Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Muliaman D Hadad Saat Buka Bersama Media (Dream.co.id/Arie D Budiawati)
Dream - Masa jabatan dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah pimpinan Muliaman D. Hadad, akan segera berakhir. Nantinya, otoritas ini akan dipimpin oleh Wimboh Santoso untuk periode 2017-2022.
Dalam acara buka puasa bersama media, Muliaman berkisah tentang pengalamannya menjabat sebagai pimpinan OJK. Dia berkata otoritas ini dibentuk tahun 2011, namun dewan komisionernya baru ada tahun 2012.
Selama lima tahun menjabat, ada banyak hal yang berkesan baginya. Salah satunya adalah pembayaran gaji yang telat hingga tiga bulan.
" Gaji dewan komisioner, kalau nggak salah, tiga bulan pertama nggak dibayar, tapi dirapel," kata Muliaman di Jakarta, Senin 12 Juni 2017.
Selain itu, dia juga harus membenahi OJK, termasuk aturan. Muliaman mengaku peraturan pertama yang dibuat OJK adalah aturan tata cara rapat.
" Dulu, belum ada POJK. POJK yang pertama adalah tata tertib rapat, seperti bagaimana rapat diselenggarakan," kata dia.
Muliaman juga mengatakan bahwa tahun awal OJK berdiri, otoritas keuangan ini belum punya gedung sendiri. Dia berkata bahwa gedung OJK masih terpisah, misalnya bagian pengawasan perbankan ada di kompleks BI serta bagian pasar modal dan industi keuangan non perbankan (IKNB) ada di daerah Lapangan Banteng. Bahkan, OJK sempat menyewa kantor di Gedung Bidakara, Jakarta.
" Kami pindah-pindah gedung. Dulu di BI lantai 25, terus pindah ke Bidakara. Kami belum punya kantor pusat," kata dia.
Muliaman melanjutkan, pada awal berdiri, OJK belum punya infrastruktur pendukung. Mereka mendapatkan bantuan dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Untuk sumber daya manusianya, OJK punya 1.200 orang dari BI dan 400 orang dari Kementerian Keuangan.
Kini, dia bisa berbangga hati. Selain jumlah karyawan meningkat menjadi 4 ribu karyawan, instansi pemerintah ini juga diminati banyak orang. Hal ini terlihat dari 120 ribu orang pelamar yang bersaing untuk memperebutkan 400 posisi di OJK.
" Dulu, fokus utama kami di kantor cabang adalah pengawasan perbankan. Kini, sudah 'berwarna'. Ada edukasi, pasar modal, dan lain-lain. Intinya, perjalanan panjang," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya