Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Dominasi Migas Negara Muslim Terancam

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 21 Agustus 2014 13:15
Dominasi Migas Negara Muslim Terancam
Negara teluk dan Arab yang selama ini mendominasi bisnis Migas dunia pelan-pelan mulai pudar

Dream - Negara produsen minyak mentah di jazirah Arab harus mulai waspada. Maraknya perang, saksi ekonomi, dan nasionalisasi telah membuat korporasi besar tak segan hengkang dari Timur Tengah.

Sejumlah perusahaan Minyak dan Gas Bumi (Migas) saat ini dilaporkan secara bertahap, mulai mengurangi ketergantungannya pada Timur Tengah.

Mengutip laman Islam.ru, Kamis, 21 Agustus 2014, negara-negara teluk dan Arab memang masih memiliki cadangan minyak raksasa dan ladang minyak superbesar di dunia. Secara geologis, kawasan ini bahkan memiliki areal paling diminati di sektor Migas.

Namun meningkatnya iklim politis telah memaksa perusahaan Migas untuk mencari cadangan baru di belahan bumi lain. Negara dengan geologis lebih tangguh dan kondisi politik lebih stabil menjadi incarannya.

Upaya diversifikasi bisnis dengan hengkang dari Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tingginya harga minyak dunia, seiring konflik yang terus menyebar sejak 2011.

Peran wilayah Teluk dalam percaturan bisnis Migas dunia baik dari segi produksi maupun cadangan devisa, telah mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2013, BP Statistical Review of World Energu mencatat, negara teluk dan Arab saat ini menguasai 33 persen produksi Migas dunia dan 17 persen dalam bentuk gas.

Tingkat penguasaan ini terus bergerak flat dalam tiga tahun terakhir, setelah melonjak tajam di pertengahan 1980-an.

Berkurangnya peran negara Timur Tengah bahkan terlihat dari segi cadangan Migas yang merupakan gambaran masa depan produksi sebuah negara.

Di sisi lain, produsen Migas di luar Timur Tengah justru mencatat peningkatan cadangan Migas lebih tinggi. Antara 1993-2013, produsen minyak dunia rata-rata mencatat pertumbuhan rata-rata 4,2 persen, jauh lebih tinggi dari kondisi Timur Tengah yang hanya 1 persen.

Dalam periode yang sama, produsen gas mencatat pertumbuhan cadangan rata-rata sebesar 1,8 persen. Meski tumbuh lebih tinggi 3 persen, produksi gas negara Arab relatif berjalan lamban beberapa tahun terakhir.

Produsen Migas Timur Tengah dianggap merupakan pendatang baru yang terlambat hadir dalam industri Migas dunia. Bahkan dominasinya dalam produksi global relatif hanya fenomena baru-baru saja.

Selama lima dekade pertama abad 20, produksi minyak dunia didominasi negara-negara seperti Amerika Serikat, Meksiko, Venezuela, Rumania, Rusia, Malaysia, dan Indonesia.

Temuan cadangan Migas pertama di dunia Arab baru ditemukan pada 1908 di Persia, dilanjutkan Irak pada 1927, Bahrain 1932, Kuwait 1937, ARab Saudi 1938, Uni Emirat Arab 1954, dan Oman 1962. Sekitar era 1940-an, Timur Tengah masih menjadi produsen Migas kecil dalam percaturan bisnis dunia.

Kehadiran Migas dari kawasan Teluk dan Arab baru diperhitungkan antara tahun 1940 hingga 1960-an. Hal inipun dipicu oleh peran perusahaan Migas multinasional yang mampu mengangkat produksi emas hitam dari negara-negara Arab.

Namun pelan-pelan, peran industri Migas Arab mulai berkurang seiring makin banyaknya program nasionalisasi. Ditambah lagi kondisi sosial politik di kawasan ini relatif rapuh.

Alhasil, negara-negara Arab diluar Arab Saudi, Qatar, dan UAE, mencetak produksi Migas tanpa pertumbuhan berarti. Apalagi, penutupan akses perusahaan multinasional kini semakin memicu beralihnya cengkeraman bisnis Migas dari kawasan Jazirah Arab. (Ism)

Beri Komentar