Memiliki Rumah Masih Jadi Impian Masyarakat

Reporter : Ramdania
Rabu, 4 November 2015 06:29
Memiliki Rumah Masih Jadi Impian Masyarakat
Meski dalam kondisi ekonomi yang sulit, tetapi memiliki rumah menjadi keinginan utama masyarakat muda saat ini dibandingkan investasi di sektor lain atau meningkatkan gaya hidup mereka.

Dream - Industri properti menjadi industri yang diisukan melemah dari akhir tahun 2014. Harga properti yang terus melambung tinggi dalam jangka waktu tiga tahun belakangan, tingginya suku bunga KPR dan kondisi makro perekonomian menyebabkan gairah konsumen terhadap industri properti menurun secara perlahan.

Namun, Industri Properti Indonesia di tahun 2016 diprediksikan akan terjadi peningkatan secara perlahan. Kenaikan harga akan tetap dipicu oleh maraknya pembangunan infrastruktur dan transportasi umum yang saat ini hampir berbanding lurus sehingga banyak konsumen akan kembali berinvestasi di sektor properti.

" Hasil survei semester dua menggambarkan adanya perbaikan daya beli dan keinginan memiliki properti dalam satu sampai dua tahun ke depan yang meningkat. Dengan survei yang ada, kita bisa lihat prediksi industri properti di tahun berikutnya” ujar Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, dalam keterangan pers, Selasa, 3 November 2015.

Prediksi satu sampai dua tahun mendatang, masyarakat muda antara usia 21-30 tahun akan memiliki keinginan tinggi untuk mendapatkan hunian pribadi. Fakta lain yang menarik adalah masyarakat Indonesia saat ini masih mencari lokasi tempat tinggal yang lebih baik.

Menurut hasil sentimen survei, Tangerang Selatan, Depok dan Bogor adalah beberapa wilayah yang akan di lirik untuk daerah Jabodetabek, namun Jakarta Selatan tetap menjadi idaman utama untuk di wilayah Jakarta.

Selain itu, kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, Palembang menjadi pilihan masyarakat Indonesia dikarenakan dianggap sudah memiliki infrastruktur yang cukup baik.

" Masyarakat Indonesia juga masih menunggu realisasi dari program Satu Juta Rumah oleh pemerintah Jokowi. Terlihat dari hasil survei (72%) Masyarakat Indonesia mengetahui dan mengharapkan kelanjutan dari program pemerintah ini," ungkap Ignatius.

Suku bunga KPR kembali menjadi faktor utama yang dianggap responden dapat mengancam pertumbuhan properti (35%) dan faktor paling berpergaruh bagi konsumen dalam memilih bank penyedia KPR (66%).

" Terungkap juga bahwa 70% dari total responden masih akan mencari pinjaman melalui KPR saat melakukan pembelian properti. Sementara fasilitas cicilan langsung dari developer tidak begitu menarik," ujar Ignatius.

Responden secara umum belum menunjukkan keinginan yang tinggi untuk melakukan pembelian properti di luar negeri, namun hasil sentiment survei semester ini menunjukkan kenaikan ketertarikan yang cukup signifikan (9% ke 32%) total responden yang tertarik membeli properti di luar negeri dengan Singapura, Australia dan Malaysia menjadi 3 negara tujuan utama. (Ism) 

Beri Komentar