Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Pemimpin Negara G20 (http://www.citynews.ca/)
Dream - Sebagian besar anggota kelompok negara-negara besar dunia yang tergabung dalam G-20 sepakat memasukkan isu obligasi syariah (sukuk) dalam agenda pertemuan tahunan. Terobosan ini berpotensi memacu penggunaan sukuk untuk pembiayaan infrastruktur negara.
Data Bank Dunia menyebutkan, negara-negara maju menghabiskan tak kurang US$ 1 triliun untuk infrastruktur setiap tahunnya, Bahkan sampai 2020, ditaksir akan ada tambahan US$ 1 triliun-1,5 triliun untuk pendanaan di berbagai bidang seperti proyek pengairan, energi dan transportasi.
Kebutuhan akan dana itu diharapkan sebagian berasal dari penerbitan sukuk yang merupakan instrumen menonjol di luar pasar inti industri syariah seperti Timur Tengah dan Asia Tenggara. Inggris dan Hong Kong telah menerbitkan debut sukuk mereka tahun lalu.
Beberapa negara Islam memiliki posisi untuk memengaruhi kebijakan ekonomi penting di G-20. Turki memegang tampuk pimpinan G-20 tahun ini, Indonesia menjadi ketua bersama kelompok kerja bidang investasi dan infrastruktur di G-20, dan Malaysia adalah tamu kehormatan G-20 yang mewakili kelompok negara ASEAN.
G-20 telah meminta regulator untuk mempelajari cara-cara memasukkan sukuk dalam kerangka kebijakan moneternya. Lembaga keuangan Dana Moneter Internasional (IMF) juga akan memasukkan sukuk ke dalam pembahasan tentang pembiayaan berbasis aset di masa mendatang.
"Ini akan menjadi kabar bagus bagi pasar sukuk," kata Mohamed Damak, kepala global keuangan syariah di lembaga pemeringkat kredit Standard & Poor di Paris seperti dikutip Dream dari laman Businesstimes.com.sg, Kamis, 19 Maret 2015.
Jika temuan IMF menunjukkan sukuk merupakan instrumen yang cocok untuk pembiayaan infrastruktur, hal ini bakal menjadi kabar baik nagi negara penerbit sukuk. Lebih jauh hal itu akan menarik minat tambahan dari kelompok yang lebih besar dari negara non-tradisional.
Degan sistem agunan berupa aset membuat sukuk ideal untuk pembiayaan infrastruktur dalam beberapa hal. Sejauh ini, pangsa pasar terbesar dari pembiayaan infrastruktur syariah dikuasai oleh Bank Pembangunan Islam (IDB) yang berbasis di Jeddah. IDB adalah badan keuangan syariah multilateral yang mewakili 56 negara Islam.
Pekan lalu, IDB mengatakan akan berkoordinasi dengan Turki, Indonesia dan Arab Saudi, anggota G-20 lainnya, akan memberikan porsi yang lebih besar bagi keuntungan keuangan syariah.
IDB juga sedang dalam pembicaraan kerjasama dengan IMF untuk menyediakan bantuan teknis kepada negara-negara yang ingin mengembangkan layanan keuangan syariah.
Dalam salah satu pembahasannya, G-20 juga membicarakan tentang masuknya Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang didukung oleh Tiongkok.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


WNI Diduga Tewas saat Jadi Tentara Rusia, Apakah Kewarganegaraan Indonesia Bisa Hilang?



Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin

Harga Rumah Makin Tak Terjangkau, Mengapa Terus Melonjak Dibanding Pendapatan?

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak