Potensi Besar, Sun Life Indonesia Gandeng Bank Muamalat Jadi Agen Asuransi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 20 Juni 2019 06:12
Potensi Besar, Sun Life Indonesia Gandeng Bank Muamalat Jadi Agen Asuransi
Kerja sama ini disebut bisa meningkatkan akses masyarakat terhadap produk keuangan syariah.

Dream – PT Sun Life Financial Indonesia menggandeng PT Bank Muamalat Tbk untuk bisnis banccassurance. Bank syariah ini akan menjadi agen penjual asuransi syariah Sun Life.

Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia, Elin Waty, mengatakan sektor syariah menjadi sektor bisnis yang krusial bagi perusahaan. Saat ini bisnis syariah terus menunjukkan tren yang positif dengan menyumbang sekitar 9 persen dari total premi Sun Life secara keseluruhan.

“ Kolaborasi ini sekaligus menegaskan konsistensi Sun Life dalam menghadirkan solusi asuransi berbasis syariah yang terjangkau dan memberi manfaat lebih bagi masyarakat,” kata dia di Jakarta.

Elin menjelaskan, potensi industri keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar mengingat negara ini memiliki penduduk Muslim terbanyak di dunia. Sayangnya, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan syariah pada 2016 baru mencapai 8,16 persen.

Sementara itu, data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menunjukkan peningkatan penetrasi asuransi jiwa syariah selama 2018, meski masih di bawah 5 persen. Artinya, potensi industri asuransi syariah untuk bertumbuh dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi bangsa masih sangat besar.

“ Untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan literasi dan penetrasi keuangan syariah di tanah air, Sun Life berkolaborasi dengan Bank Muamalat dalam menghadirkan kemudahan bagi masyarakat untuk menjangkau produk asuransi syariah melalui jalur distribusi bancassurance,” kata dia.

Sekadar informasi, kerja sama ini dikukuhkan melalui penandatanganan yang dilakukan oleh Chief Partnership Distribution Sun Life Financial Indonesia, Danning Wikanti, dan Retail Banking Director Bank Muamalat, Purnomo B. Soetadi. Penandatanganan kerja sama ini disaksikan oleh CEO Bank Muamalat, Achmad K. Permana, dan Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia, Elin Waty.

1 dari 6 halaman

Disambut Baik

Permana menyambut baik kerja sama dengan Sun Life Financial Indonesia. Kemitraan bancassurance dengan perusahaan asuransi ini bisa menghadirkan beragam layanan dan produk keuangan syariah kepada nasabah.

“ Menggabungkan jangkauan nasabah Bank Muamalat yang tersebar di seluruh Indonesia dengan keunggulan Sun Life sebagai pionir bagi industri asuransi syariah tanah air, kami percaya melalui kerja sama ini semakin banyak masyarakat di Indonesia yang dapat meraih berbagai manfaat dan keunggulan yang ditawarkan produk asuransi perbankan berbasis syariah,” kata dia.

Kerja sama ini mencakup di antaranya, penempatan Tenaga Pemasar Asuransi Sun Life di cabang-cabang Bank Muamalat Indonesia (in-branch), Telemarketing, serta melalui e-banking. Produk-produk yang dipasarkan termasuk Single Premium Unit Link, Regular Premium Unit Link, Term Life serta Micro Insurance yang akan dipasarkan melalui distribusi e-banking.

Untuk tahap awal kerja sama ini, dalam waktu dekat Sun Life akan meluncurkan produk unit link yang akan dilengkapi dengan fitur wakaf. Kehadiran produk ini akan menjawab kebutuhan nasabah akan proteksi dan perencanaan keuangan yang lebih baik, sekaligus memenuhi kebutuhan nasabah dalam beribadah, khususnya dalam berwakaf.

“ Melalui kemitraan ini, Sun Life berupaya untuk terus mendukung usaha pemerintah dalam meningkatkan literasi dan penetrasi masyarakat terhadap manfaat dari asuransi syariah, melalui inovasi produk yang menjawab kebutuhan, serta peningkatan jaringan demi memudahkan masyarakat menjangkau produk syariah ,” kata Elin.

2 dari 6 halaman

Raih Berkah Wakaf Lewat Asuransi Sun Life Financial

Dream - Setiap Muslim tentu sangat dianjurkan untuk menjalankan amalan baik. Terutama amalan itu memberikan dampak terhadap kesejahteraan umat.   Seiring perkembangan zaman, kesadaran Muslim untuk beramal semakin meningkat. Banyak dari saudara kita yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, terutama lewat wakaf.   Wakaf sendiri merupakan amalan sunah bernilai ibadah yang dijalankan dengan cara menyerahkan harta agar bisa diambil manfaatnya oleh umat.   Sarana wakaf kini juga semakin mudah. Muslim tidak perlu lagi pusing menentukan harta apa yang bisa diwakafkan.    PT Sun Life Financial Indonesia hadir memberikan solusi bagi kebutuhan untuk berwakaf. Lewat produk Brilliance Hasanah Maxima, para Muslim dapat meraih berkah wakaf sembari berasuransi.   Nah, seperti apa produk asuransi plus wakaf ini? Sun Life Financial bakal mengupasnya lewat talkshow bertajuk 'Berwakaf dengan Pasti, Kini, dan Nanti.'   Digelar di Ballroom I Aston Palembang Hotel, Sumater Selatan, Kamis, 1 Oktober 2018, talkshow ini mengajak masyarakat Muslim Palembang, khususnya Hijabers Community dan IWAPI untuk belajar lebih dalam mengenai wakaf asuransi.   Bersama Chief Sharia Business Sun Life Financial Indonesia, Norman Nugraha, dan desainer sekaligus public figure, Jenahara, talkshow yang berlangsung pada pukul 15.00-16.30 WIB ini bakal membahas seluk beluk dan manfaat berwakaf lewat asuransi.   Acara ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kesadaran Muslim untuk berwakaf. Ini mengingat wakaf mengandung potensi begitu besar bagi kesejahteraan umat. (ism) [crosslink_1]

3 dari 6 halaman

Asuransi Syariah Sun Life untuk Semua Keyakinan

Dream - Sun Life Financial Indonesia menambahkan fasilitas wakaf pada setiap produk asuransi syariahnya. Ini termasuk pada Brilliance Hasanah Maxima.

Chief Sharia Business Sun Life Indonesia, Norman Nugraha, mengatakan produk asuransi syariah ini tidak hanya ditujukan kepada umat Islam. Masyarakan non-Muslim juga dapat memanfaatkan produk tersebut.

" Untuk semua keyakinan, baik wakaf, donasi, namanya sangat diperbolehkan," kata Norman dalam acara 'Cultivate Kindness: Berasuransi dan Berwakaf dengan Pasti, Kini, dan Nanti' di Rooms Inc, Semarang, Jawa Tengah, Senin 15 Oktober 2018.

Selain itu, kata Norman, lewat Brilliance Hasanah Maxima, nasabah polis bisa mewakafkan sebagian manfaat investasi dan asuransi untuk wakaf. Misalnya, 45 persen dari manfaat asuransi.

" (Dengan produk ini), kami berharap keluarga Indonesia lebih sejahtera," kata dia.

4 dari 6 halaman

Manfaat Besar Wakaf, Bisa Bangun Indonesia

Dream - Potensi Indonesia untuk menjadi negara maju sangat besar. Potensi tersebut bahkan bisa terwujud jika sebagian besar umat Islam di Indonesia berwakaf.

Hal ini disampaikan oleh Chief Sharia Business Sun Life Financial Indonesia, Norman Nugraha. Dia mengatakan, jumlah umat Islam mencapai 87 persen dari total populasi penduduk di Indonesia sebesar 250 juta jiwa.

Jika ada sejumlah Muslim yang berwakaf, nilai yang tercatat sangat besar. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan negara.

" Potensinya Rp180 triliun per tahun," kata Norman dalam acara Cultivate Kindness: Berwakaf dengan Mudah Bersana Sun Life Financial Indonesia, di Rooms Inc, Semarang, Jawa Tengah, Senin 15 Oktober 2018.

Sayangnya, hingga saat ini realisasi wakaf hanya Rp400 miliar. Masih banyak umat Islam yang belum berwakaf. " Gapnya terlalu tinggi. Mengapa? Edukasinya masih rendah," kata dia.

Sekadar informasi, acara Cultivate Kindness dihadiri oleh komunitas hijaber dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Semarang. Acara ini juga dihadiri oleh desainer dan public figure, Jenahara.

5 dari 6 halaman

Wakaf Uang dalam Pandangan Ulama

Dream - Dalam Islam, ibadah yang berkaitan dengan hubungan sosial tidak hanya berupa zakat, infak, dan sedekah. Wakaf juga termasuk dalam ibadah mengandung dimensi sosial.

Wakaf dijalankan dengan cara menahan harta atau aset dilandasi tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, namun boleh dikelola yang manfaatnya untuk kemaslahatan umat.

Dalil yang menjadi dasar wakaf, salah satunya adalah riwayat Bukhari dari Ibnu Umar. Riwayat tersebut mencantumkan pertemuan antara Umar bin Khattab RA dengan Rasulullah Muhammad SAW terkait sebidang tanah di Khaibar.

" Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Umar bin Khattab memperoleh tanah (kebun) di Khaibar; lalu ia datang kepada Nabi SAW untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah! Saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya dapatkan harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah itu. Apa perintah Engkau (kepadaku) mengenainya?' Rasul Menjawab, 'Jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan hasilnya'. Ibnu Umar melanjutkan, 'Umar menyedekahkan tanah tersebut, (dengan mensyaratkan) bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Ia menyedekahkan hasilnya kepada fakir-miskin, kerabat, hamba sahaya, dalam sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa atas orang mengelolanya untuk memakan hasil tanah itu sewajarnya, dan memberi makan kepada orang lain, tanpa menjadikannya sebagai hak milik."

Riwayat tersebut menunjukkan bagaimana skema pelaksanaan wakaf. Yaitu dengan menahan kepemilikan harta, tetapi menyerahkan manfaat yang dihasilkan dari harta tersebut kepada orang lain.

Para pakar fikih selama ini menjelaskan harta yang bisa diwakafkan adalah harta tak bergerak, yang kemudian banyak dipahami sebagai tanah. Sementara, tidak semua orang memiliki tanah.

Kemudian muncullah gagasan mengenai wakaf harta bergerak. Salah satunya adalah uang. Bagaimana para ulama memandang keberadaan wakaf uang?

6 dari 6 halaman

Perdebatan Ulama

Dikutip dari laman Islami.co, ternyata para ulama tidak satu pendapat soal ketentuan wakaf, terutama mengenai jenis hartanya. Ini karena tidak ada dalil yang secara rinci membahas wakaf.

Misalnya seperti Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf. Dua ulama klasik ini tidak membolehkan wakaf harta bergerak seperti hewan atau uang. Sebab, harta bergerak dimungkinkan untuk habis manfaatnya seperti hewan bisa mati dan uang bisa habis dibelanjakan.

Wakaf dalam pandangan dua ulama ini mensyaratkan keutuhan dan keabadian harta. Ini dimaksudkan agar manfaatnya bisa diambil sepanjang masa.

Tetapi ada sebagian ulama mazhab ini membolehkan wakaf harta bergerak, selama mengiringi harta tidak bergerak. Sebagai contohnya, ternak kambing di atas tanah wakaf.

Pendapat ini hampir sama dengan pendapat ulama Mazhab Hambali. Mazhab ini membuat syarat harta yang bisa diwakafkan yaitu bisa diperjualbelikan, bernilai, mengandung manfaat, tidak berkurang saat digunakan.

Sedangkan harta yang nilai manfaatnya bisa dirasakan hanya dengan cara menghabiskannya, maka tidak boleh diwakafkan.

Tetapi, Mazhab Maliki berpendapat lain. Seluruh harta yang bermanfaat baik bergerak maupun tidak bergerak boleh diwakafkan. Bahkan Malik bin Anas, salah satu ulama Mazhab Maliki, juga membolehkan wakaf temporal misalnya hanya setahun atau dua tahun.

Pendapat tersebut dikuatkan oleh Muhammad Ibn 'Abdullah Al Anshari, yang menyatakan uang boleh diwakafkan selama menjadi modal usaha. Keuntungan dari usaha tersebut diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya.

Selengkapnya baca di sini

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik