Masya Allah, Inilah yang Sangat Membedakan Asuransi Syariah dari Konvensional

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 21 Februari 2020 14:48
Masya Allah, Inilah yang Sangat Membedakan Asuransi Syariah dari Konvensional
Ada asuransi syariah dan non syariah.

Dream - Sahabat Dream pasti sudah mengenal atau setidaknya mendengar tentang asuransi. Atau jangan-jangan di antara kamu ada yang sudah memiliki polis asuransi?

Asuransi banyak diterjemahkan orang sebagai penolong di saat seseorang mendapat cobaan atau musibah. Kala tak memiliki uang untuk berobat atau mengalami kerugian, pihak asuransi biasanya akan menanggungnya. Tentunya besar maupun hal yang ditanggung tergantun polis yang dimiliki.

Kita mengenal ada dua jenis asuransi yaitu umum dan jiwa. Asuransi jiwa biasanya terdiri dari kesehatan, kematian, dan kecelakaan.

" Asuransi umum yang banyak (jenis). (Misalnya), asuransi properti, mobil travel, kapal, dan bencana," kata Chief Strategy Officer Prudential Indonesia, Paul Setio Kartono, dalam " Prudential Indonesia Masterclass 2020" di Jakarta, Jumat 21 Februari 2020.

Seiring perkembangan industri keuangan syariah yang semakin berkembang, saat ini masyarakat juga mulai banyak yang mengenal asuransi syariah. Kehadiran jenis asuransi ini membuta muncul istilah asuransi konvensional.

Selain prinsip tata kelola yang berbeda, sebenarnya ada satu hal yang sangat membedakan asuransi syariah dan konvensional.

Paul menjelaskan ada lima perbedaan yang mendasar dari asuransi konvensional dan syariah yaitu prinsip dasar, peran perusahaan, keuntungan, pengawas, dan investasi.

" Yang paling utama adalah yang pertama," kata dia.

Menurut Paul, perbedaan utama dan paling penting dari asuransi syariah adalah prinsip risk transfer atau pengalihan risiko peserta asuransi. Di asuransi konvensional, risiko dialihkan kepada perusahaan. Semakin banyak klaim peserta, perusahaan akan semakin rugi dan begitu juga sebaliknya.

Prinsip berbeda dan mulia dianut oleh asuransi syariah. Risiko peserta asuransi syariah  akan ditanggung peserta yang lain. Paul bahkan mengibaratakan asuransi syariah mirip dengan sumbangan.

“ Kalau asuransi syariah, risiko akan ditanggung peserta,” kata Paul.

Dalam asuransi syariah, para peserta akan bergotong-royong membantu jika ada salah salah satunya mengalami suatu risiko.

“ Misalnya, peserta ada 10 ribu. Nah, mereka bayar kontribusi Rp100 ribu untuk menyantuni anggota keluarga yang meninggal,” kata dia.

1 dari 7 halaman

Perusahaan Asuransi Syariah Sebagai Pengelola Dana

Perbedaan selanjutnya adalah posisi perusahaan. Di asuransi konvensional, perusahaan sebagai penanggung risiko, sedangkan syariah menjadi manajer pengelola dana tabarru’. Untuk keuntungan? Keuntungan akan menjadi milik perusahaan.

“ Kalau di syariah, jadi surplus underwriting,” kata Paul.

Sekadar informasi, surplus underwriting adalah selisih dari total dana kontribusi peserta ke dalam dana tabarru’. Dana ini telah dikurangi pembayaran klaim/santunan.

Perbedaan selanjutnya adalah keberadaan dewan pengawas syariah di asuransi syariah, sedangkan di konvensional tidak.

Yang terakhir, dana yang diinvestasikan di perusahaan asuransi konvensional, akan ditempatkan di instrumen berbasis syariah dan non syariah. Sebaliknya di asuransi syariah, dana hanya ditempatkan di instrumen berbasis syariah.(Sah)

2 dari 7 halaman

Berantas Buta Huruf, Prudential Indonesia Literasi 2 Ribu Murid SD

Dream – PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) mendorong anak-anak Indonesia untuk bisa baca, tulis, dan hitung (Calistung). Perusahaan asuransi ini ingin pendidikan anak-anak Indonesia menjadi lebih maju.

Tekad itu dilakukan Prudential dengan menggelar program Literasi Kelas Awal (Early Grade Literacy), di kawasan Kabupaten Supiori, Papua. Program ini menggandeng badan PBB, UNICEF.

Sharia Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo, mengatakan perusahaan menyasar anak-anak Sekolah Dasar (SD) kelas 1-3 di 40 sekolah untuk program literasi ini.

 

 © Dream

 

“ Semangat pembangunan dengan menitikberatkan pada kemampuan mendasar seorang individu ini harus terus didukung sejak dini, di antaranya dengan melakukan perbaikan di lini utama sumber pendidikan anak yaitu rumah dan sekolah,” kata Nini di Supiori, Papua, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Rabu 24 Juli 2019.

Nini mengatakan program tersebut menyasar 2 ribu siswa kelas 1-3 SD di 40 SD. Ada lebih dari 4 ribu orang tua yang akan mendapatkan pendampingan literasi dan pemahaman tentang pentingnya pendidikan yang berkualitas.

3 dari 7 halaman

Masih Ada 28 Persen Orang Papua yang Buta Huruf

Saat ini, penduduk Indonesia yang telah melek aksara mencapai 97,9 persen, namun masih ada sekitar 2,06 persen atau 3,4 juta orang yang masih buta aksara. Sebanyak 28 persen dari jumlah tersebut merupakan penduduk di Papua.

Padahal, tingkat buta aksara di suatu wilayah menunjukkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) wilayah tersebut.

Data UNICEF tahun 2018 menunjukkan, 5 dari 10 anak di Tanah Papua yang tinggal di daerah pinggiran dan pedalaman belum bisa membaca. Untuk memastikan kesejahteraan anak di masa mendatang, hak dasar anak atas akses ke pendidikan harus terpenuhi terlebih dahulu.

“ Setiap anak berhak atas pendidikan,” kata dia.

4 dari 7 halaman

Literasi Pondasi Anak untuk Belajar Dunia Sekitar

Kepala Kantor UNICEF Papua dan Papua Barat, Try Laksono Harysantoso, mengatakan literasi merupakan pondasi bagi anak-anak untuk memahami dunia di sektiar mereka. Dia mengatakan keterampilan mendasar ini diperlukan untuk belajar.

“ Ketika seorang anak dapat membaca dan menulis, pintu menuju pengetahuan dan pengalaman baru terbuka,” kata Hary.

Pihaknya berterima kasih kepada perusahaan yang telah membantu program literasi bagi anak-anak. “ Ketika semua orang bisa membaca, seluruh komunitas akan dapat berkembang pesat,” kata dia.

5 dari 7 halaman

Libatkan Peran Orang Tua

Untuk mengakselerasi tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Supiori, program ini menyasar peningkatan literasi anak sejak dini, baik di rumah maupun sekolah. Di rumah, orang tua merupakan tokoh pendidik pertama yang penting bagi anak.

Orang tua juga memegang peranan penting dalam mendukung anak untuk mengenyam pendidikan.

Setelah cukup umur, anak dapat menerima pengajaran lebih luas melalui lembaga formal pendidikan yaitu sekolah. Sekolah Dasar merupakan basis pendidikan pertama.

Peningkatan mutu pendidikan dasar pada kualitas tenaga pengajar serta sarana sekolah seperti bahan pembelajaran untuk menyajikan pendidikan layak yang memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), pun diperlukan.

6 dari 7 halaman

Harus Disinergikan Lintas Sektor

Permasalahan pendidikan, khususnya literasi kelas awal, harus disinergikan secara lintas sektor karena dengan memiliki literasi yang baik dimulai dari kelas 1-3 SD, anak dapat mudah memahami materi pelajaran, mampu meneruskan tingkatan pendidikan sekolahnya dan meraih cita-citanya.

Bupati Kabupaten Supiori, Jules Fitzgerald Warikar, mengatakan Pemerintah Kabupaten Supiori memiliki misi untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan. Jules optimistis pendidikan menjadi langkah awal dalam membangun ekonomi dan kesejahteraan suatu daerah.

“ Kehadiran Program Penguatan Literasi Kelas Awal yang diinisiasi oleh Prudential Indonesia bersama UNICEF ini dapat membantu membantu upaya prioritas pemerintah untuk memberantas buta aksara, khususnya di wilayah timur yang makin berkembang seperti di Kabupaten Supiori,” kata dia.

7 dari 7 halaman

Laksanakan Empat Hal

Untuk menyukseskan program Penguatan Literasi Kelas Awal dengan pendekatan literasi berimbang, UNICEF akan mengimpelentasikan empat hal. Berikut ini adalah rinciannya.

1. Pengembangan kapasitas dan keterampilan mengajar guru melalui pelatihan dan pendampingan berkala.

Untuk mendukung para guru, akan disediakan juga paket bahan pendukung pengajaran termasuk sistem penilaian yang terstandardisasi EGRA (Early Grade Reading Assessment – Penilaian Membaca Kelas Awal).

2. Pengembangan bahan pembelajaran sesuai nilai lokal dan budaya setempat.

Secara khusus UNICEF menerbitkan 77 buku dengan beragam tingkat bacaan untuk melengkapi bahan bacaan dan mendukung kurikulum nasional K-13. Selain itu, akan disiapkan perpustakaan dan sudut baca ramah anak.

3. Advokasi untuk perubahan kebijakan utama di tingkat nasional dan daerah. Hal ini disertai pembagian paket bahan kepemimpinan yang efektif.

4. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan di tengah masyarakat.

Nini mengharapkan rangkaian program yang berjalan tiga tahun bisa memicu semangat dan peran orang tua dalam meningkatkan kemampuan calistung anak.

“ Dengan mencerdaskan anak-anak sejak dini maka kelak akan lahir individu yang berkualitas dan dapat berkontribusi positif di masa mendatang, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, lingkungan hingga kemajuan bangsa,” kata dia.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup