Dulu Ditolak, Kini Pisang Goreng Madu Bu Nanik Laris Manis

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 20 November 2019 13:23
Dulu Ditolak, Kini Pisang Goreng Madu Bu Nanik Laris Manis
Dulu, banyak orang tak tertarik dengan penampilan pisang goreng madu.

Dream - Siapa yang tak kenal dengan Pisang Goreng Madu Bu Nanik? Pisang goreng kehitaman nan manis itu berhasil merebut hati masyarakat. Jajanan serupa memang dijual luas, tapi bisnis Pisang Gireng Madu Bu Nanik terus berkembang hingga terkenal.

Tapi ternyata, membangun bisnis pisang goreng ini tak semudah mengupas kulit pisang. Sang pendiri pisang goreng madu, Nanik Soelistiowati, mengaku harus jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya hingga tersohor.

Awalnya Nanik memiliki usaha katering. Dia biasa memasok makanan ke hotel-hotel, baik hidangan utama maupun snack. Makanan yang masuk ke hotel haruslah bagus dan bermutu. Tapi ada yang tak lolos seleksi, yaitu pisang.

Pisang-pisang tersebut diambil untuk diolah lagi sesuai dengan resep keluarga. Di sinilah merek Pisang Goreng Madu dimulai.

“ Kalau pisang yang bagus, mereka ambil dan yang tidak bagus, pisang-pisangnya dibuang. Sayang. Saya olah jadi pisang sale, pisang goreng. Kebiasaan keluarga , kami (olah) pakai madu,” kata Nanik, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 20 November 2019.

1 dari 5 halaman

Ditolak Karena Mirip Pisang Gosong

Tampilan pisang goreng madu memang tak menarik. Malah, mirip pisang gosong. Tak mengherankan jika produknya ditolak saat pertama kali ditawarkan.

“ Kita coba di gerai saya. Setiap jumat saya punya menu spesial, ya buah atau snack atau es. Saya keluarin pisang madu, tapi mereka tidak mau. Saya kumpulkan yang di hotel itu. 'Ibu jangan dijual lagi, semua marah. kasih tahu ibumu ya, pisang gosong dikasih orang'," kata dia.

Tapi penolakan tersebut berangsur hilang ketika pisang madu racikannya dicoba. 'Pisang gosong' tersebut, ternyata mulai menawan lidah orang yang mencicipinya. Pisang madu Nanik mulai diterima, bahkan perlahan-lahan menjadi menu snack utama yang dipesan pihak hotel padanya.

“ Mungkin setelah makan mereka merasa enak. Saya tidak keluarin lagi karena tidak boleh, tapi ternyata mereka sudah merasakan dan enak. Cari di tempat lain tidak ada. Dari situ mereka bilang kalau snack selain pisang madu, jangan lagi,” kata dia.

2 dari 5 halaman

Pemasaran Pisang Madu

Tahu bahwa pisang madu harus terlebih dahulu mendapatkan penerimaan dari pelanggan dan calon pelanggan alias mengetes pasar, Nanik memutuskan untuk tak cepat-cepat menjadikannya sebagai pendulang rupiah.

Di tahap-tahap awal, pisang madu tidak dia jual. Kalau pun ada yang berniat membeli, dia melegonya dengan harga murah, Rp1.000 hingga Rp2 ribu per buah.

" Kalau orang lewat, saya suruh coba cicipin, 'enggak ah, gosong'. Tapi setelah mereka makan, suka. Saya banyak bikin tester," kata dia.

Nanik mengungkapkan sulit memasarkan pisang yang penampilannya tidak menarik. Tapi, dia pantang menyerah untuk menawarkan produknya kepada orang-orang.

" Untuk memasarkan dari awal sulit karena penampilannya tidak menarik, tapi kami punya semboyan si hitam manis. itu memang kalau tidak merasakan, lihat dari penampilan nggak bagus, tapi sekali coba ada crispy legit itu bikin nagih," kata dia.

Mengundang orang untuk mampir dan sekedar mencicip lalu meminta tanggapan merupakan satu langkah merketing sederhana yang dapat dilakukan Nanik kala itu. Maklum, dia mengalami keterbatasan dana untuk memasang iklan. Selain itu dia juga membuat brosur untuk dibagikan.

" Saya memang orangnya ulet, kalau ada kemauan, keras. Saya bikin brosur, naik motor sendiri pergi ke masjid, saya selipin di wiper mobil-mobil. Kalau hari minggu saya kebaktian di sore hari, pagi saya pergi ke gereja-gereja, saya selipin itu brosur-brosur saya. Saya sendiri. (Anak-anak) masih kecil-kecil," kenang Nanik.

" Dulu ada Project Pop, mereka antre di tenda artis, bawa kertas, kaos, spidol. Saya antre bawa kartu nama sama pisang, Saya bilang, 'Kak Tika, Kak Tika (Personel Project Pop, Tika Panggabean) cobain dong'. Ada kartu namanya. Eh seminggu kemudian Kak Tika pesan," kata dia.

3 dari 5 halaman

Modal Rp2 Juta

Keuletan dan usaha kemudian membuahkan hasil. Pisang Goreng Madu buatannya kemudian mendapatkan tanggapan positif dan dicari-cari oleh pelanggan. Kini, outlet pisang goreng madu Bu Nanik yang berada di Tanjung Duren, Jakarta Barat, tidak pernah sepi pesanan.

Usaha yang dimulai dengan modal awal tidak sampai Rp2 juta, gerobak pemberian teman serta cuma mampu memproduksi sekitar 5 peti pisang tersebut, kini mampu memproduksi hingga 3 hingga 4 ton pisang.

Jika dulu Nanik harus bekerja sendiri, maka kini pekerjaannya dibantu oleh 85 orang karyawan. Suplier pisang raja sebagai bahan baku pun makin luas, yakni dari Cianjur, Bogor, Lampung, dan Semarang. Nanik menegaskan menjaga mutu produk merupakan salah satu kekuatannya dalam bertahan di tengah persaingan usaha.

" Mutu itu nomor 1 ya, dulu bentuk pisangnya acak-acakan. Sekarang mulai berbentuk, packaging dibagusin. Perbaikan manajemen bisnis," ujar dia.

4 dari 5 halaman

Tembus Australia dan Hong Kong

Tingginya permintaan konsumen pada produknya bahkan berhasil memikat investor untuk menanamkan modal. Sayangnya, tawaran tersebut ditampiknya. Walaupun enggan menyampaikan identitas investor, dia hanya menjelaskan, dirinya sempat ditawarkan untuk memasarkan produk hingga ke Thailand dan Vietnam.

" Pernah ditawarkan salah satu platform online untuk buka cabang di luar negeri. Tapi saya tidak menyanggupinya," kata dia.

Pisang Goreng Madu pun sudah dinikmati hingga ke luar negeri melalui sistem jasa titip alias jastip. Lewat cara inilah, produknya berhasil mencapai Hongkong, Singapura, bahkan Australia.

" Seperti jastip yang ke Australia, itu pernah dijual US$10 untuk 5 buah pisang goreng madu," kata dia.

5 dari 5 halaman

Masuk Pasar Online

Dua anak Bu Nanik masuk ke dalam bisnis pisang goreng madunya dan membawa cukup banyak perubahan. Salah satunya adalah go digital. Imbasnya terhadap kenaikan omzet memang lumayan.

Meski enggan menyebut jumlah omzet, dia mencatat kenaikan omzet sekitar 20 persen hingga 30 persen setelah memanfaatkan platfom digital.

" Kita dulu, pakai telpon. Mulai ikut media online, anak-anak pulang dari sekolah, kolaborasi dengan saya. Mereka bagian manajemen dan marketing, saya bagian produksi,” kata dia.

Dia mengakui, memang memotivasi anak-anaknya agar ikut membangun bisnis yang sudah dia rintis.

" Awalnya tujuan mulai nyekolahin anak, kan bukan orang yang terlalu berada. Bekalin ilmu dengan sekolah. (Setelah selesasi sekolah) saya tanya mau kerja apa bantu mami usaha, saya motivasi kalau kerja sama ibu buat ibu, kalau kerja buat orang maju buat orang. Lalu mereka mau jual pisang, maka kita kolaborasi buka usaha," kata Nanik.

Beri Komentar
Bikin Geleng-geleng Kepala, 3 Mobil Ini Sukses Terjang Banjir