Boeing 737-8 Max Kembali Alami Kecelakaan Fatal, Ini Imbauan Kemenhub

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 11 Maret 2019 12:45
Boeing 737-8 Max Kembali Alami Kecelakaan Fatal, Ini Imbauan Kemenhub
Pasca jatuhnya pesawat milik Ethiopian Airlines penggunaan pesawat ini makin diperketat.

Dream - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengawasi secara ketat pengoperasian pesawat berjenis Boeing 737-8 Max. Pengetatan pengawasan ini muncul setelah peristiwa jatuhnya Ethiopian Airlines, di Hejere, Ethiopia, Minggu, 10 Maret 2019.

Untuk diketahui pesawat nahas yang digunakan Ethiopian Airline setipe dengan Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Musibah yang dialami Ethiopian Airline hanya berselang lima bulan dari peristiwa yang menimpa Boeing 737 Max 8 di Indonesia.

“ Hingga saat ini kami terus melakukan langkah-langkah perbaikan mulai dari prosedur operasional maupun additional training serta menindaklanjuti Airworthiness Directive yang dikeluarkan Federal Aviation Administration,” jelas Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti, dalam keterangan resminya, Senin, 11 Maret 2019.

Polana mengatakan, pengawasan terhadap maskapai yang masih mengoperasikan pesawat berjenis Boeing 737-8 Max ini sudah dilakukan sejak Oktober 2018.

Selain pengawasan terhadap pengoperasian pesawat Boeing 737-8 Max, Polana memastikan, terus bekerjasama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Boeing maupun lembaga penerbangan dunia seperti FAA untuk terus melakukan evaluasi terkait kecelakaan pesawat jenis Boeing 737-8 Max.

Kerjasama ini dibutuhkan dalam peningkatan teknik operasional ataupun tindak lanjut Ditjen Hubud terhadap operasional pesawat jenis Boeing 737-8 Max selanjutnya.

1 dari 2 halaman

Imbauan Kepatuhan Pihak Maskapai

“ Kami juga akan melakukan komunikasi dan pemantauan proses investigasi pesawat jenis Boeing 737-8 Max yang jatuh di Ethiopia serta berkoordinasi dengan FAA untuk memutuskan langkah lanjut dalam perbaikan operasional Boeing 737-8 Max,” kata dia.

Atas kejadian ini, Polana menghimbau kepada seluruh maskapai penerbangan di Indonesia untuk mematuhi prinsip 3S + 1 C dalam penerbangan yaitu Safety, Security, Service dan Compliance (kepatuhan pada aturan yang berlaku) sebab keselamatan harus menjadi hal yang utama dalam penerbangan.

Selain itu, para penumpang pesawat udara juga diimbau untuk turut serta dalam menjaga dan meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Kemenhub juga menyampaikan duka yang mendalam atas musibah jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines tujuan Nirobi pada Minggu, 10 Maret 2019.

2 dari 2 halaman

Dalam Kasus Lion Air JT-610

Pesawat Boeing 737-8 Max merupakan jenis pesawat yang jatuh pada Oktober 2018 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pesawat itu digunakan maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610.

Pesawat JT-610 diketahui hanya mengudara selama sekitar 17 menit sebelum akhirnya jatuh. Pesawat nahas tersebut diketahui membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot serta 5 kru.

Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) menyebut ada beberapa masalah selama penerbangan sebelum akhirnya pesawat itu jatuh.

Salah satu masalah yang muncul yaitu perbedaan indikator kecepatan antara pilot dengan co-pilot.

Selain itu, dalam kasus JT-610, saat terbang Boeing 737-8 Max, mengalami stick shacker. Stick shacker adalah kondisi di mana kemudi di sisi pilot mulai bergetar. Getaran ini menjadi peringatan untuk pilot bahwa pesawat akan mengalami stall atau kehilangan daya angkat.(Sah)

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone