Niat Puasa Ramadhan & Penjelasan Perbedaan Pendapat di Kalangan 4 Mazhab

Reporter : Arini Saadah
Selasa, 20 April 2021 09:37
Niat Puasa Ramadhan & Penjelasan Perbedaan Pendapat di Kalangan 4 Mazhab
Niat puasa ramadhan menjadi salah satu syarat sah sebelum menjalankan ibadah puasa.

Dream - Niat puasa Ramadhan perlu dilakukan bagi umat muslim yang hendak menjalankan puasa di bulan ramadhan. Ibadah puasa dimulai sebelum terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Atau yang biasa disebut sebagai waktu berbuka puasa.

Perintah menjalankan puasa Ramadhan mendapat kekhususan karena datang langsung dari Allah SWT. Sebagaimana dinyatakan dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183.

" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ibadah puasa dimulai dengan mengucapkan niat puasa Ramadhan pada malam hari atau setelah santap sahur.

Niat puasa ramadhan menjadi salah satu syarat sah sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Jika tidak mengucapkan niat puasa Ramadhan, maka nilai ibadahnya tidak bisa dihitung.

Dasar niat puasa ramadhan adalah hadis Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad berikut ini.

" Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya."

Berikut Dream rangkum niat puasa ramadhan serta penjelasannya tentang perbedaan pendapat di kalangan empat mazhab, dilansir dari berbagai sumber.

1 dari 4 halaman

Niat Puasa Ramadhan

Para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah (rukun) ibadah, termasuk puasa. Berarti, dalam melakukan ibadah tidak dianggap sah apabila tidak membaca dan disertai niat sebelumnya.

Niat puasa  ramadhan memang harus dilakukan didalam hati. Namun disunnahkan juga untuk dilafalkan. Waktu untuk mengucapkan niat puasa Ramadhan terhitung mulai dari setelah waktu buka puasa yaitu tenggelamnya matahari hingga sebelum terbit fajar Subuh. Namun kerap kali niat puasa ramadhan ini diucapan bersama-sama setelah sholat tarawih.

Lafal atau bacaan niat puasa Ramadhan yang tepat adalah sebagai berikut:

Ilustrasi© dream.co.id

NAWAITU SHOUMA GHADIN AN ADAAI FARDLI SYAHRI RAMADLANA HADZIHIS SANATI FARDLAL LILLAHI TA’ALA.

Artinya: “ Saya berniat puasa esok hari untuk menjalankan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”

2 dari 4 halaman

Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh

Ilustrasi© unsplash.com

Selain niat puasa ramadhan harian, ada juga niat puasa ramadhan untuk satu bulan penuh. Niat puasa Ramadhan sebulan penuh yang dimaksud adalah niat yang dibaca pada malam pertama bulan Ramadan dengan cara mengumpulkan niat puasa Ramadan sebulan penuh. Sehingga pada hari esok dan seterusnya tidak perlu membaca niat lagi.

Niat puasa Ramadhan sebulan penuh terkadang digunakan sebagai antisipasi apabila lupa membaca niat harian. Niat sendiri memang sangat penting dibaca jelang berpuasa, niat berfungsi untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan.

Bacaan niat puasa Ramadhan sebulan penuh ditujukan untuk menunjukkan keseriusan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Berikut lafalnya:

NAWAITU SHAUMA SYAHRI RAMADHAANA KULLIHI LILLAAHI TA’AALAA.

Artinya: “ Aku niat berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."

3 dari 4 halaman

Pendapat Pertama Tentang Niat Puasa Ramadhan

Ulama dari empat mazhab sepakat bahwa puasa Ramadhan wajib dimulai dengan niat. Hanya saja mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai aturan pembacaan niat puasa ramadhan. Menurut tiga mazhab selain Malikiyyah, niat wajib diulangi dan diperbarui setiap harinya menjelang berpuasa.

Imam Syafi’i, Malik, Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya menyatakan bahwa niat puasa ramadhan harus dilakukan di malam hari, yaitu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Jika niat dilaksanakan di luar waktu tersebut, maka hukumnya tidak sah.

Sedangkan, Abu Hanifah dan para pengikutnya mengatakan bahwa niat puasa dapat dilakukan mulai terbenamnya matahari sampai pertengahan siang. Artinya, tidak wajib melakukan niat di malam hari.

Kelompok pertama yang terdiri dari imam Hanafi, Syafi’i, dan Hambali mewajibkan untuk memperbaharui atau melakukan niat puasa setiap hari.Mereka berargumen bahwa hari-hari dalam bulan Ramadhan itu bersifat independen dan tidak saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Batalnya satu hari puasa tidak berpengaruh pada batalnya hari yang lain.

Oleh sebab itu mereka berpegang pada aturan untuk selalu mengucapkan niat puasa ramadhan yang baru setiap harinya.

4 dari 4 halaman

Pendapat Kedua tentang Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh

Ilustrasi© Pexels

Di sisi lain, kelompok kedua yang terdiri dari imam Malik dan para pengikutnya tidak mensyaratkan pengulangan niat setiap hari. Bagi mereka, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan di malam hari pertama bulan Ramadhan.

Di dalam kitab Hasyiyata Qalyubi Wa Umairah, juz 2, halaman 52, disebutkan:

“ Dan pada malam pertama, disunnahkan bagi seseorang untuk niat puasa bulan Ramadhan atau puasa Ramadhan seluruhnya, agar dapat mengambil manfaat dari bertaqlid pada Imam Malik terkait kekhawatiran lupa tidak melakukan niat pada suatu malam. Sebab menurutnya, niat itu sudah mencukupi selama sebulan. Sedangkan menurut pandangan mazhab kami, yang demikian itu hanya cukup untuk malam pertama saja”. (Syihab al din al Qalyubi, 1988: 232)

Menurut mazhab Maliki, karena bacaan niat puasa ramadhan sama setiap harinya, sebenarnya tidak ada Fariq (titik perbedaan) antara niat sebulan berpuasa di awal Ramadhan dan hari berikutnya.Puasa Ramadhan adalah satu jenis ibadah yang dilakukan sepanjang hari bulan Ramadhan sehingga seperti sebuah satu kesatuan.

Adapun Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, salah seorang pakar fiqih mazhab Malikiyah menegaskan:

“ Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”

Karena manusia tempatnya lupa, referensi dari mazhab Maliki tersebut bisa menjadi langkah yang baik untuk berjaga-jaga apabila lupa mengucapkan niat puasa ramdhan harian, sebab bagaimana pun memperbarui niat setiap hari senantiasa memperbarui ingatan kita untuk tetap melakukan puasa karena Allah SWT.

Beri Komentar