(Foto: Angga Yuniar/Liputan6.com)
Dream - Belakangan ini tren menabung dan investasi mulai digandrungi kalangan muda produktif. Berbagai jenis platform investasi pun kian menjamur dan menawarkan berbagai kenyamanan dan keamanan bertransaksi. Salah satu jenis investasi yang paling banyak dilirik milenial muda adalah reksadana.
Menurut pengertiannya, reksadana adalah sebuah wadah dan pola pengelolaan modal dan dana bagi para investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen yang ada di pasar modal dengan membeli unit penyertaan reksadana.
Singkatnya, reksadana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya akan di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
Lalu apa saja jenis dan manfaat dari melakukan investasi reksadana? Berikut Dream telah merangkumkan informasinya dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Jika dilihat dari jenis portfolio investasi, reksadana dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yakni:
1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Funds)
Jenis reksadana ini hanya melakukan investasi pada jenis instrumen investasi pasar uang, dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Contoh instrumen yang bisa dijadikan reksadana adalah time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya.
Tujuan reksadana pasar uang adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal. Reksadana jenis ini dikenal berisiko paling rendah dibanding yang lainnya.
2. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds)
Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang dana atau uang investasinya dialokasikan ke obligasi minimal 80 persen. Untuk tingkat risikonya, reksadana jenis ini relatif lebih besar dari reksadana padar uang. Namun biasanya, reksadana ini digunakan untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.

3. Reksadana Saham (Equity Funds)
Jenis reksadana ini akan menempatkan dana investasi sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk rfek bersifat ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis reksadana sebelumnya. Namun tenang saja, tingkat pengembalian reksadana ini cukup tinggi.
4. Reksadana Campuran (Discretionary Funds)
Karena namanya reksadana campuran, maka dana investasinya juga terbagi ke beberapa jenis, seperti saham, obligasi dan deposito. Untuk tingkat pengembaliannya, reksadana jenis ini akan lebih besar dari reksadana pendapatan tetap. Namun juga memiliki risiko yang tinggi.
Melansir dari website resmi Bursa Efek Indonesia, ada empat manfaat yang bisa didapatkan dari investasi reksadana, yakni:
1. Bagi para milenial yang hendak melakukan investasi, mereka tetap bisa melakukannya dengan nominal yang tidak terlalu besar.
Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar.
Dengan reksadana, maka dana bisa terkumpul dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan untuk berinvestasi di beberapa jenis instrumen, seperti deposito, saham, dan obligasi.
2. Reksadana bisa mempermudah pemilik modal untuk melakukan investasi di pasar modal. Karena sebenarnya beberapa investasi lain membutuhkan pengetahuan dan pengalaman agar memilih jenis investasi yang baik.
3. Para millenial yang ingin berinvestasi dengan waktu yang efisiens, bisa memilih jenis reksadana. Investasi di reksadana akan dikelola oleh manajer investasi profesional. Jadi tak perlu repot untuk memantau kinerja investasinya.
Meski terlihat memiliki beberapa kelebihan, investasi reksadana juga memiliki beberapa risiko, yakni:
1. Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan
Terkadang risiko berkurangnya nilai unit penyertaan bisa terjadi pada jenis reksadana. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio reksadana.
Meski begitu, risiko ini dapat diminimalisir oleh seorang manajer investasi dengan prinsip diversifikasi yang diterapkan.

2. Risiko Likuiditas
Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh manajer investasi apabila sebagian besar investor melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dimilikinya.
Akibatnya, manajer investasi akan kesulitan untuk menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.
3. Risiko Wanprestasi
Salah satu risiko terburuk yang bisa saja terjadi pada investor reksadana adalah risiko wanprestasi. Risiko ini terjadi saat perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksadana tidak segera membayar ganti rugi. Atau bahkan membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Contohnya seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksadana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksadana.
Advertisement


5 Langkah Mengasah Pikiran Positif untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Puting Lecet Saat Olahraga: Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

5 Ritual Mingguan yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis dan Dekat Menurut Terapis

Mengapa Wadah Plastik Menyimpan Bau dan Noda, tetapi Kaca Tidak?

Hedonic Treadmill: Mengapa Kebahagiaan Terasa Cepat Berlalu?

Depresi Diduga Menghambat Kemampuan Otak Membentuk Sel Saraf Baru