Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pertumbuhan aset perbankan syariah hingga saat ini masih mentok di bawah 5 persen. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai, kondisi itu mengindikasikan adanya kekurangan yang menjadi kelemahan mendasar perbankan syariah.
Menurut Bambang, setidaknya ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para pelaku di sektor ini, yaitu kemampuan daya saing dan pemberian kenyamanan para investor.
" Lima persen (pertumbuhan aset perbankan syariah) ini seperti angka keramat yang susah sekali dilewati. Biasanya ini karena ada kelemahan mendasar yang menurut perkiraan saya tampaknya masalah saya saing dan comfortability para investor di negara sendiri," ungkapnya dalam Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah 2015 di Universitas Indonesia, Depok, kemarin.
Untuk memiliki daya saing, perbankan syariah harus memiliki pelayanan yang baik, return yang tinggi, serta reputasi yang baik. Hal ini sangat berkaitan dengan jajaran direksi bank syariah.
" Kita bisa lihat di ATM Mall, mana bank yang antriannya panjang. Biasanya bank itu memiliki pelayanan, return, dan reputasi yang baik. Kalau masalah produk, produk bank syariah sudah banyak," jelasnya.
Sementara itu, bagaimana dengan memberikan kenyamanan di negara sendiri? Bambang menyatakan perbankan syariah sudah sepatutnya bisa memberikan kenyamanan bagi masyarakat, terutama masyarakat muslim di tanah air. Jangan sampai ada masyarakat yang merasa bank syariah Indonesia justru merugikan dirinya selaku nasabah.
" Di Arab itu tidak ada bank syariah, adanya bank yang menyediakan produk konvensional dan syariah. Namun, sempat ada surat pembaca yang menyatakan dirugikan oleh bank syariah, sudah tidak dapat apa-apa, dia juga harus membayar biaya yang tinggi untuk kreditnya. Hal ini jangan sampai terjadi di Indonesia," ujarnya.
Untuk itu, lanjut Bambang, diperlukan pemikiran yang visioner mengenai kebutuhan masyarakat ke depannya. Pemikiran visioner ini yang kemudian dituangkan dalam rancangan undang-undang.
" Jadi perlu diperhatikan bagaimana bank syariah itu memiliki semangat ke-Islam-an, menyediakan kebutuhan masyarakat, sehingga tidak ada masyarakat yang berpikir bank syariah merugikan masyarakatnya sendiri," tegasnya.(Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya