Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Ekonom Faisal Basri menilai surplus perdagangan yang sudah dialami Indonesia dalam sembilan bulan terkahir bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Pasalnya, surplus terjadi bukan karena bertambahnya barang yang diekspor ke luar, tetapi karena berkurangnya impor.
" Hal tersebut tidak dapat dinilai sebuah prestasi mengingat surplus tersebut akibat impor yang berkurang khususnya minyak mentah dan produk minyak," ujar Faisal dalam diskusi ekonomi pekan ini.
Faisal berharap paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dapat segera direalisasikan mengingat begitu banyak perpres dan inpres yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaannya.
Namun, untuk penanganan pelemahan nilai tukar rupiah, Faisal menilai perlunya langkah cepat yang dilakukan pemerintah.
" Seperti sosialisasi terhadap para eksportir dan importir ke Tiongkok bahwa hingga tahun 2016 tidak perlu menggunakan dolar Amerika, yang sayangnya tidak ada dalam kebijakan yang dikeluarkan," ungkapnya.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan pengamat ekonomi David Sumual. Menurutnya, pelemahan nilai rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kebijakkan yang dikeluarkan pemerintah sering kurang tepat, atau terlambat.
" Pemerintah seharusnya lebih fokus ke debirokratisasi agar birokrasi lebih ramping dan efisien. Birokrasi yang terlalu besar akan membuat kebijakkan yang dikeluarkan bertentangan dengan keinginan dunia usaha," jelas David.
Sementara itu, pengamat ekonomi INDEF, Fadhil Hasan menyatakan paket kebijakan ekonomi Jokowi sulit diimplementasikan secara cepat mengingat masih rendahnya koordinasi antarkementerian.
Seharusnya, lanjutnya, Jokowi mengeluarkan kebijakan yang langsung dirasakan dan dibutuhkan pengusaha. Misalnya, penghapusan pajak yang agresif. Fadhil menilai aturan tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya