahui apakah hasilnya tetap konsisten.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya melihat kesehatan jantung sebagai hasil dari perjalanan hidup yang panjang. Kebiasaan individu tetap penting, tetapi tempat seseorang tinggal, akses terhadap sumber daya, kesempatan beraktivitas, kondisi sosial ekonomi, dan keamanan lingkungan juga dapat menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar mengenai risiko kesehatan di masa depan.