Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - William Henley, founder IndoSterling Capital menyatakan saat ini Indonesia menjadi negara dengan perkembangan kelas menengah terbesar di dunia. Jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami perkembangan pesat setelah krisis moneter 1997/1998. Bank Dunia mencatat pertumbuhan kelas menengah dari nol persen pada tahun 1999 menjadi 6,5 persen pada tahun 2011 menjadi 130 juta jiwa.
" Diperkirakan juga angka tersebut bakal meningkat menjadi 141 juta pada 2030,'' ujar lelaki yang aktif dalam bisnis teknologi digital dalam keterangan persnya, Senin, 13 April 2015.
William menilai pertumbuhan kelas menengah ini ternyata yang mendorong tumbuhnya pengguna sosial media di negeri ini. Dia menyebutkan hingga kini Indonesia tercatat sebagai pengguna aktif terbanyak untuk Twitter dan Facebook.
Dari total pengguna aktif Twitter secara global sebanyak 284 juta, Indonesia menyumbang angka 50 juta atau hampir 18 persen. Sementara pengguna aktif Facebook di Indonesia mencapai sekitar 60 juta dan ada di peringkat keempat setelah Amerika Serikat, India, dan Brasil.
Melihat potensi tersebut, lanjut William, pemerintah harus mampu memberdayakannya, terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Jika tidak dapat dimaksimalkan maka hadirnya era MEA pada penghujung tahun nanti hanya akan menjadi pasar menggiurkan bagi produk-produk impor yang membanjiri negeri ini.
''Pasar yang besar ini tentu sangat menarik. Namun pasar yang besar ini juga menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Indonesia. Jika tidak tertangani dengan baik maka pasar besar Indonesia ini justru akan menggerogoti perekonomian Indonesia,'' jelasnya.
''Jika hanya menjadi pasar “ jajahan”, sudah pasti pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia tidak akan berkesinambungan. Industri tidak tumbuh, tenaga kerja tidak terserap, hingga minimnya devisa ke kas negara,'' tambahnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya