Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Fenomena Padepokan Dimas Kanjeng telah menghebohkan masyarakat. Ribuan orang 'mempertaruhkan' hartanya demi bisa digandakan oleh sang panutan mereka, Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
Muncul pertanyaan, mengapa orang rela mengeluarkan uang demi ajaran yang tak logis ketimbang berinfak atau berzakat? Padahal, dana yang terkumpul di padepokan itu dapat membantu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia jika disedekahkan.
Direktur Koordinator Zakat Nasional Mohd Nasir Tajang mengatakan, fenomena Padepokan Dimas Kanjeng membuktikan lemahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya zakat.
Persoalan ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga amil zakat (LAZ) dalam mengedukasi masyarakat.
" Ini menjadi pekerjaan rumah semua. Ke depannya kami akan usahakan lebih giat mengedukasi masyarakat," ucap Nasir, di gedung Baznas, Jakarta, Kamis, 6 Oktober 2016.
Menurut pemahaman Nasir, orang-orang yang berzakat kemungkinan besar tidak akan tergelincir pada perbuatan sesat semacam itu. Sebab, zakat pada dasarnya akan membuat orang lebih produktif.
" Tidak mungkin hasilnya bagus dan barokah tanpa kerja keras. Dalam agama tak dikenal yang instan," kata dia.
Keutamaan zakat, kata dia, lebih dari sekedar meningkatkan produktivitas semata. Zakat juga 'melindungi' untuk berbuat zalim.
" Istilahnya, zakat kan melindungi dan memperbaiki. Allah akan melindungi orang yang berzakat agar hartanya tidak sia-sia," ucap dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya