Uang Ngopi Generasi Milenial Bisa untuk Berangkat Haji

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 28 November 2019 18:12
Uang Ngopi Generasi Milenial Bisa untuk Berangkat Haji
Bagaimana caranya?

Dream - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mendorong generasi muda untuk berhaji. Instansi keuangan ini berbagi tips agar bisa mengumpulkan uang agar bisa ke Tanah Suci dalam waktu empat tahun.

Anggota Bidang Operasional BPKH, Iskandar Zulkarnain, mengajak anak-anak muda untuk mulai menabung sejak awal masa kuliah. Dengan demikian, dalam empat tahun, uang untuk berangkat haji sudah terkumpul.

" Misalkan kampus-kampus kita edukasi, mereka mulai daftar pada saat kuliah awal dia menabung. Setelah lulus, dia sudah cukup tuh Rp25 juta," kata Iskandar, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 28 November 2019.

Uangnya berasal dari anggaran jajan yang disisihkan setiap hari. Kalau konsisten menabung, naik haji bukanlah menjadi perkara yang sulit.

Lalu, berapa uang yang harus disisihkan setiap hari?

1 dari 6 halaman

Cukup Rp20 Ribu

Jika anak muda menabung Rp20 ribu per hari, kata Iskandar, uang yang terkumpul selama empat tahun bisa mencapai Rp25 juta. Uang ini menjadi modal awal untuk berangkat haji.

“ Kami ada simulasi. Daripada mereka ngopi-ngopi Rp20 ribu, (lebih baik) tabung saja Rp20 ribu. Empat tahun sampai Rp25 juta. Jadi, minimal kami membuka wawasan sebenarnya bisa, kok, tahap awal untuk mendapatkan seat,” kata dia.

Ada 75 persen dari umat yang mendaftar haji yang berusia di atas 40 tahun. Rata-rata waktu antrean untuk berangkat haji sebesar 20 tahun dan mereka akan berangkat sekitar 60 tahun.

" Sehingga kalau (usia) 40 tahun mendaftar, berangkatnya (usia) 60. Kalau pensiun (baru) mendaftar, (usia) 55 tahun berarti berangkat umur 75 tahun," kata dia.

2 dari 6 halaman

Dorong Gerakan Haji Muda

Pergi haji dalam usia tua, kata Iskandar, berpotensi membuat ibadah haji tak sempurna. “ Makanya, kami ada gerakan Mina, mari tunaikan haji selagi muda. Gerakan haji muda," kata dia.

Karena itulah pihaknya menggelar berbagai edukasi kepada generasi muda, khususnya mahasiswa untuk mulai merencanakan keuangan demi tercapainya impian menunaikan ibadah haji.

" Kalau dia mahasiswa mulai merencanakan, dia menabung, usia 25 tahun mulai daftar haji, dia dapat antrean begitu usia 45 tahun dia sudah (berangkat)," paparnya.

" Usia 25 dia langsung daftar. Kalau antrean 20 tahun kan usia 45 tahun berangkat. Sehingga haji-haji kita nanti generasinya muda-muda," kata dia.

3 dari 6 halaman

Kuota Haji Cadangan 2020 Naik Jadi 10 Persen, Alhamdulillah

Dream - Menteri Agama, Fachrul Razi mengatakan, pemerintah akan menambah kuota haji cadangan sebesar 10 persen untuk tahun 2020.

" Sebelumnya, kuota haji cadangan hanya sebesar 5 persen atau sekitar 10.200 jemaah," kata Fahcrul, diakses dari laman resmi Kemenag, Selasa, 26 November 2019.

Fachrul mengatakan, penambahan kuota haji cadangan itu dilakukan agar kuota haji utama dapat terserap secara optimal.

Menurut Fachrul usulan penambahan tersebut berkaca pada pelaksanaan haji di tahun 2019. Kuota haji Indonesia yang terserap pada musim haji tahun ini mencapai 99,44 persen.

" Dari 214 ribu kuota jemaah haji reguler, telah diberangkatkan sebanyak 212.732 jemaah. Ini terdiri dari 211.298 jemaah haji dan 1.434 Petugas Haji Daerah," kata dia.

 

 © Dream

 

Data Kemenag, lanjut Menag juga mencatat ada 1.189 jemaah dan 79 Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) yang batal berangkat pada musim haji 2019. Padahal para jemaah dan pemandu tersebut sudah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) dan mengantongi visa.

" Namun, karena alasan pribadi, mereka banyak mengundurkan diri. Mulai dari alasan sakit, hamil, atau pun alasan pribadi lainnya," ucap dia.

4 dari 6 halaman

Layanan Fast Track dan Visa Berbayar Haji, RI Lobi Saudi

Dream - Menteri Agama, Fachrul Razi akan menegosiasikan layanan fast track dan visa berbayar haji dengan Menteri Haji Arab Saudi, 2 Desember 2019.

" Ada beberapa hal yang akan kita bicarakan, utamanya terkait dengan perbaikan layanan haji," kata Fachrul, diakses dari laman resmi Kemenag, Selasa, 26 November 2019.

Fahcrul mengatakan, usulan penerapan fast track bagi jemaah haji Indonesia menjadi penting dibicarakan. Layanan ini akan memangkas waktu jemaah agar tidak perlu melakukan proses imigrasi setibanya di Bandara Jeddah dan Madinah.

" Saat ini, fast track baru dapat dinimkati oleh jemaah haji dari Provinsi DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Jawa Barat. Ke depan kami berharap akan ditambah lagi jemaah haji yang dapat memperoleh fasilitas fast track," kata dia.

Sementara itu mengenai visa berbayar, Fachrul akan meminta penundaan pemberlakuan. Seperti diketahui, Arab Saudi rencananya menetapkan biaya visa sebesar 300 riyal, Rp1,12 juta, bagi setiap jemaah yang akan berhaji.

" Jumlah jemaah haji kita kan terbesar, jadi ini nanti akan kita bicarakan. Apakah memungkinkan untuk ada penundaan penerapan aturan tersebut atau bagaimana nanti," ucap dia.

Selain dua hal tersebut, Fachrul juga mendorong Arab Saudi memperbaiki layanan di Mina. Sebab, seperti diketahui, layanan ini paling banyak dikeluhkan jemaah haji dari tahun ke tahun.

5 dari 6 halaman

Kemenag Belum Bahas Persiapan Haji 2020

Dream - Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama, Nizar Ali, mengatakan, belum ada pembahasan mengenai persiapan haji 2020. Sejauh ini, Kemenag masih melakukan evaluasi pelaksanaan haji 2019.

" Persiapan tahun depan belum karena kan penandatanganan MoU (Master of Understanding/nota kesepahaman) belum dilakukan, jadi belum bisa (disampaikan). Persiapan, ya seperti biasanya masih evaluasi-evaluasi pelaksanaan haji 2019," ujar Nizar di gedung DPR, Jakarta Kamis 7 November 2019.

Menurut Nizar, meski Indeks Kepuasan Jemaah Haji 2019 mencapai tingkat sangat puas, ada beberapa bagian yang harus diperbaiki. Salah satunya mengenai keramahan sopir bus yang biasa melayani jemaah Indonesia.

" Kriteria sopir antarkota, provinsi tidak ramah dan itu kita upayakan memilih sopir yang memiliki tingkat keramahan dengan jemaah," ucap dia.

6 dari 6 halaman

Selera Tak Sama

Selain itu, Kemenag juga meminta bus yang digunakan untuk mengantarkan jemaah haji Indonesia berusia tidak lebih dari lima tahun. 

" Dari sisi produksi bus yang digunakan antar kota itu kita grade jadi yang lima tahun terakhir. Bus Shalawat juga," kata dia.

Evaluasi haji lainnya yaitu mengenai menu makanan. Banyak jemaah mengeluh bosan dengan menu yang disediakan.

" Komplain bosan. Kalau selera kan nggak bisa disamakan," ujar dia.

Selain itu, Kemenag berencana menambah petugas haji terutama di daerah Arafah, Mina, dan Muzdalifah (Armuzna). " Hanya itu saja usul dari jemaah," kata dia.

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya