Kualitas Pembiayaan Bank Mandiri Syariah Membaik

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 11 Maret 2019 19:15
Kualitas Pembiayaan Bank Mandiri Syariah Membaik
Dengan capaian itu, bank ini pede bisa meningkatkan laba hingga 60 persen.

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) memperbaiki kualitas pembiayan. Bank syariah ini menekan angka rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) pada 2018.

“ (Ada) perbaikan di kualitas pembiayaan, baik NPF nett maupun gross,” kata Direktur Finance and Strategy, Ade Cahyo Nugroho, di Jakarta, Senin 11 Maret 2019.

Ade mengatakan, NPF gross Mandiri Syariah turun dari 4,53 persen pada 2017 menjadi 3,28 persen pada 2018. Sementara yang nett turun dari 2,71 persen pada 2017 menjadi 1,5 persen.

“ Yang turun signifikan itu dari segmen wholesale. (Segmen ini) mengalami perbaikan dari tahun lalu. Yang kurang bagus dulu kan komersial dan business banking. Dua hal ini yang diperbaiki,” kata dia.

Kualitas pembiayaan bisa ditekan berkat penyaluran pendanaan yang tak serampangan. Ada beberapa sektor yang dipilih, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

“ Kami ingin kualitas (pembiayaan) komersial bagus,” kata dia.

Direktur Utama Mandiri Syariah, Tony E. B. Subari, menargetkan, angka NPF gross bisa ditekan hingga di bawah 3 persen. “ Insya Allah turun di kisaran 2,5 persenlah,” kata Tony.

Dia mengatakan pihaknya melakukan strategi untuk menekan NPF, seperti restrukturisasi. Ada juga pembiayaan yang sudah dipulihkan.

“ Kalau bicara soal NPF, rasanya sudah selesai, ya, dua tahun ini sampai 2018,” kata Tony.

Dengan capaian ini, Tony pede bisa meraih laba hingga naik 60 persen tahun ini karena “ PR” bank tentang NPF sudah rampung.

“ (Tentang laba), kami optimistis naik 50-60 persen karena sudah on track. NPF sudah selesai,” kata dia.  

1 dari 2 halaman

Laba Bersih Mandiri Syariah di 2018 Meroket 65,7 Persen

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) mencatatkan kinerja mengagumkan sepanjang 2018. Anak usaha PT Bank Mandiri Tbk itu melaporkan lonjakan laba bersih sebesar 65,74 persen menjadi Rp605 miliar pada 2018.

Setahun sebelumnya, atau pada 2017 Mandiri Syariah melaporkan laba bersih perusahaan mencapai Rp365 miliar.

" Alhamdulillah, laba bersih kami naik 65,74 persen," kata Direktur Utama Mandiri Syariah, Tony E. B. Subari, di Jakarta, Senin 11 Maret 2019.

Menurut Tony, lonjakan laba bersih ini disokong pertumbuhan dari aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga. Pada 2018, aset Mandiri Syariah meningkat 11,83 persen dari 2017 yang sebesar Rp87,94 triliun menjadi Rp98,34 triliun serta pembiayaan meningkat 11,63 persen dari Rp60,69 triliun pada 2017 menjadi Rp67,75 triliun.

" Pertumbuhan pembiayaan ini diiringi dengan perbaikan kualitas," kata Tony.

Mandiri Syariah mencatat rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) nett bisa ditekan dari 2,75 persen pada 2017 menjadi 1,5 persen di tahun lalu.

Dalam bisnis penghimpunan dana murah, Mandiri Syariah mengelola dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp87,47 triliun atau tumbuh 12,3 persen dari Rp77,9 triliun pada 2017. Komposisi DPK Mandiri Syariah didominasi low cost fund yang mencapai Rp44,46 triliun atau tumbuh 10,16 persen.

" Porsi low cost fund itu 50,82 persen dari DPK," kata dia.

Menyambut tahun 2019, Tony berharap bisnis pembiayaan perusahaan bisa bertumbuh sebesar 11,2 persen, DPK 10-12 persen, dan laba kembali melonjak 50-60 persen.

2 dari 2 halaman

Mandiri Syariah Fokus 5 Sektor Pembiayaan Demi Tumbuh 11%

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) membidik pertumbuhan bisnis pembiayaan sekitar 11,2 persen pada tahun ini. Direktur Utama Mandiri Syariah, Tony E. B. Subari menegaskan sumber pertumbuhan bakal berasal dari pembiayaan ritel dan wholesale.

" Pertumbuhan Insya Allah, 15-16 persen di ritel dan wholesale 9-10 persen," kata Tony di Jakarta, Senin, 9 Maret 2019.

Untuk mencapai target itu, kata Tony, Mandiri Syariah akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Perusahaan menetapkan akan ada lima sektor pembiayaan yang menjadi fokus Mandiri Syariah diantaranya infrastruktur dan kesehatan.

“ Tak semua sektor kami pilih,” kata dia.

Sekadar informasi, pembiayaan Mandiri Syariah tumbuh 11,63 persen dari Rp60,69 triliun pada 2017 menjadi Rp67,75 triliun pada 2018. Rinciannya, pembiayaan ritel Mandiri Syariah tumbuh 15,49 persen dari Rp34,59 triliun pada 2017 menjadi Rp39,95 triliun pada 2018.

Sementara, pembiayaan wholesale tumbuh 6,5 persen year on year (yoy) dari Rp26,1 triliun menjadi Rp27,79 triliun.

“ Ini sesuai dengan strategi yang dicanangkan oleh manajemen. Dipilih hati-hati sekali,” kata Direktur Wholesale Banking Mandiri Syariah, Kusman Yandi.(Sah)

Beri Komentar
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham