Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo membuka konferensi kerjasama antara International Monetary Fund (IMF) dan BI di kantornya, Rabu, 2 September 2015.
Dalam konferensi yang bertema Future of Asia's Finance: Financing for Development 2015, Agus mengatakan dampak gejolak ekonomi global tak bisa ditampik oleh Indonesia.
Seperti penguatan dolar Amerika Setikat dan rencana The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga, menurunnya harga berbagai komoditas, serta keputusan Tiongkok untuk mendevaluasi mata uangnya demi mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negerinya.
Akibatnya, mulai Juli lalu, perekonomian Asia termasuk Indonesia melemah. Padahal, selama 30 tahun Indonesia cukup tangguh memimpin pertumbuhan global.
" Kondisi sekarang terjadi kerentanan pada pasar keuangan. Ini tentunya harus dapat diatasi dengan kebijakan yang tepat. Stabilitas pertumbuhan menjadi seakan-akan sebuah keharusan. Ekonomi yang moderat dirasa sangat krusial untuk terus melaju," ujar Agus.
BI sendiri, lanjutnya, selama ini senantiasa melaksanakan tugas untuk menjaga kebijakan moneter di tengah perlambatan ekonomi. Seperti melakukan perbaikan defisit transaksi berjalan, neraca perdagangan yang surplus dan menargetkan inflasi 4 plus minus 1 pada 2015.
" Stabilitas sektor keuangan harus dijaga dalam kondisi yang solid. Baik melalui sistem perbankan dan pasar keuangan. Untuk mendukung stabilitas itu, BI setia dengan kebijakan makro prudensial," ungkapnya.
Selain itu, BI juga berkomitmen untuk terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya