Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Sekitar 600 kepala keluarga di empat desa di Probolinggo, Jawa Timur, setiap bulan bayar tagihan listrik hanya dengan singkong, pisang, bebek, ayam dan lainnya. Hal ini berlangsung sejak 2011, ketika pertama kali warga di Desa Andung Biru, Desa Tiril, Desa Sumber Duren, dan Desa Roto menikmati listrik di rumahnya.
Aliran listrik ini berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 40 kiloWatt (kW). Pembangkit ini merupakan bantuan dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).
" Sekitar 1990, desa-desa di sini ketika malam hari gelap gulita, tak ada listrik. Saya bersama warga yang lain berinisiatif membangun PLTMH sendiri, tapi kapasitasnya masih sangat kecil, hanya 16 kW dan hanya mampu melistriki beberapa puluh rumah saja," ujar M. Rosid, warga Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Rabu, 20 Januari 2016.
Seperti dikutip dari kerangan pers PT PGN, Rosid mengungkapkan, pada 2011 PGN bekerjasama dengan Universitas Brawijaya memberikan bantuan satu unit PLTMH kapasitas 40 kW.
Dengan memanfaatkan aliran Sungai Pekalen, listrik yang dihasilkan mampu menerangi 600 rumah di 4 desa.
" Alhamdulillah, malam hari desa-desa di sini jadi terang, anak-anak bisa belajar, keluarga bisa nonton televisi setiap hari," ungkap Rosid.
Ia menambahkan, setiap rumah di 4 desa tersebut terdapat meteran listrik, dan setiap bulannya pemakaian listriknya dicatat oleh petugas koperasi yang dikelolanya bersama beberapa warga lainnya.
" Tapi warga di sini bayar tagihan listriknya tidak pakai uang tunai, tapi menggunakan hasil kebun mereka, bisa bayar pakai singkong, pisang, bahkan ada yang bayar pakai bebek, ayam dan macam-macam," katanya.
Rosid mengatakan, bagi warga desa yang ekonominya masih lemah, tidak perlu bayar listrik alias gratis.
" Warga miskin tak perlu bayar listrik, sekolah dan rumah ibadah juga listriknya gratis. Warga desa banyak terimakasih ke PGN, karena selain diberi pembangkit listrik, PGN juga memberikan bantuan pembangunan sekolah dan rumah ibadah," tutup Rosid.
Kepala Komunikasi Korporat PGN, Irwan Andri Atmanto mengatakan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PGN juga memiliki tanggung jawab bersama-sama pemerintah untuk membantu mensejahterakan rakyat Indonesia.
" Kami senang bisa membantu masyarakat di empat desa di Ponoroggo, sehingga mereka bisa bersama-sama dengan PGN bisa memanfaatkan sumber daya alam di sana untuk menjadi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat, untuk keperluan sehari-hari, maupun meningkatkan perekonomiannya dengan membuka usaha kripik, kue, hingga pengeringan kopi," tandas Irwan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya