Cerita Tragis Venezuela, Negara Kaya yang Berubah Jadi Sengsara

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 24 Agustus 2018 15:30
Cerita Tragis Venezuela, Negara Kaya yang Berubah Jadi Sengsara
Berikut ini fakta-fakta krisis ekonomi parah yang sedang melanda Venezuela

Dream – Nasib tragis yang dialami Venezuela menjadi bukti jika negara kaya tak selamanya bisa selamat dari krisis ekonomi. Ekonomi negara di Amerika Latin itu tengah carut marut. Inflasinya diperkirakan mencapai 1 juta persen pada tahun ini. Uang jutaan bahkan miliaran di negara itu seperti sudah tak berharga. 

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sedang berjuang untuk mengakhiri gejolak ekonomi. Padahal di masa kejayaannya, Venezuela termausk negara kaya. Tanah di dalamnya mengandung banyak minyak. 

Tapi tengoklah kini. Venezuela tengah menderita. Menjadi negara yang miskin uang tunai.

Dilansir dari Sky, Jumat 24 Agustus 2018, pemerintah Venezuela akan menerbitkan uang kertas baru dan memangkas lima digit di uang bolivar—mata uang Venezuela. Tak hanya itu, Maduro akan menerbitkan mata uang cryptocurrency, petro.

Setiap satu petro, akan dihargai sebesar US$60 (Rp878.849). Atau, ada 3.600 bolivar yang ada di mata uang baru ini—ini menandakan ada devaluasi besar-besaran. Pemerintah juga menetapkan upah minimum sebesar setengah petro atau 1.800 bolivar.

Pemerintah Venezuela mengatakan negara tersebut memerlukan disiplin fiskal dan mengurangi pencetakan uang yang berlebihan. Hasilnya, terjadi hiperinflasi. Inflasi ini membuat harga barang ke tingkat astronomi. Saat ini, upah minimum bulanan tidak cukup untuk membeli sekilo daging.

Di tahun keempat resesi, Venezuela sedang berjuang dengan kekurangan bahan pokok dan layanan publik yang lumpuh.

Menurut International Monetary Fund (IMF), inflasi di negara tersebut mencapai 1 juta persen tahun ini. Walaupun demikian, Maduro menyebut pemerintah akan belajar sambil berjalan untuk redenominasi mata uang.

Maduro sempat menuding jika krisis yang melanda negaranya disebabkan skenario oposisi dan sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat. Namun pemerintah mengaku akan menjalankan kebijakan redenominasi.

 

1 dari 3 halaman

Dulunya Raja Minyak

Sekadar informasi, minyak menyumbang 96 persen dari pendapatan Venezuela. Tapi, kini produksi minyak Venezuela merosot ke level terendah menjadi 1,4 juta barel per hari. Padahal, produksinya sempat menyentuh level tertinggi di 3,2 juta barel per hari.

Uang Venezuela disulap jadi kerajinan.

Defisit fiskal Venezuela hampir 20 persen dari PDB dan “ berjuang” dari utang luar negeri yang mencapai US$150 miliar (Rp2.197,17 triliun).

Pemerintah menepis kritik terhadap reformasi ekonomi. Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez, mengatakan pendapatan minyak dan kenaikan harga BBM bisa mendanai program-program pemerintahan.

 

2 dari 3 halaman

Tiru Brasil

Namun, para analis skeptis dan khawatir langkah itu bisa memperburuk keadaan. Kondisi ini akan menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan.

“ Akan ada banyak kebingungan dalam beberapa hari ke depan bagi konsumen dan sektor swasta,” kata Direktur Konsultan Ecoanalitica, Asdrubal Oliveros.

Kisah Pilu Mantan Miss Venezuela, Meninggal Sebagai Tunawisma

Oliveros juga mengatakan hiperinflasi ini akan membuat kekacauan lagi jika tidak segera diatasi.

Situs rating cryptocurrency, ICOindex.com, telah melabeli petro sebagai scam alias penipuan. Amerika Serikat sendiri melarang warganya untuk berdagang di sana.

 

3 dari 3 halaman

Dampaknya ke Negara Tetangga

Pakar ekonomi, Jean Paul Leidenz, menyebut Venezuela sedang mencoba untuk meniru Brasil. Negara Samba ini menggantikan mata uang lamanya, cruizero, pada 1990-an. Hal ini dilakukan karena ada hiperinflasi.

Leidenz meragukan Venezuela akan berhasil mengikuti jejak Brazil. Sebab, Karakas tidak disiplin dalam keuangan dan ada kelangkaan pembiayaan.

Krisis keuangan Venezuela ini juga berdampak kepada negara tetangga. Ribuan masyarakat Venezuela terbang ke Peru, Ekuador, dan Kolombia untuk melarikan diri dari krisis di tanah air mereka.

Mata Uang Ambruk, Sepotong Ayam Dijual Rp14 Juta, Tisu Toilet Rp2,6 Juta

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat ada 2,3 juta orang Venezuela yang meninggalkan negaranya sejak 2014.

Juru bicara PBB untuk masalah pengungsi, William Spindler, mengatakan eksodus ini sebagai salah satu perpindahan orang Amerika Latin terbesar sepanjang sejarah. Misalnya, selama dua tahun, ada satu juta orang Venezuela yang tiba di Kolombia dan 500 ribu di Ekuador sejak Januari 2018.

 

Beri Komentar