Cantumkan Gelar Pendidikan Palsu di CV, Ini Akibatnya

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 15 September 2018 08:01
Cantumkan Gelar Pendidikan Palsu di CV, Ini Akibatnya
Bisa fatal.

Dream – Berhati-hatilah saat melamar pekerjaan? Jangan sampai kamu nekat mengirimkan surt lamaran dengan data-data tak benar apalagi sampai memanipulasi. Jika masih nekat, siap-siap saja menerima akibat fatal. 

Surat biodata atau curriculum vitea (CV) memang harus diisi dengan sejujurnya. Apalagi untuk bagian gelar akademis dan kelakuan baik.

Dilansir dari CNBC, Senin 15 September 2018, sebuah survei yang dilakukan oleh TopResume, melakukan survei tentang kebohongan para pelemar daalam CV-nya. Perusahaan ini meminta 629 perusahaan untuk memeringkat 14 kategori kebohongan di dalam resume.

Hampir separuh responden merupakan profesional di bidang HRD, perekrut, atau manajer perekrutan.

Hasilnya, kebohongan yang paling banyak dibuat kandidat adalah tentang kemampuan teknis, sertifikat, dan catatan kriminal. Namun yang terbanyak dari dua hal tadi adalah manipulasi gelar akademis.

Ada 89 persen responden yang menyebut kebohongan gelar akademis ini merupakan kebohongan paling serius dan bisa disebut perbuatan kriminal.

1 dari 2 halaman

Kenapa Banyak yang Bohong tentang Gelar Akademis?

Pakar karier di TopResume, Amanda Augustine, mengatakan kandidat berusaha agar tak tersingkir dari persaingan yang mensyaratkan gelar pendidikan tertentu. Namun, lanjutnya, kandidat sama sekali tak disarankan berbohong tentang gelar pendidikan.

“ Perusahaan bisa memverifikasi informasi ini dengan mudah,” kata dia.

Augustine menyarankan kandidat untuk jujur tentang gelar pendidikan. “ Tanyakan pada dirimu keterampilan apa yang ditawarkan,” kata dia.

Kalau gelar masih dalam proses, jelaskan di resume dan catat tanggal kelulusan yang diharapkan.

2 dari 2 halaman

Akibat Fatal Jika Berbohong

Augustine mengatakan kejujuran diperlukan dalam menulis gelar pendidikan. Sebab, kalau ketahuan bohong, perusahaan tidak akan mempercayainya. Tak hanya itu, peluang untuk bekerja di sana semakin sempit, bahkan tidak ada.

Dia juga menyarankan kandidat tidak keras dan saklek terhadap lowongan kerja yang diincar. Kalau belum mengantongi sertifikat kelulusan, kandidat harus mengubah strategi. Misalnya, mencari lowongan kerja yang tidak terlalu fokus kepada gelar akademik, tetapi pada keterampilan.

Misalnya, Google, Apple, dan IBM tidak terlalu mementingkan gelar. Begitu pula dengan perawatan kesehatan yang tidak menerapkan syarat pendidikan untuk bekerja. 

Beri Komentar