IIFEST 2020: Membuka Potensi Ekonomi Syariah Hadapi Pemulihan Pandemi

Reporter : Dwi Ratih
Minggu, 29 November 2020 14:00
IIFEST 2020: Membuka Potensi Ekonomi Syariah Hadapi Pemulihan Pandemi
Digelar 2 hari, potensi ekonomi syariah dalam upaya pemulihan dampak pandemi jadi isu acara..

Dream – Gelaran Indonesia Islamic Festival atau IIFEST 2020 yang berlangsung dua hari sejak 26-27 November 2020 menemukan tren bisnis dan ekonomi syariah yang mulai menggeliat di Tanah Air. Dukungan pemerintah melalui kebijakan dan strategi khusus juga diharapkan mendorong kemajuan ekonomi halal Indonesia. 

Digelar secara virtual untuk pertama kalinya bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), IIFEST 2020 yang diikuti lebih dari 200 peserta ini dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin.

Dalam paparannya, Wapres menegaskan pemerintah tengah dan akan terus mengupayakan kebijakan taktis dan strategis di bidang ekonomi nasional. Berbagai upaya yang dilakukan di antaranya refocusing dan realokasi APBN anggaran 2020 untuk memberikan stimulus kepada perekonomian yang melemah akibat pandemik Covid-19.

Langkah konkret juga dilakukan melalui program Program Ekonomi Nasional (PEN) yang didukung anggaran Rp695,2 triliun. Lebih dari 60 persen alokasi digunakan untuk menjaga tingkat kesejahteraan rumah tangga UMK dan korporasi.

Khusus di bidang ekonomi halal, Wapres menyampaikan prioritas pengembangan ekonomi dan keuangan keuangan syariah sekarang ini difokuskan kepada empat hal yaitu pengembangan dan perluasan industri produk halal, keuangan syariah, dana sosial dan kegiatan usaha syariah.

Kondisi krisis maupun pasca krisis ini pemerintah akan terus memperkuat kapasitas pelaku usaha bisnis syariah skala mikro kecil dan menengah. Terutama dalam kebutuhan dasar masyarakat selama pandemi.

Penguatan dilakukan antara lain dengan memfasilitasi UMKM, untuk memasarkan produksi melalui digital sehingga UMKM Indonesia dapat menjadi bagian dari global halal value chain untuk memacu pertumbuhan usaha dan ketahanan ekonomiumat.

1 dari 6 halaman

Komitmen Pemerintah Mendukung, UMKM, Pendidikan, & Ekonomi Syariah di Tengah Pandemi

2 dari 6 halaman

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Republik IndonesiaLuky Alfirman yang menemai Wapres dalam sesi pembukaan IIFEST 2020 menyampaikan pemerintah mengalokasikan bantuan operasional pendidikan Madrasah dan sebagainya sebesar Rp2,38 triliun. Di antaranya untuk membantu sekitar 21.1173 pesantren dan 62.153 Madrasah Diniyah serta 112.008 pendidikan Al-Quran untuk pembelajaran secara daring.

Selama tiga bulan, pesantren akan mendapat bantuan sebesar Rp211,7 miliar yang diberikan sebesar Rp5 juta per bulan kepada 14.115 lembaga.

Menurut Luky, Pemerintah sangat mendukung pengembangan ekonomi syariah melalui pembentukan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Di bidang kebijakan, pemerintah melakukan penguatan program literasi nasional keuangan syariah dalam penerbitan instrumen keuangan syariah seperti CWLS dan kebijakan yang mendukung ekonomi dan tarian seperti undang–undang jaminan produk halal, undang-undang perbankan syariah undang-undang wakaf dan lainnya.

3 dari 6 halaman

Pentingnya Peran Infaq, Sodaqoh & Wakaf di Tengah Pandemi

Selain dibuka Wapres, hari pertama sesi webinar IIFEST 2020 juga menghadirkan sejumlah narasumber seperti Ketua LAZISNU, Achmad Sudrajat, Ketua Badan Wakaf Indonesia. Muhammad Nuh, serta Guru Besar UNPAD dan Dekan FEB Universitas Islam Internasional Indonesia, Prof. Dian Masyita.

Menurut Achmad Sudrajat, Indonesia sebetulnya memiliki potensi yang tidak didapati negara lain yaitu budaya yang sangat filantropi dan nilai-nilai gotong royong yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, potensi ini bisa berkontribusi besar pada kepentingtan umat.

Potensi tersebut selama ini tercermin dari kontribusi zakat, infak dan wakaf yang saat ini sudah optimal dimanfaatkan. Namun diakui Sudradjat, potensi yang lain masih memiliki peluang dan tantangan untuk dikembangan agar berdampak lebih besar.

Salah satu contohnya adalah Laziz NU yang sudah melakukan perannya dan akan terus akan melakukan variasi program pengembangan unggulan untuk kemaslahatan ekonomi keumatan. Mulai dari Santri Entrepreneur (Santren) sampai dengan Muslimat-Pro untuk mengembangkan gerakan perempuan yang lebih terampil dan produktif melalui UMKM milik NU di seluruh nusantara.

 

 

4 dari 6 halaman

Potensi Besar yang Bisa Dioptimalkan

Sudradjat juga menyoroti mobilisasi wakaf uang yang sudah dilakukan Badan Wakaf Indonesia dioptimalkan dengan kegiatan gerakan tiada hari tanpa berwakaf yang sudah berjalan di beberapa tempat.

Dengan kolaborasi pengelola antar lembaga zakat minimal 5 persen, potensi ini bisa menggerakkan perekonomian nasional dalam laju yang luar biasa.

IIFEST 2020 sesi pertama© IIFEST 2020

Kontribusi kebijakan pemerintah untuk Jiswaf untuk fasilitas sosial dan investasi bisnis. Potret potensi dan realitas yang msaih ada gap. Integrase data dan peloran data dan kolaborasi antar institusi.

Wakaf sendiri memiliki berbagai macam produktivitas ekonomi dan kemaslahatan umat.

Banyaknya multiplier effect bagi pekerja yan terlibat dalam pemanfaatan dana wakaf ini juga menjadi hal yang harus menjadi kesadaran masyarakat di tengah pandemi ini.

5 dari 6 halaman

Pebisnis Properti Mulai Lirik Pembiayaan Syariah

Di dunia bisnis, Kasudit Legislasi Rencana Investasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, SN Permana Lazuardy menjelaskan kementeriannya mendorong industri syariah melalui skema bantuan pembiayaan rakyat melalui program satu juta rumah dengan pembiayaan syariah. Program oini diikuti 14 bank syariah penyalur dana untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Namun diakui Permana bahwa sosialisasi mengenai informasi fitur perbankan KPR syariah perlu ditingkatkan.

Wakil Sekjen Bidang Perbankan Syariah Real Estate Indonesia, Royzani Sjachril menambahkan bahwa banyak anggota dari organisasinya yang mulai beralih kepada skema pembiayaan syariah.

Doi masa New Normal seperti saat ini, Royzani mengingatkan kalangan pengusaha perlu memperhatikan manajemen perusahaan yang lebih efektif dan efisien, menunda kontrak baru untuk menjaga cash flow.

Kemampuan pemasaran secara online atau digital juga harus dimanfaatkan agar bisa bertahan di masa New Normal, serta pemberian promosi diskon dan kemudahan lainnya yang menarik untuk para calon pembeli properti.

6 dari 6 halaman

IIFEST 2020 sesi kedua© IIFEST 2020

Di properti syariah terdapat tiga akad yang sering digunakan yaitu tiga skema.

Pertama adalah murabahah yaitu jual beli secara langsung di mana ada perjanjian jual beli antara bank dan nasabah.

Kedua adalah musyarakah terdapat bagi hasil di mana dua investor yang mengembangkan perumahannya kemudian dijual kepada masyarakat.

Terakhir ada sistem mudharabah di mana pemilik modal memberikan modalnya untuk digunakan untuk megembangkan modal tersebut.

 

Beri Komentar