Erupsi Gunung Anak Krakatau Belum Ganggu Penerbangan

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 27 Desember 2018 14:44
Erupsi Gunung Anak Krakatau Belum Ganggu Penerbangan
Erupsi gunung ini membuat masyarakat terkejut.

Dream – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami di perairan Selat Sunda belum mengganggu aktivitas penerbangan di Tanah Air. Meski demikian, Kementerian Perhubungan memutuskan akan meningkatkan pemantauan terhadap operasional penerbangan yang bisa terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan diperketat karena aktivitas penerbangan selama musim angkutan udara Natal dan Tahun Baru 2019 serta musim libur anak sekolah sangat tinggi.

Alasan lain adalah peningkatan status Gunung Anak Kratau yang dinaikkan menjadi siaga oleh  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

“ Untuk itu saya telah meminta Otoritas Bandara, Unit Penyelenggara Bandar Udara dan semua stakeholder penerbangan untuk terus melakukan koordinasi dan siap siaga jika terjadi hal-hal yang mengganggu aktivitas penerbangan,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B. Pramesti, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 27 Desember 2018.

Kemenhub juga akan memeriksa fasilitas infrastruktur transportasi udara yang terdampak. Sebuah bandara tak lupa disiapkan untuk keperluan distribusi bantuan kemanusiaan.

Dia mengatakan, sampai saat ini, belum mendapatkan Notice to Airmen (NOTAM) khusus penutupan bandara dari Airnav Indonesia selaku penyelenggara lalu lintas udara. Perusahaan pelat merah ini sudah mengeluarkan NOTAM A5540/18 tentang penutupan dan reroute terdampak erupsi Anak Krakatau.

“ Sejauh ini abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau tidak memberikan dampak kepada penutupan bandara, untuk bandara terdekat seperti Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Radin Inten II Lampung, bandara masih beroperasi normal. Dari Airnav sudah mengeluarkan Notam terkait pengalihan rute penerbangan yang tidak bisa dilewati pesawat,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga, Radius Aman 5 Km

Dream - Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, menyatakan status Gunung Anak Krakatau hari ini meningkat dari waspada (level 2) menjadi siaga (level 3).

" Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari level dua menjadi level tiga, siaga terhitung tanggal 27 Desember 2018 hari ini, sejak pukul 06.00 WIB," ujar Gede saat dihubungi Dream, Kamis 27 Desember 2018.

Menurut Gede, penetapan itu didasarkan pengamatan data visual dan instrumental. PVMBG merekomendasikan kepada masyarakat agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah.

" Yaitu dalam komplek Krakatau yang dibatasi Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang," ucap dia.

Selanjutnya, Gede meminta masyarakat untuk tidak mudah mempercayai isu hoakx seputar bencana.

Masyarakat bisa menghubungi langsung Kantor Pusat PVMBG di nomor 72722606 atau pos pengamatan Gunung Anak Krakatau 0254651994 untuk mendapatkan informasi yang resmi.

" Jangan mempercayai isu-isu Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami. (Masyarakat) dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan arahan BPBD setempat," kata dia.

2 dari 4 halaman

Awan Panas Anak Krakatau Masuk ke Laut, Warga Diimbau Bersiap

Dream - Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada pagi ini menunjukkan peningkatan. Masyarakat diminta bersiap jika terdapat instruksi untuk mengamankan diri dari dampak erupsi.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, mengatakan data visual dan instrumental menunjukkan adanya lontaran material pijar disertai guguran awan panas. Jauhnya sudah melebihi radius 2 Kilometer.

" Lontaran sudah melewati radius 2 kilometer, sudah melewati pantai dan juga awan panas, awan panas jatuh ke lereng masuk ke air laut," ujar Gede saat dihubungi Dream, Kamis 27 Desember 2018.

Gede menjelaskan apabila awan panas masuk ke laut dengan jumlah yang besar dapat mendorong air laut. Sehingga dapat muncul gelombang tinggi atau tsunami.

" Awan panas ke lereng masuk ke air laut dan mendorong air laut. Ombaknya bisa saja ombak tinggi atau tsunami lagi," ucap dia.

Untuk itu, PVMBG merekomendasikan masyarakat tidak mendekat ke Gunung Anak Krakatau dengan radius 5 kilometer.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menyiapkan masker untuk mengantisipasi hujan abu. " Sampai pagi ini hujan abu masih terjadi," kata Gede.

Lebih lanjut, Gede juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai isu yang beredar seputar bencana.

Untuk mendapatkan informasi resmi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat menghubungi langsung Kantor Pusat PVMBG di nomor 72722606 atau pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di nomor 0254-651994

3 dari 4 halaman

Status Gunung Anak Krakatau Naik, Letusan Terjadi Tiap 5 Detik

Dream - Badan Geologi telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III), terhitung sejak Kamis, 27 Desember 2018, pukul 06.00 WIB.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Antonius Ratdomopurbo menjelaskan keputusan meningkatan status Gunung Anak Krakatau dibuat karena telah terjadi belasan kali letusan per menit yang diserta keluarnya magma. 

" Aktivitas Anak Krakatau itu kan ada dua, gelegarnya (letusan) dan tremornya itu proses magma keluar dari kawahnya. Jadi kalau ada gelegar itu sekarang 14 kali per menit. Itu berarti tiap lima detik," ujar Purbo di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis 27 Desember 2018.

Saat ini, abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau terlihat di ketinggian 2,5 ribu sampai 3 ribu meter.

" Itu kan kebawa angin ke mana-mana," ucap dia.

4 dari 4 halaman

Masyarakat Diimbau Tak Mendekat

Badan Geologi mengimbau kepada masyarakat jangan mendekat ke Gunung Anak Krakatau dengan radiasi 5 kilometer.

Purbo menjelaskan, Badan Geologi hanya mengeluarkan radius 5 kilometer karena sekitar Gunung Anak Krakatau ini tidak dihuni masyarakat. Selain itu, jarak lontaran magma yang keluar juga tidak lebih dari rekomendasi radius yang dikeluarkan.

" Anak Krakatau tidak benar masuk dalam kategori mematikan," kata dia.(Sah)

Beri Komentar