Orang Ramah Biasanya Banyak Tersenyum. (Foto: Pixabay)
Dream – Orang-orang ramah dan hangat cenderung memiliki risiko mengalami kebangkrutan. Mereka juga mendapat kesulitan keuangan yang lebih besar dibandingkan orang-orang yang mempunyai sifat kurang menyenangkan.
Temuan tersebut terungkap setelah American Psychological Association mempublikasikan hasil riset pustaka yang dilakukan Sandra Matz dari Columbia Business School dan rekannya, Joe Gladstone, dari University Columbia London.
Dilansir dari Science Daily, Senin 22 Oktober 2018, risiko kebangkrutan dan masalah keuangan ini muncul karena orang-orang ramah dan hangat cenderung mudah percaya dengan orang lain.
Hasil riset menunjukan orang-orang ramah dan hangat ini cenderung kurang menilai pentingnya arti uang. Penelitian ini dibuat dengan melakukan riset terhadap data-data yang sebelumnya pernah diterbitkan Jurnal Personality and Social Psychology.
" Kami tertarik untuk memahami apakah memiliki kepribadian yang ramah dan hangat, yang oleh pakar kepribadian disebut dengan agreeableness, terkait dengan keuangan secara negatif," kata Matz, yang mengepalai riset tersebut.
Menurut Matz, riset sebelumnya mengatakan sifat ramah tamah dan hangat identik dengan skor kredit dan pendapatan yang rendah.
" Kami ingin mengetahui apakah asosiasi ini benar adanya untuk indikator finansial lainnnya. Dan kami juga ingin memahami mengapa orang seperti mereka selalu jadi yang kalah dalam bidang finansial," tambahnya.
Untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitiannya, Matz dan Gladstone menganalisis data lebih dari 3 juta koresponden menggunakan beberapa metode. Mulai dari meneliti survei nasional, data rekening bank, hingga data geografi yang dipublikasikan secara umum.
Analisis mereka bertujuan untuk mengetahui penyebab orang ramah dan hangat cenderung mengalami kesulitan finansial. Apakah karena gaya hidup mereka yang mudah percaya orang atau karena penilaian rendah mereka terhadap materi dan uang.
" Kami menemukan bahwa agreeableness dikaitkan dengan indikator kesulitan keuangan, termasuk jumlah tabungan yang lebih rendah, utang lebih tinggi dan tingkat gagal bayar yang tinggi juga," kata Gladstone.
Hubungan ini tampaknya didorong oleh fakta bahwa orang-orang yang hangat dan menyenangkan kurang peduli tentang uang. Orang hangat berisiko dalam salah menangani masalah keuangan.
Matz dan Gladstone juga menemukan bahwa orang-orang yang hangat dan menyenangkan ini tidak semuanya memiliki kemungkinan yang sama dalam hal menderita secara finansial.
Mereka melihat bahwa pendapatan memainkan peran penting dalam hubungan antara cenderung gampang setuju dan kesehatan keuangan.
" Tidak setiap orang ramah dan hangat memiliki risiko yang sama dalam hal kesulitan keuangan. Hubungan antara agreeableness dan kesulitan keuangan lebih terlihat pada individu berpenghasilan rendah, yang tidak memiliki sumber keuangan yang kuat untuk mengkompensasi dampak merugikan dari kepribadian mereka yang menyenangkan,” kata Gladstone.
Sementara itu, Matz mengatakan menjadi sosok yang ramah, hangat dan mudah percaya orang sangat merugikan dari segi masalah keuangan.
" Menjadi orang baik dan mudah percaya orang ternyata berdampak dalam bidang keuangan, terutama bagi yang tidak memiliki sarana untuk mengimbangi kepribadian positif tersebut," jelas Matz.