Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Christine Lagerde mengatakan, negara-negara di kawasan Asia dapat mengandalkan inovasi dalam sektor keuangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, sektor keuangan Asia didukung oleh level pertumbuhan yang luar biasa dan punya kemampuan mempertahankan stabilitasnya dalam gejolak yang begitu cepat.
" Meski demikian, sektor keuangan tetap butuh belajar khususnya dari sektor manufaktur yang secara terus menerus berubah mengikuti nilai tambah produk yang lebih tinggi serta proses pembiayaan yang semakin efektif," ujar Christine Lagerde dalam Konferensi Kerjasama IMF dan Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Rabu 2 September 2015.
Ia melanjutkan, bicara mengenai pendalaman sektor keuangan di beberapa negara berarti juga mesti mengubah pandangan lama mengenai transaksi perbankan. Dari praktik perbankan tradisional yang fokus pada pengambilan deposit dan pinjaman komersil kepada perusahaan.
" Pembiayaan yang lebih dalam (deeper financial) dapat menolong Asia mendapat keuntungan berupa kesempatan adanya kesempatan perdagangan baru, mendorong produktivitas, meningkatkan jumlah tenaga kerja, dan mendukung pendewasaan di sektor-sektor lain," tambahnya.
Bagi konsumen, kata Lagarde, model layanan keuangan baru dapat menyediakan berbagai kemudahan seperti pembayaran otomatis, produk asuransi dan pensiun, sebagaimana sudah diterapkan di Singapura.
Sedangkan bagi pebisnis, inovasi memang berarti sebuah resiko atas modal start up dan kesamaan pendanaan untuk memperluas perusahaan. Hal itu dapat pula menambah peran surat utang dan pasar saham, serta memungkinkan investor untuk melakukan pembiayaan jangka panjang.
Lagarde menegaskan, melalui inovasi sektor keuangan ini ia tak bermaksud mengusulkan model pembiayaan yang beresiko. Menurutnya, sistem deeper financial justru dapat menjadi pelindung dari volatilitas. " Tapi syaratnya, harus ada sistem regulasi keuangan yang baik," ungkapnya.
" Artinya, masih ada sisa-sisa risiko yang mesti dicegah, seperti praktik shadow banking misalnya," tutup Lagarde.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya