Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi Ayah Yang Berbincang Dengan Anak Laki-lakinya Yang Sudah Dewasa. (Foto: Www.usnews.com)
Dream – Mengadopsi anak adalah hal lumrah dilakukan di masyarakat, khususnya di negara maju. Biasanya, alasan yang digunakan adalah tidak ada keturunan atau belum punya keturunan.
Yang sering diadopsi adalah anak-anak, mulai dari bayi hingga anak balita.
Tapi, alasan ini tidak berlaku di Jepang. Di sana, sebagian besar yang diadopsi adalah pria dewasa yang berusia 20 tahun-30 tahun, bukan anak-anak.
Dilansir dari Business Insider, Jumat 13 Januari 2017, dalam buku “Freakonomics”, ekonom Steven Levitt dan jurnalis Stephen J. Dubner, mengatakan adopsi pria dewasa ini dipengaruhi oleh tradisi bisnis yang telah berjalan beratus-ratus tahun di mana pengusaha mengadopsi pria dewasa.
Alasannya tentu untuk mengamankan bisnis, kekayaan, dan asetnya sang pewaris. Memang, dalam hukum sipil Jepang, kekayaan keluarga akan diwariskan kepada garis keturunan laki-laki dan yang diutamakan adalah lelaki paling tua.
Dengan cara seperti ini, bisnis yang dijalankan terlihat seperti bisnis keluarga.
© Dream
Bagaimana dengan keluarga yang hanya memiliki anak perempuan?
Keluarga tersebut bisa mengadopsi anak lelaki lewat perjodohan. Mereka mengadopsi anak lelaki dan mengubah marga anak lelaki menjadi nama marga keluarga yang bersangkutan. Atau, mereka juga bisa melakukan perjodohan dan mengubah nama menantu laki-lakinya dengan nama marga keluarga wanita (mukoyoshi).
Dengan begitu, keluarga wanita bisa tetap mengelola aset dan kekayaan si pewaris setelah pewaris meninggal.
Kini, di Jepang, ada perusahaan perjodohan untuk merekrut pria adopsi sukarelawan untuk perusahaan Jepang.
Contoh perusahaan terkenal di Jepang yang merupakan bisnis keluarga karena mukoyoshi adalah Toyota—perusahaan yang dibangun oleh Kiichiro Toyoda pada 1937.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari