Mimpi Malaysia Kandas Bangun Bank Syariah Terbesar

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 15 Januari 2015 07:02
Mimpi Malaysia Kandas Bangun Bank Syariah Terbesar
Bank syariah dengan aset terbesar di dunia ini semula akan dibangun dari merger CIMB Holdings, RHB Capital Berhad dan Malaysia Building Society Berhad (MBSB).

Dream - Mimpi Malaysia membentuk bank syariah terbesar di dunia urung jadi kenyataan. Langkah tiga bank besar CIMB Holdings, RHB Capital Berhad dan Malaysia Building Society Berhad (MBSB) gagal total.

Guncangan ekonomi dunia akibat anjloknya harga minyak mentah di pasar global menjadi penyebab kandasnya pembentukan bank syariah raksasa itu.

Gubernur Bank Sentral Malaysia, Zeti Akhtar Aziz, adalah pencetus pembentukan bank syariah terbesar di dunia pada lima tahun lalu. Pembentukan bank tersebut sebagai cara untuk menyaingi bisnis perbankan syariah di Teluk Persia sekaligus menancapkan kuku Malaysia sebagai pusat keuangan syariah dunia.

Akibat dari gagalnya pembentukan bank syariah raksasa itu, nilai industri keuangan syariah global akan berkurang US$ 1,7 triliun.

" Ini adalah pukulan telak bagi pengembangan keuangan syariah dan jangkauannya ke pasar global," Mohamed Azahari Kamil, CEO di Asia Finance Bank Bhd mengatakan di Kuala Lumpur seperti dikutip Dream dari laman Bloomberg, Kamis, 15 Januari 2015.

Kamil bahkan meragukan akan ada bank-bank yang berani menggelar merger lain untuk sementara waktu. “ Kondisi pasar saat ini tidak kondusif," katanya

Merger CIMB-RHB yang diumumkan pada Oktober tahun lalu semula ditaksir akan menciptakan aset senilai 637,9 miliar ringgit. Nilai ini melampaui bank pemberi pinjaman terbesar Malaysia, Malayan Banking Bhd, yang hanya 612 miliar ringgit. Merger dua bank tersebut akan menjadi bank terbesar keempat di Asia Tenggara, setelah DBS Group Holdings Ltd., Oversea-Chinese Banking Corp. dan United Overseas Bank Ltd. di Singapura.

Pperusahaan penasihat investasi Prometheus Capital Finance Ltd menilai kegagalan pembentukan bank syariah raksasa bukan merupakan kemunduran besar bagi industri keuangan syariah.

" Setiap kali sesuatu seperti bank syariah raksasa dipaksakan, saya tidak begitu yakin bahwa itu akan sangat sukses," Thomas Christie dari Prometheus.

Menurut Christie, masalah utamanya adalah pasar Malaysia cenderung lebih maju, sementara pasar Timur Tengah lebih terintegrasi. " Namun, itu tidak akan menghalangi orang untuk mencari cara lain untuk mengintegrasikan kedua wilayah tersebut."

" Pembentukan bank syariah raksasa tidak signifikan bagi industri keuangan syariah Malaysia pada saat ini, meskipun prospeknya menarik," Suhaimi Zainul Abidin dari Asosiasi Investasi Syariah Asia dan Teluk.

Beri Komentar