CONNECT WITH US!

Mudik dari Bandara ke Bandara, Tapi Naik Bus

Reporter : Eko Huda S | Sabtu, 24 Juni 2017 20:45
Sumber Foto: Merdeka Jabar
Aku mudik dengan melintasi landas pacu terpanjang di dunia. Inilah pengalaman seru mudikku dua tahun lalu.

Dream - Kringggg..... alarm nyaring membangunkanku. Mata berat. Punggung masih terasa kaku. Tetap lengket dengan kasur. Tangan kanan kupaksa menggapai telepon genggam. Penuh kemalasan. Kunyalakan layar untuk melihat pukul berapa waktu itu.

Terbelalaklah mataku. Ternyata itu alarm terakhir dari lima waktu yang aku setting dengan jeda sepuluh menitan. Sudah pukul setengah empat sore. Nafasku memburu. Jantung makin terpacu. Darah mengalir lebih deras. Menambah pusing kepala akibat tidur siang yang tanggung itu.

Aku harus ke bandara. Mengejar pesawat untuk balik ke kampung. Mudik. Menyusul istri dan anakku yang sudah pulang dua minggu lalu. Mandi tak lama. Mematut diri di kaca sekadarnya. Ransel mungil yang teronggok di lantai langsung aku sambar. Segera keluar kontrakan di Cideng itu.

Kepanikan menjalari tubuh. Maklum, hampir kehabisan waktu. Pesawatku berjadwal setengah tujuh. Sementara jam digital di ponselku sudah menunjuk pukul setengah lima. Hati makin berdebar karena ojek online pesanan tak kunjung datang.

Hampir seperempat jam menunggu, tibalah motor sewa itu. Abang driver kuminta memacu si roda dua yang masih kinclong, secepat-cepatnya. “ Tapi hati-hati ya, Bang,” aku berteriak dari jok belakang, berpikir keselamatan.

Untung jalanan lumayan lancar. Jarak delapan belas kilometer itu kami libas kurang dari empatpuluh menit saja. Sampailah aku di Bandara Halim Perdanakusuma. Setelah membayar ongkos, aku lari sekencang-kencangnya menuju pintu keberangkatan.

Aku berhenti tak jauh dari pintu. Nafas masih satu dua, tersengal. Sambil mengelap keringat di dahi, aku berjalan ke pintu masuk bandara. Tapi aku melihat keanehan. “ Kok pintu itu tertutup?” batinku.

Kulihat semua orang bergerombol, di sana sini. Bercakap serius. Kulihat di sekeliling, semua orang panik. Banyak yang menelepon, berbicara sambil terisak. Sedu-sedan terdengar di mana-mana.

Jelas kulihat beberapa perempuan meneteskan air mata sambil berkata lirih dengan lawan bicara di ujung selulernya. “ Maaf, aku enggak bisa terbang hari ini.” Di ujung selasar, kulihat pula antrean mengular. Berujung pada gerai maskapai penerbangan.

Lah... ada apa ini? Aku segera memburu petugas. Bertanya untuk meredakan rasa penasaran yang mencekik, seperti rasa hausku menjelang waktu berbuka itu. “ Ada apa Mas kok bandara ditutup?”

Jawabnya singkat, “ Tak ada jadwal penerbangan ke Surabaya malam ini, Bandara Juanda ditutup.”

Astaga! Itu bandara tujuanku. Karena dirubung kepanikan sejak bangun tidur siang tadi, aku tak sempat mengecek berita. Segera aku raih ponsel dalam saku celana. Kucari tahu apa yang tengah terjadi.

Dan Google memberitahuku, semua bandara di Jawa Timur ditutup. Debu vulkanik Gunung Raung di Banyuwangi yang sejak beberapa hari batuk berarak ke barat. Padahal, hari-hari sebelumnya mengarah ke timur.

Penerbangan tepat sebelum pesawatku, telah berangkat. Setelah itu, semua dibatalkan. Aku langsung lemas......

“ Mau naik apa?” pikirku. Bandara di kota-kota terdekat dengan kampungku ditutup. Surabaya, Malang, dan Denpasar, lumpuh. Mau naik kereta? Jelas sudah tak ada. Apalagi Kamis petang itu, sehari jelang Lebaran.

***
Halim telah ditelan malam. Lampu-lampu yang semula padam semua sudah menyala. Tapi benakku tetap kelam, hingga terlintas pikiran konyol. “ Aku akan nekat ke Cengkareng, naik pesawat dari sana!” itu pikirku.

Belum ada tiga detik, aku sadar. Mau berangkat dari bandara manapun, kalau tujuannya Surabaya. “ Jelas tidak bisa!” aku bergumam, berusaha menyingkirkan harapan palsu. Aku tersenyum kecut.

Panik terus menggelayut. Setelah mondar-mandir, hanyut dalam lautan orang yang kebingungan mencari informasi, aku mulai lelah. Duduklah aku di lantai. Kuraih telepon genggam dan kuketik nomor kontak istriku, yang segera menerima panggilanku.

“ Maaf, aku enggak bisa terbang hari ini,” kutirukan perkataan wanita yang menangis sambil menelepon tadi. Tapi mataku tak meneteskan air barang setitik pun. Di ujung telepon, istriku terisak.

Malam makin larut. Aku tetap di bandara yang juga pangkalan militer itu. Niat balik ke kontrakan aku tunda, sambil terus memutar otak, mencari alternatif ke Surabaya, yang sebenarnya nyaris mustahil.

Ternyata ada harapan. Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan datang. Insting jurnalis menyala, aku segera memburu. Pejabat itu aku berondong beragam tanya. Tapi bukan untuk keperluan menulis, semua jawabannya hanya untuk obat penenang hati.

Kala itu, Pak Dirjen –yang aku lupa siapa namanya– berjanji mengerahkan bus untuk mengangkut penumpang yang terlantar. Semua yang dia bilang aku dengarkan dengan seksama untuk membangun harapan baru, balik ke kampung halaman. Tak berselang lama, berbatang-batang bus datang. Parkir di halaman bandara.

Pikirku, ini kesempatan emas. Aku sempat menimbang untuk terbang keesokan hari. Tapi tak ada jaminan bandara bakal dibuka. Sebab, Raung yang perkasa di timur itu masih saja bergemuruh. Mau tak mau, aku harus ikut rombongan bus.

Aku masuk ke salah satu bus, Sinar Jaya. Aku pilih kursi deretan kiri. Dekat pintu belakang, tepatnya di atas roda. Kuhempaskan badan yang mulai pegal ke bangku dekat lorong. Setelah basa-basi menyapa pria di kursi sebelah kiri, aku kembali larut dalam angan-angan.

Dalam bayanganku, jalanan pasti sudah sepi malam itu. Semua orang pasti sudah sampai di rumah. “ Hanya orang sepertiku saja yang malam Takbir masih di rantau,” aku memprediksi.

Bus yang aku tumpangi segera berangkat. Dan ini baru awal perjalanan seru yang sebenarnya...

***
Aku terlelap. Tak terasa bus sudah melaju. Baru siuman setelah bus mengaspal di tol. Aku beranjak, melangkah ke depan, menuju ke arah sopir untuk mengisi batere ponsel yang sudah merah. Di sana disediakan colokan pengisi daya.

Aku lirik speedometer. Byuh... byuh... jarum selalu berada di atas angka seratus. Tak pernah turun. Aku pikir ini sama dengan terbang di darat. Sebenarnya waktu itu merinding juga. Tapi rasa takutku terbunuh oleh keinginan segera sampai rumah.

“ Pagi atau siang aku sudah sampai Surabaya. Sore tiba di Banyuwangi,” pikirku. Kali ini benar-benar lega. Tanpa senyum kecut.

Aku sama sekali tak mendengar Takbir. Sejak kecil, malam Lebaran memang istimewa bagiku. Sehingga malam itu, aku bertakbir dalam hati. Di dalam bus yang melaju ke timur itu. Hingga terlelap...

Aku kembali terbangun saat bus berhenti. Sopir dan kernet mempersilakan kami turun, untuk sekadar buang air kecil atau beli minum. Aku kira sudah sampai Semarang. “ Wah, cepat juga,” aku bertambah senang.

Tapi saat turun, aku melihat gerai-gerai penuh telur di kanan kiri jalan. Lampu yang terpasang di etalase masih terang-benderang, meski sudah hampir pagi. Deretan toko oleh-oleh itu memang buka 24 jam.

Dan aku segera sadar. Itu telur asin. Tak ada daerah yang menjual telur asin sebanyak itu, kecuali Brebes. Ya Allah, dugaanku benar. Setelah bertanya, aku tahu bahwa rumah tempat aku buang air kecil ini benar-benar berada di Bombay van Java. Brebes, bukan Semarang!

Harapanku perlahan pupus. Mulai mengalkulasi ulang waktu. Makin ragu bisa sampai rumah esok sore. Hatiku pun kembali gundah. Sejak dari Brebes, aku tak bisa tidur lagi. Semakin ketar-ketir karena tahu jalanan macet total.

Bus kami sulit keluar dari kota itu. Lalulintas nyaris tak bergerak. Mampet. Penumpang yang semula diam mulai bersuara. Beberapa di antara mereka bahkan mengumpat. Menyesali keputusan ikut bus gratisan itu.

Bibirku memang tak mengumpat. Tapi jujur, hatiku kecewa. Sedih. Entah kepada siapa, terus menyoal. Mengapa Gunung Raung meletus saat aku mudik. Mengapa jalanan semacet itu saat aku lewat. Di Brebes, bayangan Lebaran kandas!

Tapi setahun kemudian aku sadar. Aku tak pantas mengeluh. Sebab, musim mudik 2016, setahun setelah aku, ribuan orang terjebak macet di Brebes. Lebih parah dari pengalamanku itu. Bukan hitungan jam, melainkan berhari-hari.

Bahkan beberapa orang harus kehilangan nyawa di jalan karena macet yang membuat geger dunia. Kemacetan yang aku alami tahun 2015 tak ada apa-apanya dibanding perisitiwa yang dikenal dengan nama Brexit itu.

***
Akhirnya busku lolos dari kota telur asin. Saat mentari menusuk dari timur, kami sampai di Tegal. Seharusnya saat itu aku sudah kumpul dengan anak dan istri. Sungkem kepada orangtua serta mertua. Aku mengandai-andai.

Bus itu terus melaju. Pagi itu, kami mulai akrab dengan sesama penumpang. Tak lagi lelap. Kami mulai berbincang, berbagi cerita. Di seberang lorong, ada sepasang suami istri membawa dua anak. Merekalah yang menguatkan aku. Anak-anak itu pasti jauh lebih lelah dariku.

Keluarga tentara ini terbang dari Palembang, Sumatera Selatan. Mereka transit di Jakarta. Tapi sayang, pesawat ke Malang tak terbang karena Abdul Rachman Saleh juga ditutup. Kami bernasib sama, ya, satu bus itu.

Kusapa pula lelaki sebangku, yang duduk di sebelah kiri. Pria ini sedari subuh, tak berhenti mengomel. Seolah, dia orang paling sial di Bumi ini. “ Mau kapan sampai rumah, sudah siang masih sampai sini,” kata dia, menggerundal.

Sampeyan tujuan akhir mana, Mas?” aku tanya.

Dia menjelaskannya dengan panjang lebar, rinci. “ Saya Lumajang, Mas,” kata dia. “ Saya masih harus empat jam dari Surabaya. Dari Bungurasih, ganti bus. Masih jauh.”

Aku diam saja. Dalam hati aku berteriak, “ Aku lebih jauh dari tujuanmu. Jangan mengeluh terus, kupingku sudah pekak, penuh dengan umpatanmu.”

Dia pun balik bertanya, “ Kalau sampeyan ke mana, Mas?”

Kujawab, “ Banyuwangi.”

“ Oh, lebih jauh sampeyan ya, masih empat sampai lima jam dari Lumajang. Wah, pucuk timur sana. Kapan sampeyan tiba, Mas?” tanya pria itu.

Aku diam. Pria itu tetap mengoceh. Entah apa saja, aku tak peduli. Saat matahari sudah tinggi, kami lewati Semarang. Sholat Jumat kami lalui di dalam bus. “ Ah, musafir ini,” aku meyakinkan diri.

Aku benar-benar penat. Bus terasa melaju sangat lambat. Kembali lelap.....

***
Mataku baru terbuka saat mendengar keributan. Ada perdebatan. Banyak penumpang ingin diturunkan di Bungurasih. Terminal di Sidoarjo itu. Tapi sopir tak mau. Harus di Juanda. Mereka harus melapor ke bandara dengan membawa penumpang. “ Ya sudahlah,” pikirku, pasrah.

Kutengok kanan dan kiri. Kulihat plang. Termyata sudah dekat Surabaya. Dan bus itu melaju menuju Juanda. Aku tak peduli lagi, mau dibawa ke bandara atau terminal, silakan saja.

Tapi aku terbelalak saat mendongak ke angkasa. Kulihat langit saat itu berkelir biru. Bersih, tanpa selaput apapun. Surabaya cerah. Tak ada abu vulkanik sebagaimana berita-berita tempohari.

Aku tertawa hambar saat melihat sebatang pesawat di langit jernih tengah bersiap landing. “ Ah! Berarti Juanda sudah dibuka,” aku bergumam, agak menyesali keputusan ikut bus ini. Gugelengkan kepala.

“ Tahu begitu aku bersabar, cari tiket pesawat hari berikutnya. Tak capek seperti ini,” kataku. Penyesalan selalu datang belakangan. Tapi tak ada yang perlu disesali. Sabar, ini ujian...

Akhirnya bus yang kutumpangi itu ‘mendarat’ di Bandara Juanda. Di sanalah aku alami pengalaman menggelikan. Aku tak tahu apakah harus tertawa, malu, atau marah.

Setelah turun dari bus, ada pria, yang rupanya makelar tiket, bertanya, “ Mau terbang ke mana, Mas? Sudah punya tiket?” tak kujawab, hanya manyun.

Aku tak menyalahkannya. Faktanya aku baru turun dari bus. Semua orang pasti mengira aku akan terbang. Mereka tak tahu aku baru saja naik bus dari bandara ke bandara!

Aku berangkat dari Bandara Halim, mendarat di Juanda. Tapi bukan pakai pesawat. Melainkan bus Sinar Jaya. Lebih dari 778 kilometer aku tempuh. Dan itulah “ runway” terpanjang di dunia!

Aku geli setiap kali mengingat pengalaman mudik dua tahun silam itu...

Sisa perjalananku ke timur kuhabiskan dengan bus patas. Akhirnya sampai juga di rumah, meski sudah dinihari. Lebaran pertama memang lewat. Tapi bersilaturahmi dan memaafkan bisa dilakukan kapan saja.

Mudik lebaran memang penuh suka duka. Selalu menyisakan cerita. Tak hanya aku, jutaan orang yang saban tahun bermigrasi ke kampung halaman jelang Lebaran kupikir juga punya kisah masing-masing.

Dan tahun ini, kami mudik bareng. Bertiga, aku, istri, serta anakku. Jika Sahabat Dream membaca kisah ini, semoga kami telah berada di rumah, berkumpul dengan keluarga.

Selamat berlebaran, Sahabat Dream. Minal 'aidin wal-faizin, mohon maaf lahir dan batin.[crosslink_1]

8 Trik Sederhana Meningkatkan Performa Mobil