Pemuda Miskin Ubah Ikan Petek Jadi Bisnis Rp 500 Juta

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 22 Juni 2016 18:05
Pemuda Miskin Ubah Ikan Petek Jadi Bisnis Rp 500 Juta
Pengalaman hidup membuat tak pantang menyerah. Dan kini dia sukses besar. Saban bulan, omzet bisnis olahan ikan peteknya Rp 500 juta.

Dream - Seorang sarjana Manajemen Sumber Daya Perikanan, Aang Permana, banting setir ke bisnis olahan ikan petek (glass fish). Dengan modal ratusan ribu rupiah, pria ini mengantongi omzet hingga setengah miliar rupiah.

Dilansir dari alumniipb.org, Rabu 22 Juni 2016, Aang mengaku ingin merintis usaha karena ingin bekerja untuk dirinya sendiri dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

" Saya harus bisa memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat. Salah satu jalan yang paling cepat bagi saya untuk dapat memberikan manfaat yang besar adalah dengan jalan berwirausaha," kata dia.

Pria kelahiran 1990 ini melirik ikan petek karena potensi ikan ini cukup besar dan belum dioptimalkan oleh masyarakat. Bahkan, masyarakat sekitar enggan mengkonsumsi ikan yang bernama latin Prambassis ranga itu.

" Kemudian, saya membawa ikan ini ke laboratorium IPB supaya ikan petek tersebut bisa dimanfaatkan," kata dia.

Aang memulai bisnis ikan petek pada 2014. Modal awalnya sebesar Rp500 ribu dan dia menggunakannya untuk membeli ikan petek dan peralatan masak sederhana. Meskipun belum memiliki rancangan bisnis yang matang, dia langsung memilih langsung bereksperimen.

" Di awal, saya sama sekali belum membuat perencanaan bisnis yang matang. Saya coba-coba saja dan terus berbenah hingga terus menjadi seperti sekarang," kata pria kelahiran Subang, Jawa Barat itu.

Aang mengatakan tiga bulan pertama, dia dengan teman-temannya melakukan riset di IPB supaya bau amis ikan petek itu hilang dan layak dikonsumsi. Kemudian, tiga bulan berikutnya, dia langsung menguji coba ke pasar.

Ternyata, bisnis ikan petek yang bernama Crispy Ikan Sipetek ini mendapat respons yang cukup bagus. Aang pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan minyak. 

" Setelah respon pasar cukup bagus, saya langsung memutuskan untuk resign dari tempat kerja dan fokus mengembangkan usaha Crispy Ikan Sipetek ini,” kata lulusan peraih delapan beasiswa ini.

Awal pemasarannya, Aang menawarkan produknya ke toko oleh-oleh di Cianjur. Tapi, tak sedikit toko yang menolak karena produknya tak dikenal. Akhirnya, dia memilih menjualnya sendiri secara online. Pesanan pun mulai banyak setelah dia memilih jejaring sosial sebagai media penjualannya,

Sekadar informasi, saat ini, Crispy Ikan Petek yang dijual sebesar Rp15 ribu per bungkus. Aang sendiri memproduksi sekitar 1.000-1.500 bungkus per hari.

Jerih payahnya ini berbuah manis. Kini, Aang bisa mengantongi omzet sebesar Rp400-500 juta per bulan.

Karena kebanjiran pesanan, Aang memutuskan untuk mengubah sistem penjualannya dengan menggunakan sistem agen. Kini, produksi makanan olahan ini telah tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Tercatat, ada 400 agen Crispy Ikan Sipetek yang memasarkan produk ini.

" (Produk ini) sudah terjual ke luar negeri juga seperti Malaysia dan Hongkong," kata dia.

Aang pun mempekerjakan kaum ibu yang berusia non produktif untuk membantu produksi Crispy Ikan Sipetek. Hal ini bertujuan agar mereka bisa membantu pemasukan keluarga.

" Kalau yang masih di usia produktif kan mereka masih bisa bekerja di pabrik dan peluang mereka keterima kerja di tempat lain juga masih besar," kata dia.

Untuk menjamin ketersediaan ikan petek yang menjadi bahan baku produknya, Aang bermitra dengan sejumlah nelayan yang ada di Danau Cilatah Cianjur Jawa Barat.

Selain mengembangkan bisnis crispy ikannya, pria yang sempat mengenyam pendidikan di Amerika Serikat selama 3 bulan ini, juga mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Ikan-ikan hasil budidayanya ini dipasok ke sejumlah rumah makan yang ada di Cianjur dan Bandung.

Aang Permana kini mungkin bisa menikmati kesuksesannya. Namun melihat ke belakang. Aang bukan berasal dari keluarga berada. Perekonomiannya pas-pasan. Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan.

Tiap tahun Aang harus mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ke kantor kepala desa, agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP.

Aang tidak pernah membeli buku pelajaran seperti teman-teman lainnya. Ia kerap meminjam dari temannya dan mengerjakan tugas-tugas di rumah lantas besoknya buku tersebut dikembalikan.

(Sumber: alumniipb.org, berbagai sumber)

Beri Komentar