Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dirut Bank Syariah Mandiri, Agus Sudiarto (Dream.co.id/Syahid)
Dream - Pelaku bank syariah yakin bisa memenuhi ambisinya menjadi poros keuangan Islami di Indonesia jika masuk dalam pembangunan infrastruktur negara. Niat ini bisa tercapai jika saja tantangan yang ada bisa segera diselesaikan bank syariah.
" Ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh bank syariah untuk dapat menjadi lokomotif ekonomi Indonesia," kata Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Agus Sudiarto dalam Muktamar III Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI), Kamis, 30 April 2015, di Jakarta.
Sebagai sektor usaha yang membuka jalan penerapan sistem ekonomi syariah di Indonesia, Perbankan selama ini memang diharapkan bisa berada di barisan terdepan dalam memimpin laju ekonomi berbasis hukum Islam tersebut.
Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 197 bank syariah dengan pertumbuhan agregat bank sebesar 43,16 persen, jauh melebihi bank konvensional yang hanya mencapai 12,4 persen.
Meski tumbuh pesat, Agus mengakui pelaku bank syariah masih menghadapi sejumlah tantangan besar. " Di antarannya adalah sumber daya manusia, permodalan, regulasi, market dan infrastruktur," katanya
Khususnya sumber daya manusia, Agus mengakui kompetensi para pelaku perbankan syariah masih belum memenuhi standar. Tidak semua lulusan program studi perbankan syariah memenuhi kualifikasi dalam seleksi perekrutan pegawai di bank syariah.
" Untuk hal ini kita perlu kerjasama dengan perguruan tinggi agar membuat kurikulum standar yang dapat memenuhi kebutuhan perbankan syariah kita," katanya.
Pakar Ekonomi Islam Adiwarman Azhar Karim, menambahkan posisi bank syariah di Indonesia memang masih lemah dalam berbagai sisi. Pertama, likuiditas perbankan syariah diakui tidak mungkin dapat membiayai pembangunan infrastruktur.
Tantangan kedua, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) Bank Syariah masih sangat kecil. “ Ketiga, belum ada penciptaan produk secara berlapis (structure finance)," pungkas Adiwarman yang juga anggota Dewan Syariah Nasional.
(Laporan: Kurnia Yunita)
Baca Juga: Menkeu: Aset Bank Syariah Sulit Lewati `Angka Keramat` Menkeu Wacanakan Merger Bank Syariah BUMN Pasar Syariah Terbesar, RI dan Malaysia Berlomba Saingi Saudi Wow! Tabungan Orang Indonesia Rp 4.222 Triliun RI Bakal Jadi `Markas` Bank Investasi Infrastruktur Islam Ini Negara dengan Biaya Pengiriman Uang Termurah Malaysia Tergiur Dirikan Bank Syariah di Jerman
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya