Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Ilustrasi
Dream - Bisnis keuangan syariah diperkirakan bakal kembali melesat dipimpin bisnis surat utang syariah atau sukuk. Para penerbit baru mulai bermunculan di bisnis baru ini.
Yordania, Tunisia, bahkan Mesir direncanakan bakal menerbitkan surat utang syariah pada tahun ini.
" Likuiditas akan semakin penting di tengah turunnya cadangan minyak dan pemerintah Negara Arab yang terus belanja dan membangun," kata lembaga pemeringkat Fitch Rating seperti dikutip dari laman nst.com, Kamis, 30 Mei 2015.
Kondisi ini menandakan penerbitkan surat utang syariah atau sukuk, akan semakin lebih banyak dibandingkan pembiayaan perbankan.
" Bank syariah juga mencoba untuk memperkuat neraca keuangan dengan mempersiapkan Basel III, yang artinya menangkap pasar sukuk," ungkap Fitch.
Dalam laporannya, Fitch menyebutkan total penerbitan sukuk dari negara teluk tumbuh 13 persen sepanjang kuartal I-2015 dibandingkan setahun sebelumnya.
Bahkan dibandingkan kuartal IV-2014, pertumbuhan penerbitan sukuk mencapai 47 persen. " Namun di kuartal I, stabilnya harga minyak mentah memunculkan transaksi baru."
Sepanjang tiga bulan pertama 2015, Fitch mencatat volume penerbitan sukuk tumbuh rata-rata 3,5 persen menjadi US$ 45,1 miliar.