Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (http://scoopempire.com/)
Dream - Suatu hal yang menyenangkan jika seorang teman atau sahabat bisa dijadikan rekan bisnis. Pasalnya, mereka adalah orang terdekat yang mengenal karakter kita. Namun, tidak jarang seseorang memilih untuk berteman saja karena khawatir hubungan yang terjalin begitu lama hancur. Ya, masalah uang sering menyebabkan konflik tentunya.
Genta Mahardika, konsultan bisnis dari Eureka Consultant menilai suatu hal yang baik untuk berbisnis bersama teman, terutama bagi pengusaha muda yang belum memiliki pengalaman.
" Untuk wirausaha muda yang mau bareng teman-temannya ada beberapa keunggulan dan tantangan. Kalau keunggulannya, bisa bareng-barang belajar, kalau pas sukses, bisa bareng-bareng sukses," ujarnya kepada Dream.co.id, Selasa 24 Maret 2015.
Namun, lanjut Genta, ada tantangan tersendiri berbisnis dengan teman, yaitu proses penyatuan pendapat. Apalagi, hubungan teman ini merupakan hubungan yang memiliki status setara.
" Susahnya adalah menyatukan pendapat dan menetukan peran masing-masing. Ujung-ujungnya bisa merusak pertemanan," ungkapnya.
Lalu, bagaimana menyiasatinya? Genta menyatakan dalam berbisnis bersama teman, tetap diperlukan orang yang dominan dari sisi kepemilikan saham sehingga dia bisa dijadikan penentu dalam pengambilan keputusan.
" Ada satu orang yang secara saham memiliki lebih dari 50%. Jadi dia memiliki hak veto kalau ada masalah dan semua menghormati. Yang menjadi pemimpin sudah pasti yang mesti dipercaya oleh yang lain bisa mengambil keputusan yang baik," jelasnya.
" Memang masih berpotensi ribut. Jadi lebih enak memang sama orang yang benar-benar sahabat kita, yang benar-benar mau satu komando. Kalau tidak bisa melewati fase ini, mungkin lebih enak jadi teman saja," tambahnya.
Genta menilai untuk pembagian keuntungan bisa ditentukan sesuai kesepakatan. Setiap hal bisa menjadi modal untuk bisa dikatakan memiliki saham dalam bisnis tersebut, seperti kehalian, ide, uang, waktu, tenaga.
" Nanti proporsinya disepakati bersama dengan peran masing-masing dan jelas porsinya akan beda. Ide tanpa eksekusi tidak jalan, eksekusi tanpa ide maka tidak akan jelas. Jadi, orang yang memiliki ide dan bisa mengeksekusi dihargai lebih dibanding yang hanya salah satunya saja," tandas Genta. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya