Perbankan Syariah Lebih Stabil di Tengah Pandemi Covid-19

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 29 Desember 2020 14:12
Perbankan Syariah Lebih Stabil di Tengah Pandemi Covid-19
Bahkan, pertumbuhannya lebih tinggi daripada konvensional.

Dream – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebut kinerja perbankan syariah cenderung stabil, bahkan lebih tinggi daripada konvensional, selama pasa pandemi Covid-19. Kondisi ini menarik karena intermediasi perbankan nasional turun saat ada “ badai” Covid-19.

Dikutip dari Liputan6.com, Selasa 29 Desember 2020, situasi ini sama seperti pada krisis 2008. Dia juga menyebut perkembangan keuanga syariah pesat.

“ Selama tiga dasawarsa terakhir, sejak berdirinya bank syariah pertama di Indonesia pada 1992, keuangan syariah berkembang cukup mengesankan,” kata dia dalam webinar “ Sharia Business and Academic Strategy”.

Total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp1.710,16 triliun pada September 2020. Dari jumlah tersebut belum menghitung saham syariah. Dengan nilai tersebut, market share industri keuangan syariah di angka 9,69 persen.

Aset keuangan syariah tersebut meliputi aset perbankan syariah sebesar Rp575,85 triliun, industri keuangan bukan bank syariah sebesar Rp 111,44 triliun dan pasar modal syariah sebesar Rp1.022,87 triliun.

Sampai dengan September 2020 aset perbankan syariah justru tumbuh sebesar 10,97 persen, dibandingkan perbankan konvensional yang pertumbuhannya hanya 7,77 persen.

“ Artinya pertumbuhan aset perbankan syariah lebih tinggi,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Cukup Stabil

Demikian juga dengan dana pihak ketiga yang tumbuh 11,56 persen. Sedikit di atas kenaikan dana pihak ketiga dari perbankan konvensional yang tumbuh 11,49 persen. Sementara untuk penyaluran pembiayaan atau kredit perbankan syariah tumbuh 9,42 persen.

Ini jauh lebih tinggi karena pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang mengalami penurunan yaitu hanya tumbuh 0,55 persen.

“ Industri, terutama perbankan syariah memang memiliki posisi yang cukup stabil dan memiliki juga loyalitas dari keseluruhan ekosistemnya,” kata dia.

Melihat perkembangan tersebut, Sri Mulyani yakin kinerja perbankan syariah akan menjadi salah satu jembatan dan sekaligus modal awal bagi pemerintah untuk terus mengembangkan sebuah ekosistem syariah atau keuangan syariah yang berkualitas baik.

“ Resiliensi dari perbankan syariah dapat juga dilihat dari sisi angka rasio kecukupan modal dan angka pembiayaan bermasalah yang cenderung stabil. Untuk CAR 23,5 persen dan untuk angka pembiayaan masalah 3,31 persen,” kata dia.

2 dari 4 halaman

Sri Mulyani Ungkap Covid-19 Lebih Merugikan Pekerja Perempuan

Dream – Ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki dalam partisipasi angkatan kerja semakin meningkat akibat pandemi Covid-19. Dampak dari krisis kesehatan ini lebih terasa bagi perempuan, mengingat sektor seperti restoran, akomodasi, hotel, dan pekerja rumahan yang paling tertekan.

“ Dengan kondisi seperti ini, akibatnya ketimpangan gender semakin meningkata dan terjadi penurunan partisipasi angkatan kerja perempuan,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam UN Women Asia Pacific WEPs Awards Ceremony in Indonesia, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 19 November 2020.

 

© Dream

 

Menurut laporan awal dari ADB-UN Women’s High-Level Roundtable pada 2020, sebanyak 54 persen dari 75 juta pekerja di restoran dan industri akomodasi adalah perempuan.

“ Mereka adalah pihak yang menderita dari kondisi ini karena kegiatan merekalah, pekerjaan mereka lah yang paling terdampak Covid-19,” kata dia.

3 dari 4 halaman

Perempuan Kehilangan 50 Persen Jam Kerja

Sri Mulyani menjelaskan, perempuan kehilangan 50 persen jam kerjanya sedangkan laki-laki hanya kehilangan 35 persen. Terjadi implikasi yang asimetris dari Covid-19 khususnya di sektor-sektor formal di Asia.

Tak hanya itu, dia menuturkan di tingkat global pendapatan dari 740 juta pekerja perempuan di sektor informal juga berkurang sebesar 60 persen dalam bulan pertama setelah terjadinya Covid-19.

Dia melanjutkan sekitar 40 persen dari pekerja perempuan di seluruh dunia bekerja di sektor-sektor yang paling terdampak dan bahkan, 70 persen pekerja di sektor sosial dan layanan kesehatan merupakan perempuan sehingga mereka menjadi lebih rentan.

“ Dunia juga mengalami kehilangan jam kerja yang cukup signifikan sebesar 18,9 persen pada 2020 atau 340 juta lapangan kerja full time atau purna waktu pada paruh kedua 2020,” kata Sri Mulyani.

4 dari 4 halaman

Angkatan Kerja Perempuan Indonesia

Sri Mulyani mengatakan angkatan kerja perempuan di Indonesia lebih rendah dari negara lain sejak sebelum pandemi sehingga sekarang jumlahnya semakin turun akibat Covid-19.

“ Indonesia pada 2020 partisipasi kerja perempuan juga telah sedikit menurun dari 55,5 persen tahun lalu menjadi 54,56 persen sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki justru meningkat,” kata dia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2020, partisipasi gender Indonesia dan ketimpangan upah atau pay gap masih 23 persen yang artinya perempuan mendapatkan upah 23 persen lebih rendah dibanding laki-laki.

“ Ini untuk konteks Indonesia, di tingkat global ketimpangan upah gender ini 16 persen artinya perempuan dibayar jauh lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki,” kata dia.

Di Indonesia, perempuan yang bekerja sebagai yang pekerja profesional jumlahnya masih kurang dari 15 persen dan bahkan, untuk di tingkat manajer hanya sekitar 40 persen, sementara secara umum 50 persen.

“ Artinya, lingkungan kerja di Indonesia menempatkan perempuan sebagai minoritas dan mereka menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk bekerja di sektor-sektor yang sama dengan laki-laki,” kata Sri Mulyani.

Beri Komentar