Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bir Syariah Bukti Prospek Cerah Bisnis Halal

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 21 November 2014 11:32
Bir Syariah Bukti Prospek Cerah Bisnis Halal
Semakin banyaknya peminum bir syariah, minuman tanpa alkohol, menjadi tanda kecil prospek cerah industri keuangan syariah.

Dream - Delapan tahun yang lalu, Taleb Mohammad Almahmoud mulai memberanikan diri mengimpor bir non-alokohol yang populer di Timur Tengah ke Malaysia. Siapa sangka, kini lebih dari 300 ribu botol bir halal Barbican dari Dubai sudah masuk ke negeri jiran setiap bulannya.

" Banyak orang Arab di sini dan mereka suka minum karena tak mengandung alkohol," kata pria kelahiran Suriah, Taleb. " Orang Malaysia juga menyukainya."

Popularitas produk halal seperti Barbican yang memenuhi prinsip Islami telah mendorong kenaikan indeks emiten makanan halal SAMI (SAMI Halal Food Index) sebesar 4,6 persen.

Kenaikan ini mengalahkan indeks Bloomberg World Food Index yang cuma naik 0,2 persen.

Tak hanya di sektor riil, ekspansi industri halal juga ikut menjalar ke pasar surat utang. Lembaga Malaysia International Islamic Financial Center (MIIFC) memperkirakan perusahaan-perusahaan yang menjalankan bisnis halal di bidang makanan, pakaian, wisata, dan kesehatan telah menjual tak kurang US$ 5 miliar surat utang syariah atau sukuk.

Outlook industri halal dunia bernilai US$ 2 triliun, termasuk bisnis pakaian dan entertainment, selama ini disokong populasi masyarakat muslim dunia. Pew Research mencetat pertumbuhan umat muslim naik dua kali lipat dibandingkan penganut atheis hingga 2030.

Tak heran dengan kondisi demografis tersebut membuat raksasa makanan asal Swiss, Nestle SA yang bergerak di bisnis makanan mie dan sereal begitu terpikat.

" Halal dan industri raksasa dan pertumbuhannya sangat masif," kata direktur lembaga konsultan keuangan Islami, Amanie Advisors Pty Ltd, Baiza Bain.

Menurut Bain, perusahaan-perusahaan semakin yakin untuk mengadopsi kebijakan inklusif yang akan membuat pangsa pasarnya semakin luar.

Untuk diketahui, masyarakat muslim dunia diperkirakan bakal menghabiskan US$ 2,47 triliun untuk belanja barang dan jasa halal pada 2018. Kondisi ini naik 52 persen dibandingkan posisi 2012 berdasarkan data MIFC.

" Hubungan antara keuangan syariah dan industri halal adalah saling menguntungkan," kata MIFC dalam laporannya seperti dikutip Dream dari laman Bloomberg.com, Jumat, 21 November 2014.

Nestle (Malaysia) Bhd telah mengekspor produknya ke 50 negara di dunia. Kini perusahaan bahkan akan mengirim produknya ke pasar Eropa dan Amerika Selatan. (Ism)

Beri Komentar