Gaji Pegawai Wanita di 2 Profesi Ini Lebih Tinggi dari Pria

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 5 November 2019 19:24
Gaji Pegawai Wanita di 2 Profesi Ini Lebih Tinggi dari Pria
Sektor mana saja?

Dream – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah buruh Indonesia sebesar Rp2,91 juta per bulan. Jika dipisah menurut gender, buruh perempuan mendapatkan bayaran yang lebih sedikit, yaitu Rp2,45 juta per bulan.

“ Sementara untuk laki-laki sebesar Rp3,17 juta,” kata Kepala BPS, Suharyanto, di Jakarta, Selasa 5 November 2019.

Namun, di beberapa sektor, kaum hawa mendapatkan bayaran yang lebih tinggi daripada pria. 

Pada bidang real estate, BPS mencatat pekerja perempuan mendapat bayaran rata-rata Rp4,59 juta, sementara laki-laki hanya Rp3,83 juta.

Bidang lainnya yakni konstruksi. Pekerja wanita dibayar Rp3,86 juta, laki-laki hanya menerima upah Rp2,76 juta.

1 dari 7 halaman

Lulusan SD Dibayar Paling Sedikit, Sarjana Terbanyak

Berdasarkan pendidikan, buruh lulusan SD dibayar Rp1,8 juta per bulan, SMP Rp2,12 juta, dan SMA Rp2,84 juta, SMK Rp2,87 juta. Lalu, lulusan diploma dibayar Rp2,87 juta dan universitas Rp4,58 juta.

“ Buruh berpendidikan universitas menerima upah 2,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan buruh berpendidikan SD," kata dia.

Sektor pekerjaan yang memberikan bayaran tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp4,77 juta, lalu bidang informasi dan komunikasi sebesar Rp4,31 juta.

2 dari 7 halaman

Pegawai Milenial Suka Perusahaan Transparan Soal Gaji, Sampai Sejauh Mana?

Dream – Para pegawai tentu menyukai keterbukaan di tempatnya bekerja. Dengan cara itu mereka bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di perusahaannya tempat menggantungkan masa depan. 

Namun ada kalanya perusahaan tak membagi semua informasi yang terjadi di dalam. Pertimbangannya tentu bermacam-macam dan sudah diperhitungkan sebelyumnya. 

Transparansi di dunia kerja memang telah digaungkan untuk menjadi budaya kerja di perusahaan. Hal ini didorong oleh perubahan struktur dunia kerja tempat karyawan mencari pengetahuan, kejelasan, dan kepercayaan dari yang mempekerjakan mereka.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Jobstreet, Selasa 15 Oktober 2019, teknologi canggih kini memungkinkan kemudahan akses terhadap fakta dan opini yang ada tentang rincian pekerjaan.

 

 

Namun transparansi ini bisa menjadi pisau bermata dua. Menjadi teman atau musuh tergantung seberapa jauh kamu menjalaninya dan menanganinya.

Seperti Sahabat Dream ketahui jika media sosial kini telah membawa transparansi ke ranah yang lebih modern. Karyawan bisa dengan mudah mendokumentasikan dan berbagi informasi rahasia perusahaan lewat smartphone mereka

Di dunia maya kini bertebaran situs situs pekerjaan atau forum diskusi yang menceritakan etika pekerjaan dan budaya perusahaaan. Bahkan ada yang samapi mengungkapkan rincian seperti gaji, tunjangan dan fasilitas yang diterima pegawai.

3 dari 7 halaman

Harus Siap untuk Menangani Secara Profesional

Menghadapi fenomena tersebut, perusahaan harus siap menghadapi skenario dan tindakan budaya etik kerja yang tidak terduga setiap saat atau menghadapi konsekuensi memalukan.

Kamu pasti tahu dengan kejadian yang menimpa masakapai United Airlines. Perusahaan baru-baru ini mengalami kerugian hampir US$1 miliar setelah terjadinya kesalahan manajemen pada peristiwa penerbangan yang terlalu padat.

Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa kejujuran adalah kebijakan terbaik.

Harus dipahami jika dunia kerja kini menghadapi pekerja dari generasi muda (Millenials dan Generasi Z). Mereka biasanya sangat membutuhkan budaya transparansi.

 

Transparansi diklaim bisa meningkatkan keterlibatan karyawan karena dapat mengembangkan pencapaian tujuan dan kepuasan bekerja ketika ada kepercayaan. Yang lebih penting lagi, sama hal nya dengan berita buruk yang menyebar melalui media sosial, transparansi juga bisa menimbulkan dampak positif di tempat kerja melalui reputasi yang baik.

Lalu, seberapa jauh kamu mengembangkan budaya transparansi kerja?

4 dari 7 halaman

Memberikan Informasi Gaji

Salah satu isu khusus yang penting bagi kita semua adalah apakah informasi tentang gaji dan upah harus diberikan secara terbuka atau tidak.

Kerahasian gaji telah menjadi norma umum selama berpuluh-puluh tahun dan kebanyakan dari kita merasa tidak nyaman jika kita diminta untuk mengungkapkan berapa gaji kita.

Kerahasiaan gaji dapat menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan dan karyawan cenderung merasa tidak aman ketika mereka tidak mengerti bagaimana kebijakan gaji pekerjaan mereka.

Karyawan juga merasa kurang dihargai dan penasaran karyawan lainnya dibayar lebih tinggi.

5 dari 7 halaman

Detail Gaji Bisa Motivasi Diri

Di sisi lain, ketika karyawan tahu seberapa mereka layak dan berbagi detail gaji menjadi percakapan sehari-hari di kantor, mereka akan menjadi lebih termotivasi untuk memperbaiki diri untuk menaikan gaji mereka.

Namun, transparansi gaji tidak sesuai dengan semua kebijakan. Perusahaan yang berbeda akan berjalan dengan baik dengan tingkat transparansi gaji yang berbeda pula.

Contohnya, jika kebanyakan karyawan di perusahaan adalah generasi millenial, maka transparansi gaji dapat diterima. Namun budaya ini tidak cocok dengan generasi yang lebih tua karena mereka menganggap sebagai pelanggaran terhadap privasi mereka.

Akan lebih baik jika kamu memulai dengan sedikit demi sedikit daripada langsung melakukan transparansi gaji secara terbuka. Cobalah dengan memulai mengungkapkan cara perhitunagn gaji dan standardisasi pekerjaan ke tingkat tertentu dan mengungkapkan kisaran gaji untuk setiap tingkatannya.

 

6 dari 7 halaman

Menghilangkan Hambatan Komunikasi

Aspek lain yang penting bagi kita semua adalah transparansi dalam komunikasi. Hal ini berlaku untuk semua tingkatan. Transparansi penuh dalam komunikasi lebih rumit karena sangat tergantung dengan siapa kamu akan berurusan.

Contohnya, ketika pemimpin berbagi informasi tentang kunci keputusan terbaru mereka atau kesehatan keuangan perusahaan, karyawan akan merasa lebih terlibat dan dihargai, Hal ini juga dapat meningkatkan produktivitas dan moral kinerja mereka.

Di sisi lain, mengungkapkan terlalu banyak informasi kepada karyawan, khususnya ketika bagaimana tim mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas mereka, akan lebih merugikan kamu.

7 dari 7 halaman

Transparansi Harus Tetap Ada

Pada akhirnya, transparansi harus tetap ada. Ingatlah bahwa sesuatu yang terlalu transparan akan menyebabkan kerugian dan pada saat yang sama terlalu tertutup juga bisa menyebabkan kerugian pula.

 


Jika perusahaan belum siap untuk budaya transparansi yang seutuhnya, mulailah dengan menemukan keseimbangan yang tepat. Membangun dasar kepercayaan yang kuat di tempat kerja, dengan komunikasi yang lebih terbuka untuk mempermudah proses berbagi informasi dan saling mengingatkan.

Sesuaikan budaya kerja yang transparan yang sesuai dengan pekerjaan. Ketika perusahaan siap untuk menerima budaya yang lebih transparan, kamu segera akan menuai hasil positif.(Sah)

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'