IHSG
Dream - Mengawali perdagangan usai libur panjang Lebaran, bursa saham Indonsia dibuka melemah. Pelemahan terjadi di tengah menguatnya sebagian besar bursa saham regional.
Sentimen data-data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) membuat pelaku pasar tampaknya memilih posisi menunggu.
Di sisi lain, pemodal asing justru gencar berburu saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga saat ini, asing membukukan nett buy hingga Rp 649,71 miliar.
Pada pra pembukaan perdagangan BEI, Senin, 4 Agustus 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 12,57 poin (0,25%) ke level 5.076,22. Pelemahan IHSG bahkan masih berlanjut hingga sesi pembukaan.
Data hingga pukul 09.33 WIB, pelemahan IHSG sedikit berkurang setelah hanya terkoreksi 4,5 poin (0,09%) ke level 5.083,29. Sebanyak 131 emiten bergerak di zona merah sedangkan nilai transaksi BEI pagi ini mencapai Rp 2,37 triliun.
Pembukaan di zona merah juga dialami dua indeks saham syariah di BEI. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dibuka melemah 0,99 poin (0,6%) ke level 166,34. Tercatat hanya 8 emiten yang bergerak menguat sementara nilai perdagangan mencapai Rp 80,81 miliar.
Berbeda dengan IHSG yang masih berkutat di zona merah, indeks ISSI justru sudah melaju di teritori positif. Indeks ISSI telah menguat 0,25 poin (0,15%) ke level 167,58.
Nilai transaksi perdagangan saham telah mencaai Rp 1,11 triliun dengan 63 efek bergerak menguat.
Hal yang sama terjadi pada indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang dibuka melemah 6,78 poin (0,98%) ke level 683,61. Saat ini indeks JII telah bergerak di zona hijau dengan menguat 1,79 poin (0,25%) ke level 692,12.
Sebanyak 14 emiten unggulan syariah telah melaju di zona positif sementara 14 lainnya mengalami koreksi.
" Selama libur Lebaran kemarin, Indeks dari Bursa di kawasan Asia sebenarnya cenderung menguat di awal minggu. Akan tetapi, Krisis utang yang terjadi di Argentina, telah membuat indeks-indeks utama seperti Hang Seng dan Strait Times terkoreksi di akhir minggu," kata Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo dalam ulasannya.
Satrio menjelaskan, siang ini Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengeluarkan data ekonomi penting seperti neraca perdagangan bulan Juni dan inflasi Juli. " Kedua data ini, sepertinya sentimennya tidak terlalu bagus," katanya.
Neraca perdagangan di Bulan Juni sepertinya bakal defisit meski jumlahnya tidak terlalu besar dengan konsensus defisit sebesar US$ 390 juta. Sementara inflasi Juli konsensusnya juga cukup tinggi 0,89 persen sebagai akibat dari Ramadhan dan Lebaran.
" Selain itu, pembatasan BBM Subsidi yang mulai dilakukan oleh Pemerintah, sepertinya juga turut menyumbang sentimen negatif," katanya.