Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli
5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara Saat Membuka ISEF 2015 (Dream.co.id/Eko)
Dream - Bank Indonesia (BI) masih yakin bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves, takkan menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Sesuai konsensus, kemungkinan The Fed baru akan menaikkan suku bunganya pada Kuartal I atau II-2016.
Namun BI menegaskan, The Fed pada satu saat memang pasti akan menaikkan suku bunganya.
" Pada intinya, lama-lama juga market akan terbiasa," kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara usai pembukaan Indonesia Sharia Expo Festival 2015 di Surabaya, Kamis, 29 Oktober 2015.
Dalam pertemuan FOMC semalam, The Fed memutuskan tidak menaikkan suku bunga. Namun, pimpinan The Fed, Janet Yellen, memberikan sinyal jika kenaikan suku bunga acuan akan mulai diberlakukan pada Desember 2015.
Mirza mengakui pertemuan The Fed selama ini memang membuat kurs mata uang negara berkembang, termasuk rupiah melemah. Namun usai pertemuan, kurs mata uang biasanya kembali bergerak menguat.
" Menurut saya, itu hal yang nanti market makin lama akan terbiasa," kata Mirza seraya mengakui pernyataan yang dikeluarkan The Fed dalam pertemuan FOMC, semalam memang cukup agresif.
Hingga saat ini, BI masih tetap berpendirian jika Indonesia masih memiliki ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter.
Kebijakan yang dimaksud tak hanya dilihat dari suku bunga, namun instrumen lain yang bisa diambil otoritas berwenang.
Pelonggaran kebijakan tersebut muncul karena laju inflasi Indonesia masih berada di bawah 4 persen. Sementara defisit transaksi berjalan (current account deficit) terkendali di bawah 2,5 persen.
Cadangan Devisa Aman
Pada bagian lain, Mirza juga memastikan kondisi Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia masih aman. BI mencatat posisi Cadev mampu menopang aktivitas impor hingga 6,5 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. " Jadi gak usah khawatir," katanya.
Menurut Mirza, hampir semua Cadev negara berkembang memang tengah berkurang dalam beberapa bulan terakhir.
Bank sentral negara berkembang memang harus mengantisipasi gejolak terkat penguatan suku bunga AS.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa