Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui hingga saat ini masih terdapat tantangan dalam pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Setidaknya ada empat tantangan yang masih harus dihadapi.
" Empat tantangan utama industri keuangan syariah kita," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad di Jakarta, Selasa, 13 Juni 2017.
Tantangan pertama, kata Muliaman, kapasitas kelembagaan yang belum kompetitif dan efisien. Beberapa masalah di antaranya seperti dukungan permodalan dan jaringan yang terbatas, rendahnya penggunaan teknologi, serta kapasitas SDM yang belum merata.
Tantangan kedua yaitu masih terbatasnya jenis dan akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Muliaman mengatakan telah menjadi pemahaman umum, produk dan jasa keuangan syariah belum dapat menyediakan kenyamanan dan kecanggihan, seperti halnya yang diberikan industri keuangan konvensional.
" Akan sulit kita menjawab kebutuhan dari masyarakat kelas menengah yang terus tumbuh dengan cepat," kata dia.
Tantangan yang ketiga adalah market share keuangan syariah yang masih kecil. Per Maret 2017, total aset keuangan syariah Indonesia di luar saham syariah mencapai Rp967,9 triliun, yang masih didominasi sektor perbankan syariah sebanyak hampir 50 persen.

Muliaman mengatakan, kondisi ini tidak menunjukkan perubahan. Padahal, beberapa produk keuangan syariah memiliki market share lebih dari 5 persen secara individu, seperti perbankan syariah 5,29 persen, pembiayaan syariah 7,27 persen dan sukuk negara 16,96 persen.
" Namun, market share secara total aset keuangan syariah, masih di bawah 5 persen dari keseluruhan aset keuangan kita," kata dia.

Muliaman mengatakan tantangan yang terakhir adalah literasi keuangan syariah masyarakat yang masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 menunjukkan Indeks Literasi Keuangan Syariah 2016 baru mencapai 8,11 persen.
" Saya menyadari ini bukan tantangan yang mudah untuk kita selesaikan dan membutuhkan waktu yang berkelanjutan," kata dia.
Muliaman pun mengajak masyarakat melihat potensi perkembangan yang begitu besar. Contohnya seperti jumlah kelas menengah terus bertumbuh, penduduk Muslim yang besar, peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi investment grade, prospek ekonomi global dan domestik yang lebih baik serta regulatory regime yang kondusif.
" Semua ini akan menjadi potensi yang besar bagi keuangan syariah apabila tantangan-tantangan tadi dapat kita sikapi dengan baik," kata dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya