Erupsi Gunung Soputan Tak Ganggu Aktivitas Bandara Manado

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 3 Oktober 2018 16:15
Erupsi Gunung Soputan Tak Ganggu Aktivitas Bandara Manado
Bandara ini berada di luar jangkauan debu vulkanik.

Dream – Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (Perum LPPNPI) atau Airnav Indonesia memastikan erupsi Gunung Soputan tidak mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.

Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait, mengatakan tidak ada bandara yang berada di daerah abu vulkanik Gunung Soputan.

“ Bandara Sam Ratulangi Manado berada di 15 NM di batas luar area VA (volcanic ash),” kata Yohanes di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Rabu 3 September 2018.

Menurut Yohanes, abu vulkanik yang keluar dari Gunung Soputan tertiup angin ke barat laut dan barat dengan kecepatan 5-15 knot. ATS route yang terdampak adalah W15, W32, dan W51.

Hal ini membuat pemanduan lalu lintas udara di jalur ini diatur dengan radar. Tujuannya agar penerbangan bisa terhindar dari paparan abu vulkanik.

“ AirNav melakukan observasi secara terus-menerus dan akan memberikan update bila ada gangguan terhadap operasi penerbangan,” kata dia.

Sebelumnya, Pusat Vurkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, dari Waspada menjadi Siaga. Ini menyusul meletusnya gunung api tersebut pagi tadi sekitar pukul 08.47 WIB.

" Gunung Soputan tadi pagi kami naikkan dari sebelumnya level II atau Waspada menjadi level III (Siaga) karena terjadinya peningkatan vulkaniknya. Memang sudah cukup lama ada peningkatan dan mungkin sekarang tinggi," ujar Ketua PVMBG, Kasbani, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 3 Oktober 2018.

PVMBG menyarankan masyarakat tidak beraktivitas pada radius 4 kilometer dari kawah. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mendekati area barat daya dari gunung sejauh 6,5 kilometer untuk menghindari guguran lava dan awan panas.

" Tidak ada pengungsian karena memang daerah yang berada di dalam 4 kilometer dan sektoral 6,5 kilometer itu tidak ada penghuninya," kata Kasbani.(Sah)

1 dari 2 halaman

Gunung Soputan Meletus, Tinggi Abu Capai 4 Km

Dream - Setelah bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, disusul letusan Anak Krakatau pada 2 Oktober 2018, kali ini juga terjadi erupsi gunung berapi.

Gunung Soputan di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara meletus pagi tadi 3 Oktober 2018 sekitar pukul 08.47 WITA.

" Tinggi kolom abu vulkanik mencapai 4.000 meter mengarah ke barat laut," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam keterangan tertulisnya, Rabu 3 Oktober 2018. .

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM mencatat, amplitudo maksimum 39 mm dan durasi sekitar 6 menit.

" Belum ada perlu pengungsian," tambah Sutopo. (ism)

2 dari 2 halaman

Gunung Soputan Meletus, Status Naik Jadi Siaga

Dream - Pusat Vurkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, dari Waspada menjadi Siaga. Ini menyusul meletusnya gunung api tersebut pagi tadi sekitar pukul 08.47 WIB.

" Gunung Soputan tadi pagi kami naikkan dari sebelumnya level II atau Waspada menjadi level III (Siaga) karena terjadinya peningkatan vulkaniknya. Memang sudah cukup lama ada peningkatan dan mungkin sekarang tinggi," ujar Ketua PVMBG, Kasbani, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 3 Oktober 2018.

PVMBG menyarankan masyarakat tidak beraktivitas pada radius 4 kilometer dari kawah. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mendekati area barat daya dari gunung sejauh 6,5 kilometer untuk menghindari guguran lava dan awan panas.

" Tidak ada pengungsian karena memang daerah yang berada di dalam 4 kilometer dan sektoral 6,5 kilometer itu tidak ada penghuninya," kata Kasbani.

Kasbani juga menegaskan diterapkan larangan pendakian di gunung Soputan saat ini. " Karena potensi letusan bisa terjadi setiap saat," ucap dia.

Lebih lanjut, Kasbani meminta masyarakat menggunakan masker. Ini agar terhindar dari bahaya gangguan saluran pernapasan akibat debu vulkanik.

" Masyarakat yang terdampak abu harus menyiapkan masker, tapi tidak perlu mengungsi," terang Kasbani.

(Sah,Sumber: Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Beri Komentar