Sumpit Untuk Makan Sushi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menggunakan sumpit untuk makan mi jadi hal yang lazim dilakukan di mana pun. Sumpit juga biasanya digunakan masyarakat Indonesia, saat menyantap olahan khas Jepang, Korea atau China.
Kita bisa saja meggunakan sendok, tapi saat pakai sumpit rasa makanan jadi lebih nikmat. Pernah terpikirkan oleh Sahabat Dream mengapa warga tiga negera tersebut selalu menggunakan sumpit?
Yuk kita simak dulu sejarahnya. Ternyata, sumpit tidak selalu menjadi alat makan utama bagi orang-orang di Asia Timur maupun Tenggara. Mengutip dari A Cultural and Culinary History, sendok sebenarnya adalah alat makan paling awal bagi orang-orang zaman kuno.
Pada abad ke-10, millet atau sejenis biji-bijian, menjadi bahan pangan yang dominan di China Utara, Korea, dan Jepang. Millet lebih kecil dari beras dan dimasak menjadi bubur. Sehingga masyarakat Asia Timur menggunakan sendok untuk makan.
Merebus dan mengukus adalah metode masak masyarakat Asia. Pada zaman itu, makanan yang direbus tidak hanya biji-bijian atau millet tadi, namun juga bahan pangan non-gandum.

Makanan non-gandum ini seperti sayuran atau lainnya. Saat makan rebusan, maka harus menggunakan sumpit agar mengambil rebusan seperti sayuran menjadi lebih efisien. Sebenarnya, sumpit adalah alat bantu makan untuk mengambil makanan non-gandum itu tadi.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, mereka mulai mengadopsi batu giling dalam penggilingan gandum menjadi tepung terigu. Di sinilah sumpit mulai punya peran pengganti sendok.

Pada abad 10, gandum telah menggeser millet sebagai makanan pokok di China utara dan diikuti orang Korea. Mereka mulai membentuk gandum menjadi olahan makanan dengan bentuk yang sama yaitu mi.
Untuk efisiensi dalam makan, sumpit menjadi alat yang sangat efektif untuk makan mie dan tetap dilakukan hingga saat ini.
Penjelasan selengkapnya baca di Diadona.id
Dream - Ramen telah menjadi makanan pokok di Jepang hampir seabad. Tetapi, hidangan mi ini baru diperkenalkan di negara Barat terutama di Amerika Serikat setelah penciptaan ramen instan pada 1970an.
Sejak itu, ramen kian populer. Kedai ramen bermunculan, dengan koki yang didatangkan langsung dari negeri Sakura. Kini, ramen seakan jadi hidangan favorit lintas negara.

Efeknya adalah aspek kultural dan keaslian pengolahan ramen kerap mengalami penyesuaian. Rasa, tekstur hingga penyajian, akan sulit menyamakan dengan sajian ramen yang ada di Jepang.
Mantan koki ramen dan Japanese noodle expert, Mark Hoshi, mencoba memberi informasi pada khalayak internasional seputar budaya dan indus ramen yang asli, melalui situs dan mediasosial " Ramen Culture" .
" Saya besar di rumah Jepang dan orang tua saya selalu membawa pulang makanan Jepang," kata Hoshi.
Walaupun besar di Los Angeles, Hoshi menghabiskan hampir 10 tahun tinggal di Jepang. Saat tinggal di sana, ia magang dengan Chef Ikuta Satoshi di Ramen Nagi, Tokyo.
Tidak lama setelah itu, ia memilih menuangkan kecintaannya terhadap ramen dengan bekerja full time bersama Chef Yukihiko Sakamato di toko ramen terpopuler di Jepang. Toko tersebut adalah Menya Itto. Hoshi lalu kembali ke Amerika dan memulai Ramen Culture.
Menurut Hoshi, ada lima komponen penting dalam ramen yaitu mi, kuah, kuah dasar, topping, dan aroma minyak. Hal yang paling menggelitik Hoshi adalah ketika orang banyak orang berpikir bahwa miso dan tonkotsu ramen adalah menu yang sama.

Menurutnya, ramen memiliki variasi yang berbeda, tergantung bahan apa yang dipakai. Misalnya Jiro-style ramen, di dalamnya terdapat potongan daging berlemak dengan sup tonkotsu, shoyu, dan mie tebal. Rasa, ramen ini lebih berat daripada ramen lainnya.
Ada pula Shio-style ramen yang terkenal dengan rasa asinnya. Selain itu, tsukemen ramen disiapkan dan dihidangkan berbeda dari ramen lainnya.
Restoran yang menyajikan tsukemen ramen, menghidangkan mie soba dingin yang terpisah dari kaldu ramen. Pelanggan, kemudian mencelupkan mi ke dalam dashi soup base.
Ada tips unik dari Hoshi untuk mencari kedai ramen yang menyajikan menu yang nikmat. Yaitu dengan melihat kondisi toiletnya.
" Jika mereka menyediakan toilet yang sangat bersih, maka mereka memerhatikan hal kecil dengan sangat baik," ujarnya.

Hoshi menambahkan, jika di dapur terdapat noodle timer (waktu masak mie hingga mencapai tingkat kematangan yang pas), maka ini menunjukkan koki tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Tidak ada cara yang benar atau salah saat memakan mie. Menurut Hoshi, setiap orang dapat memakan mie sesuai gaya mereka masing-masing.

" Tradisionalnya, kamu menyeruput mie. Tetapi, bagi orang yang tidak besar di lingkungan Jepang akan merasa sedikit tidak nyaman untuk melakukan hal itu," ungkap Hoshi.
Menurut Hoshi, di Jepang, kebanyakan orang menghabiskan semangkuk ramen selama 12 menit. Sementara bagi orang non Jepang, cenderung menyantap ramen lebih lama. Ternyata hal ini berdampak buruk bagi tekstur mie yang terlalu lama terendam kuah.
Semakin lama menyantap mi, semakin lembek nantinya. Oleh karena itu, di Amerika, diadakan eksperimen di berbagai restoran ramen untuk menyajikan berbagai tipe mie yang dapat menyerap kaldu di tingkat berbeda.

Hal ini memudahkan pelanggan agar saat mencoba memadukan mie dengan kaldunya tetap dapat menghasilkan rasa yang konsisten.
" Mi adalah yang paling penting karena ini memberikan tekstur yang berbeda saat menyeruputnya," kata Hoshi.
Sering kali, Hoshi melihat koki Amerika memilki pemikiran keliru soal ramen. Ia sering melihat berbagai restoran hanya memasukan mie ke dalam miso soup dan menamakannya ramen.

" Ramen adalah ramen ketika ada sifat basa di dalam mie nya. Jika tidak ada, maka itu bukan ramen," kata Hoshi.
Laporan: Keisha Ritzska Salsbila/ Sumber: Food Insider